
"Ist... kenapa kamu diam membisu seperti itu? Apakah terlalu sulit menjawab pertanyaanku barusan Erich? Kamu hanya perlu mengatakan iya atau tidak." Alvero yang duduk di kursi kerjanya dengan Erich berdiri di depannya, dipisahkan oleh meja kerja Alvero, berkata sambil memainkan handphone di tangannya.
"Tidak Yang Mulia." Erich menjawab singkat pertanyaan Alvero dengan wajah tetap terlihat datar tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu dengan jawaban tidak barusan? Tidak menyukai Cleosa atau tidak sulit untuk menjawab pertanyaanku? Jawabanmu terlalu ambigu. Sejak kapan kamu jadi orang yang tidak berani menjawab dengan tegas seperti biasanya?" Alvero mengucapkan kata-katanya sambil menahan senyum gelinya melihat bagaimana Erich tetap berdiri tegak di hadapannya tanpa ekspresi seperti biasanya, tapi Alvero bisa melihat ada sebutir keringat muncul di kening Erich.
Dasar Erich! Tetap berpura-pura tidak memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu. Paling tidak cari cara untuk segera mengikatnya jika tidak ingin orang lain merebut hati gadis itu darinya. Dengan sekian lama berada di dekatku, kenapa Erich tidak juga belajar dariku saat aku melakukan banyak cara agar bisa mendapatkan hati permaisuriku dan segera mengikatnya sehingga tidak adalagi celah dan kesempatan bagi laki-laki lain untuk merebutnya dariku. Setelah ini, semoga Deanda segera hamil agar ikatan diantara kami semakin kuat.
Alvero berkata dan tersenyum dalam hati, membayangkan bagaimana tidak sabarnya dia mendengar berita tentang kehamilan istrinya.
Setelah itu Alvero menatap tajam ke arah Erich yang masih diam terpaku di depannya tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya semula.
"Erich, apa kamu ingin aku membantumu kali ini?" Mendengar penawaran dari Alvero, Erich sedikit mengangkat salah satu alisnya.
Aku bahkan tidak menjawab pertanyaan yang mulia tentang perasaanku terhadap Cleosa. Kenapa sepertinya yang mulia begitu yakin aku memang menyukai gadis itu?
Erich bertanya dalam hati tanpa berani mempertanyakan apa maksud dari pertanyaan Alvero.
__ADS_1
"Tidak Yang Mulia. Terimakasih." Mendengar jawaban dari Erich, Alvero hanya tersenyum dengan wajah terlihat mengejek.
"Ok kalau begitu. Baca file ini." Alvero berkata sambil menyodorkan map ke arah Erich.
"Apa ini Yang Mulia?" Erich bertanya dengan matanya melirik ke arah map yang baru saja disebutkan oleh Alvero tanpa berniat mengambil map itu, membuat Alvero sedikit meringis.
Aku ingin tahu sampai kapan kamu akan terus bersikeras untuk tidak mengakui perasaanmu terhadap Cleosa. Oke, kita lihat sampai sejauh mana kamu bisa berpura-pura di depanku.
Alvero berkata dalam hati sambil matanya menatap ke arah map dimana Erich terlihat tidak berminat menyentuhnya sama sekali.
"Dalam map itu berisi info lengkap tentang siapa Cleosa, baik tentang keluarganya, darimana dia berasal, latar belakang pendidikan juga bagaimana dia menjalani hidupnya selama ini di kota Tavisha." Penjelasan Alvero cukup membuat Erich menahan nafasnya selama beberapa detik, namun tubuh dan tangannya tetap diam tidak bergerak dari tempatnya untuk meraih map itu.
"Selain itu, disana juga ada info tentang Reyno, salah seorang knight yang ada di tim pengawal kerajaan yang bertugas di istana. Kamu pasti mengenal Reyno, yang sepertinya juga sudah dikenal dengan baik oleh orangtua Cleosa. Dan bahkan, kedua orangtua Cleosa tanpa sepengetahuan anaknya sedang berencana menjodohkan mereka berdua." Alvero berkata dengan nada acuh tak acuh, sambil melirik ke arah Erich yang walaupun berusaha menutupi rasa kagetnya karena ucapan Alvero, tapi Alvero bisa menangkap perubahan sikap Erich.
Kali ini, perkataan Alvero sukses membuat Erich diam-diam menelan ludahnya, dan tanpa disadarinya butiran keringat di keningnya bertambah banyak.
"Ok kalau begitu. Karena kamu mengatakan tidak tertarik dengan Cleosa dan apapun info tentang dirinya. Aku berencana memindahkan Cleosa ke istana, agar dia bisa menjadi humas di sana. Dengan kinerja baiknya selama ini di front office, juga bakatnya, aku yakin dia akan mampu mengembangkan dirinya lebih baik lagi jika aku memberinya kesempatan untuk bekerja sebagai humas." Perkataan Alvero sukses membuat dada Erich bergejolak.
__ADS_1
Menjadi humas di istana? Itu artinya tiap pagi Erich tidak lagi bisa mendapatkan senyum manis dari gadis itu saat menyapa setiap pegawai yang memasuki gedung perkantoran Adalvino. Senyum yang selalu didapatkan Erich ketika dia memasuki gedung perkantoran Adalvino setiap dia berangkat bekerja untuk memulai tugasnya sebagai pengawal pribadi maupun asisten Alvero.
Sebuah senyum manis yang selalu membuat Erich cukup bertanya-tanya tentang keberadaan Cleosa jika ada hari dimana Cleosa tidak berdiri di meja front officenya untuk menyapa setiap pegawai maupun tamu yang datang. Jika saja dia tidak menemukan sosok Cleosa di meja front office dengan senyum manisnya, dengan cepat Erich akan mencari info kenapa gadis itu tidak ada di tempatnya bertugas.
Dan sesudah mendapatkan info entah Cleosa sedang ke kamar mandi, atau Cleosa sedang cuti sehingga tidak masuk kerja, hal itu sudah cukup membuat Erich bernafas lega, asal bukan berita buruk yang membuat Cleosa tidak berada di tempatnya, sudah membuat Erich merasa puas.
Dan sekarang, Alvero berniat memindahkan Cleosa untk bekerja di istana. Walaupun berpindah di istana, bukan berarti mereka akan lebih sering bertemu.
Justru karena pekerjaan humas di istana lebih banyak bekerja di luar, dan yang pasti, Erich tidak selalu berada di samping Alvero, yang keberadaannya kadang digantikan oleh Ernest, sehingga kesempatannya untuk bertemu dengan Cleosa jika bekerja di istana sebagai humas akan semakin jarang jika dibandingkan dengan Cleosa bekerja di gedung perusahaan Adalvino.
Memikirkan hal itu cukup membuat Erich semakin terdiam, karena membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya dengan Cleosa karena keputusan Alvero.
"Kamu tahu Cleosa cukup dekat dengan permaisuri Deanda. Aku sengaja berencana untuk memindahan Cleosa ke bagian humas istana, agar dia juga bisa semakin dekat dengan Reyno." Seolah tanpa perduli dengan pemikiran Erich, Alvero menjelaskan lembali rencananya.
"Jangan Yang Mulia!" Tiba-tiba saja Erich berkata dengan sedikit berteriak.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" Alvero berkata sambil matanya menatap dalam-dalam ke arah Erich, dengan kedua lengan tangan bawahnya menumpu di atas meja kerjanya, dan kedua tangannya saling menggenggam di atas meja.
__ADS_1
"Jika Yang Mulia ingin memindahkan nona Cleosa ke bagian humas, apa tidak lebih baik memindahkannya di humas perusahaan kantor Adalvino? Tidak harus di humas istana. Dia pasti akan bisa juga mengambil posisi humas di perusahaan Adalvino jika Yang Mulia memberinya kesempatan untuk mengembangkan diri di perusahaan. Mendengar kata-kata pembelaan dari Erich tentang rencananya terhadap Cleosa, sebenarnya Alvero ingin tertawa keras di hadapan Erich.