
"Mama bebas melakukan apapun untuk menghancurkan kak Alvero! Tapi jangan berani menyentuh seujung rambutpun calon permaisuriku! Atau aku akan menghancurkan impian Mama juga! Dan aku juga akan membunuh setiap orang yang berani coba-coba menyakiti Deanda, siapapun orang itu!" Dion berkata dengan kilatan mata marah terlihat jelas di matanya, membuat kepala Eliana merasa pening, melihat bagaimana obsesi Dion kepada Deanda yang dirasanya semakin hari semakin besra dan semakin parah.
"Baik, mama akan mempertimbangkan itu. Meskipun mama berharap lebih baik mulai sekarang kamu memikirkan perempuan lain sebagai calon permaisurimu kelak." Pada akhirnya Eliana mencoba menjawab perkataan Dion dengan nada suara yang dia berusaha dia ucapkan dengan nada senormal mungkin agar tidak lagi memancing amarah Dion.
"Tidak ada wanita lain bagiku! Aku hanya menginginkannya! " Dion berkata dengan nada ketus.
Perilaku anakku ini benar-benar mirip papanya! Jika sudah mencintai seorang wanita, akan menjadi gelap mata dan tidak perduli dengan yang lain. Sepertinya dengan hati-hati aku harus mulai menyingkirkan Deanda tanpa diketahui oleh Dion, jika tidak ingin semua rencanaku hancur karena Dion yang begitu terobsesi pada Deanda. Melihat bagaimana sikap Dion terhadap Deanda, aku khawatir jika disuruh mencium telapak kaki Deanda, bisa-bisa Dion bersedia melakukan itu. Itu akan sangat berbahaya bagiku.
Eliana berkata dalam hati sambil berusaha bersikap normal kembali, untuk meredakan emosi Dion.
"Tenang nak, mama akan selalu mendukungmu. Kita hanya perlu menyingkirkan Alvero. Dan foto-foto itu akan banyak membantu untuk mencapai tujuan kita. Toh, jika Alvero bercerai dengan Deanda, berarti kamu bisa mendapatkan kesempatan emas untuk bisa segera menikahinya. Dengan statusnya sebagai mantan permaisuri Gracetian, tidak akan ada laki-laki yang berani menikahinya kecuali seorang duke atau pangeran Adalvino yang lain." Dion langsung menarik nafas panjang begitu mendengar perkataan dari Eliana.
Mau tidak mau, Dion harus mengakui apa yang dikatakan oleh mamanya adalah benar. Jika Alvero dan Deanda bercerai, sebagai mantan istri seorang raja Gracetian, hanya tiga orang di negara Gracetian yang karena status tingginya diperbolehkan untuk menikahi Deanda kembali, duke Evan (karena duke yang lain sudah menikah atau masih kanak-kanak), pangeran Enzo Adalvino, dan dia sendiri, yang juga seorang pangeran Adalvino.
Jika tidak diantara mereka bertiga, tidak akan ada laki-laki lain di Gracetian ini yang diijinkan untuk menikahi mantan istri seorang raja Gracetian, seorang mantan permaisuri dengan status sebagai putri Gracetian sebelum menikah.
__ADS_1
"Aku akan pegang janji Mama. Jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Deanda, aku tidak akan memaafkan orang yang berani menyaktinya. Termasuk Mama sekalipun. Ataupun kak Desya. Sebaiknya Mama juga memperingatkan kak Desya dengan baik, agar tidak beusaha lagi melakukan tindakan nekat terhadap Deanda seperti waktu itu terhadap kuda yang ditunggangi Deanda!" Dion berkata sambil berjalan dengan langkah lebar dan cepat, keluar dari ruang kerja Eliana yang langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya sambil mendengus keras mendengar bagaimana Dion bahkan sudah berani mengancamnya demi seorang Deanda.
Sejak terobsesi dengan Deanda, sepertinya Dion semakin susah untuk diatur. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dimiliki oleh seorang Deanda sehingga bisa membuat Dion tergila-gila seperti itu! Seolah-olah tidak ada wanita lain di dunia ini yang bisa membuatnya jatuh cinta! Ini benar-benar hal yang buruk! Mau tidak mau, aku harus segera menyingkirkan Deanda secepatnya, sebelum Dion semakin menjadi dan menggila!
Eliana mengomel dalam hati sambil melihat ke arah kalender yang ada tepat di depannya.
"Ah, ya! Lebih baik begitu." Tiba-tiba Eliana berkata dengan wajah terlihat senang sekaligus puas.
Sebuah pemikiran yang tiba-tiba melintas di pikiran Eliana membuat bibir Eliana menyeringai dengan wajah terlihat sinis.
"Dengan tersingkirnya Deanda, Dion tidak akan lagi berpikir untuk bisa mendapatkan Deanda sebagai permaisurinya di masa depan. Dan di sisi lain juga akan semakin membenci Alvero, sehingga tidak sayang lagi untuk membantuku menyingkirkan Alvero juga." Eliana kembali bergumam pelan.
Aku akan memanfaatkan situasi itu untuk mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Menjatuhkan Alvero, sekaligus menghalangi Dion untuk menjadikan Deanda sebagai permaisurinya. Aku tidak akan membiarkan Deanda tetap berada di sekitar istana atau dia akan menajdi musuh dlam selimut, dan menghancurkan Dion suatu hari kelak. Aku sungguh tidak sabar menunggu publik menyeret Alvero keluar dari istana karena dianggap sudah mencelakai istrinya demi wanita lain. Dan saat itu terjadi, Gracetian akan secara sah bisa dikuasai olehku dan Dion!
Eliana berkata dalam hati sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, dengan perasaan begitu bahagia.
__ADS_1
# # # # # # #
"Eh, menu makan siang hari ini sepertinya istimewa sekali?" Deanda yang melihat masakan yang sudah di tata di piring saji, di meja makan penthousenya hari ini, matanya terlihat berbinar melihat semua yang ada di meja adalah menu kesukaannya.
Terutama salad buah yang hari ini lengkap dengan buah-buahan dari negara tropis yang sejak kehamilannya menjadi makanan favorit baginya, karena rasa segar dan asam yang dirasakannya.
Alvero langsung tersenyum geli melihat bagaimana bersemangatnya Deanda melihat menu makan siang hari ini.
"Hari ini semua menu masakan di luar jadwal yang tertulis Prmaisuri. Semuanya sesuai perintah dari yang mulia Alvero tadi pagi. Semua menu siang ini, yang mulia Alvero yang memerintahkan pihak dapur untuk memasaknya khusus untuk Permaisuri." Avitus menjelaskan kepada Deanda kenapa hari ini semua menu makan siangnya terlihat istimewa, lebih tepatnya, begitu sesuai dengan seleranya.
"O, ya? Apa benar begitu Yang Mulia? Kalau begitu, terimakasih banyak untuk perhatian Yang Mulia. Menu hari ini benar-benar istimewa bagiku." Deanda berkata sambil menatap ke arah Alvero yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil tersenyum.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Yang Mulia, Permaisuri." Avitus berkata sambil memberikan salam penghormatan kepada Alvero dan Deanda yang terlihat sedikit tidak perduli, karena sejak melihat menu makanan hari ini, sudah beberapa kali Deanda menelan air ludahnya karena begitu tidak sabar untuk bisa segera menikmati makanan itu.
"Yang Mulia, kalau begitu, kita bisa segera mulai makan siang kita." Deanda berkata sambil bersiap untuk duduk di kursi agar bisa segera menikmati makan siangnya, sedang mata Alvero menatap jajaran masakan itu dengan perasaan tidak nyaman.
__ADS_1
Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, tangan kanan Alvero meraih lengan atas Deanda dan sedikit menariknya, sehingga Deanda membatalkan niatnya untuk duduk, tetap berdiri di tempatnya, tepat di samping Alvero.