
Rasanya semua makanan di meja makan, yang tadinya begitu membuat Deanda begitu bernafsu, tiba-tiba saja membuat Deanda bergidik dan langsung kehilangan nafsu makannya.
Ba... bagaimana yang mulia bisa tahu tentang rencanaku? Bagaimana caraku mencari alibi kali ini? Apa yang harus aku katakan agar yang mulia percaya bukan aku pelakunya?
Avitus berkata dalam hati dengan wajah yang terlihat begitu pucat karena tahu bahwa kali ini dia tidak akan bisa melarikan diri.
Sebuah suara bel dari arah pintu membuat Erich bergerak cepat menuju pintu penthouse milik Alvero, dan membukakan pintunya. Begitu pintu dibuka sosok Evan masuk dengan langkah-langkah terlihat begitu elegan.
"Selamat siang Yang Mulia, Permaisuri...." Evan langsung memberikan sapaan sekaligus salam penghormatan kepada Alvero dan Deanda.
Begitu Alvero memberikan tanda bahwa dia menerima salam penghormatan dari Evan, laki-laki tampan berambut pirang dengan mata hijaunya yang indah itu langsung mendekat ke arah Alvero, dan menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat, dimana di dalamnya terdapat surat pengunduran diri dari Avitus yang rencananya akan dia serahkan siang ini, sebelum dia melarikan diri dari kota Tavisha.
Awalnya Avitus berharap setelah berhasil melakukan tugasnya mencampur Cassoulet itu dengan racun, dan membuat Deanda keracunan, dia segera memberikan surat pengunduran diri, dan pergi sejauh mungkin dari kota Tavisha sehingga bisa menghindar dari penyelidikan Alvero. Apalagi Eliana sudah menjanjikan sebuah tempat persembunyian yang aman, yang tidak mungkin bisa ditemukan oleh Alvero.
Jika saja semua berjalan sesuai rencana, Avitus akan bersembunyi sementara waktu sampai Eliana memberinya kesempatan untuk melarikan diri ke luar negeri. Dan dia bisa kembali ke Gracetian setelah Eliana berhasil menggulingkan pemerintahan keluarga Adalvino dari kerajaan Gracetian.
__ADS_1
Akan tetapi, semua rencana Avitus tampaknya gagal total karena apa yang dilakukannya sudah diketahui terlebih dahulu oleh Alvero dan yang lain.
"Saya menemukan bukti berupa surat pengunduran diri milik tuan Avitus yang tergeletak di mejanya. Dan juga bukti transfer sejumlah besar uang dari salah satu nomer rekening yang menurut info dari bank, dimiliki oleh orang dalam istana. Selain itu, saya juga menemukan ini Yang Mulia." Evan berkata sambil tangannya yang mengenakan sarung tangan mengangkat sebuah plastik berisi sebuah botol kaca kecil berwarna coklat.
Di dalam botol itu terdapat sedikit serbuk di dalamnya, dan dari yang terlihat, sebagian dari isi botol itu sudah digunakan, sehingga hanya meninggalkan sedikit sisa.
Melihat apa yang dipegang oleh Evan, wajah Avitus semakin pucat, sedang Alvero langsung mengernyitkan dahinya.
"Saya menemukan botol ini di tempat sampah yang ada di ruangan tuan Avitus, berada diantara sampah-sampah kertas yang berasal dari mesin penghancur kertas, yang sepertinya sengaja dibuang di tempat sampah untuk menyembunyikan racun arsenik ini." Evan berkata sambil menatap tajam ke arah Avitus dengan padangan mata yang terlihat marah, karena sudah berani meletakkan racun menu makan siang Alvero dan Deanda.
Racun arsenik yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan dampak berbeda-beda, tergantung dosis dan jangka waktu paparannya. Paparan arsenik dalam kadar yang sangat rendah mungkin tidak berdampak serius pada kesehatan. Namun bila paparannya dalam jumlah sedang atau besar, dapat terjadi keracunan arsenik. Berikut adalah gejalanya: Gangguan pencernaan, seperti nyeri perut, mual, muntah, dan diare, kram otot, gangguan pada otak, seperti sakit kepala, kejang, delirium, dan koma, sesak napas, detak jantung tidak teratur, kesemutan di jari tangan dan kaki, kulit merah dan bengkak, urin berwarna gelap atau kehitaman, napas dan urine beraroma bawang putih, dehidrasi. Jika tidak segera mendapat pertolongan, keracunan arsenik dapat menyebabkan kematian. Pada ibu hamil, keracunan arsenik dapat menyebabkan bayi yang dikandungnya meninggal, atau lahir dalam keadaan cacat. Seseorang yang terus-menerus terpapar racun arsenik dengan dosis rendah hingga sedang, dalam jangka waktu yang lama, dapat menunjukkan gejala berupa: kulit menjadi kemerahan atau lebih gelap, munculnya benjolan di kulit yang menyerupai kutil, pembengkakan pada kulit, munculnya garis-garis putih pada kuku jari, kerusakan jantung, hati, ginjal, dan saraf. Dari sejumlah studi, dilaporkan bahwa orang yang lama terpapar racun arsenik dalam dosis sedang juga berisiko mengalami komplikasi, seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker).
Bagaimana orang yang telah dipercaya selama puluhan tahun sejak masa kepemimpinan raja Vincent bisa berkhianat seperti tuan Avitus? Benar-benar sungguh disayangkan, sekaligus sungguh kurang ajar sekali melakukan hal sehina itu.
Evan berkata dalam hati, untuk kemudian kembali memandang ke arah Alvero yang dari bahasa tubuh Alvero, menunjukkan dia begitu marah saat ini. Dari kepalan tangannya, Evan bisa menebak bahwa saat ini Alvero sedang berusaha keras mengendalikan dirinya untuk tidak memukul dan menghancurkan wajah Avitus dengan tinjunya.
__ADS_1
Yang Mulia Alvero terlihat begitu marah. Apa dia marah karena mengkhawatirkan Deanda? Setelah beberapa lama bersama, apakah yang mulia sekarang memiliki perasaan lebih kepada Deanda? Atau marah karena jika terjadi sesuatu pada Deanda akan mencoreng wajahnya sebagai raja yang tidak becus menjaga permaisurinya? Apa itu artinya yang mulia sekarang sudah benar-benar menganggap Deanda sebagai istri yang sesungguhnya?
Evan berkata dalam hati, berusaha menebak isi hati Alvero terhadap Deanda.
"Erich! Bawa Avitus ke tempat yang sudah seharusnya! Setelah makan siang aku sendiri yang akan melakukan interogasi padanya!" Alvero memberikan perintah kepada Erich yang langsung mencekal kedua tangan Avitus di punggungnya dan menyeretnya keluar, membawanya ke arah tempat khusus yang ada di salah satu sisi istana Gracetian, dimana di sana ada sebuah bangunan bawah tanah milik keluarga Adalvino yang biasa dilakukan untuk melakukan interogasi para penjahat, tawanan, ataupun orang-orang yang dianggap sudah melakukan kesalahan terhadap anggota keluarga kerajaan, terutama keluarga Adalvino.
"Duke Evan, salah seorang informanku di istana memang tadi memberiku info bahwa salah satu pelayan istana terlihat mencurigakan saat menyiapkan makan siang untukku dan permaisuri. Dan ternyata memang sepertinya ada orang yang sudah memberi perintah kepada Avitus, berniat memberikan racun di salah satu menu makan siang kami." Evan menarik nafas panjang mendengar perkataan Alvero.
Evan baru saja datang di kota Tavisha untuk pulang ke rumah. Sengaja mengambil cutinya karena berencana mengantar mamanya menghadiri pernikahan saudara sepupunya nanti malam.
Belum ada 10 menit berlalu sejak Evan tiba di rumah, ketika panggilan telepon dari Erich mengatakan bahwa Alvero memberinya perintah kepadanya, untuk segera melakukan penggeledahan pada ruang kerja Avitus dan menemukan sesuatu yang mencurigakan.
"Yang Mulia, kira-kira siapa yang berniat meracuni Yang Mulia Alvero? Apakah Yang Mulia mencurigai seseorang?" Evan bertanya sambil mengernyitkan alisnya, mencoba ikut menebak siapa yang berani melakukan itu kepada Alvero, walaupun sebenarnya nama Eliana adalah satu-satunya nama yang ada di pikirannya sekarang.
Tapi sebagai seseorang yang selalu diajarkan untuk bertindak adil, tentu saja Evan tidak berani asal menuduh jika belum ada bukti kuat tentang apa yang dicurigainya.
__ADS_1
"Sebenarnya sasaran orang yang menyuruh Avitus bukan aku, tapi permaisuri Deanda." Kata-kata Alvero sukses membuat Evan langsung mengarahkan pandangan mata hijaunya ke arah Deanda dengan wajah dan tatapan mata yang terlihat begitu khawatir.