BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
GANGGUAN AKIBAT AFTERNOON TEA


__ADS_3

"Aku... tidak tahu... mungkin saja... seperti itu..." Deanda berkata dengan suara terdengar ragu dan terputus-putus.


Bagaimanapun sejak Alvero menyatakan cinta kepadanya pagi itu, semua benteng pertahanan Deanda untuk menjaga jarak dengan Alvero langsung runtuh saat itu juga. Deanda berusaha untuk tidak lagi membangun tembok antara dirinya dan Alvero, bahkan berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa membalas cinta Alvero dengan sepenuh hati dan berusaha keras menjadi wanita yang layak untuk mendampingi laki-laki hebat itu. Entah dia sanggup atau tidak melakukan hal itu, tapi rasa cinta yang terus bertumbuh di hatinya untuk Alvero membuatnya ingin mencoba menjadi yang terbaik untuk Alvero dan bertahan demi laki-laki itu apapun yang harus dia hadapi ke depannya.


Ah, kamu selalu saja menggemaskan, membuatku selalu ingin menggodamu. Keberadaanmu di dekatku, benar-benar membuat hidupku bersemangat. Aku tahu tujuan hidupku sekarang adalah untuk membahagiakanmu dan sekarang aku memiliki seseorang yang ingin aku lindungi dengan segenap kekuatan dan hatiku.


Alvero berkata dalam hati sambil tangannya yang awalnya mengelus lembut rambut Deanda bergerak ke arah leher Deanda, dan tanpa sempat Deanda mengelak, tangan Alvero menahan leher Deanda sehingga saat dia mendekatkan wajahnya ke sisi lain leher Deanda dan mencium dengan mesra leher jenjang itu Deanda tidak lagi bisa menghindarinya, membuat Deanda harus menahan nafasnya untuk menahan gejolak dalam dadanya atas perlakuan mesra suaminya.


"My Al...tolong hentikan." Mendengar bagaimana Deanda memanggil nama kesayangannya dengan lembut dan memintanya berhenti, bukannya berhenti, kata-kata Deanda barusan justru membuat gairah Alvero benar-benar terpancing.


"Sweety.... kamu benar-benar membuatku seperti seorang yang hilang akal saat berada di dekatmu... Kamu selalu membuatku hilang kendali." Alvero berbisik lirih dengan bibirnya masih mengecupi leher jenjang istrinya, dengan tangan kirinya yang sikunya bertumpu pada kasur dan menahan leher Deanda, sedang tangan kanannya mengelus lembut punggung Deanda.


"My Al... sudah waktunya afternoon tea...." Deanda kembali berkata lembut sambil meraih tangan Alvero yang sedang menahan lehernya dan pelan-pelan menyingkirkannya dari lehernya, membuat Alvero mrebahkan tubuhnya ke atas kasur dengan gerakan kasar.


"Aistt... kenapa di istana harus ada acara afternoon tea segala?" Mendengar sungut-sungut Alvero sambil menutup matanya dengan lengan tangan kanannya menutupi matanya membuat Deanda yang terbaring di samping tubuh Alvero dengan kepala memandang wajah Alvero dari samping tersenyum geli.

__ADS_1


"Bukannya itu merupakan kebiasaan turun temurun di istana? Kenapa baru sekarang kamu mempertanyakan tentang itu?"


"Hah, benar-benar merepotkan, atau seharusnya aku memberikan aturan baru bahwa afternoon tea diadakan di istana saat aku tidak memiliki kesibukan? Jika tidak, afternoon tea harus ditiadakan, sampai aku memerintahkan untuk diadakan kembali." Alvero berkata dengan posisi tubuh tetap berbaring dan menutup kedua matanya dengan lengannya, sedang Deanda menggerakkan tubuhnya miring ke arah Alvero.


Ah, yang mulia Alvero, raja Gracetian yang ternyata kadang masih saja suka bersikap arogan dan kekanak-kanakan.


Deanda berkata sambil menikmati pemandangan indah di sampingnya. Walaupun wajah Alvero hanya terlihat sebagian saja karena lengannya menutupi bagian kedua matanya, bagi Deanda wajah Alvero tetap terlihat begitu tampan, dengan hidung mancung, bibirnya yang terlihat sensual, ditambah dengan dagunya yang memiliki lesung dagu (dagu dengan belah tengah) membuat ketampanannya semakin terlihat sempurna seperti penampakan seorang dewa yunani.


Untuk beberapa detik selanjutnya Deanda tetap mengamati pesona ketampanan Alvero, sehingga tanpa sadar jari-jari tangan Deanda menyentuh lembut hidung mancung suaminya yang langsung mengalihkan tangannya yang menutupi kedua matanya begitu merasakan sentuhan lembut jemari Deanda di hidungnya. Dengan mata hazelnya, Alvero yang sudah membuka matanya menatap ke arah Deanda yang sedang tersenyum ke arahnya sambil tetap mengelus lembut ujung hidung Alvero dengan ujung jari-jari lentiknya.


"Apa wajah kesalmu yang sedang kamu tunjukkan saat ini karena acara afternoon tea disebabkan karena kamu sekarang sedang sibuk? Apakah sibuk... sekali?" Mendengar perkataan Deanda yang diucapkan dengan suara lembut namun dengan nada menyindir membuat Alvero meringis, dan dengan gerakan cepat Alvero bangun dari tidurnya, memiringkan tubuhnya ke arah Deanda sehingga tubuh mereka saling berhadap-hadapan di atas tempat tidur.


Di samping itu dengan perlahan tangan Alvero meraih slider pakaian berkuda Deanda yang masih dikenakannya dan dengan gerakan pelan jari tangan Alvero bergerak, berniat menurunkan slider ritlesting itu. Namun, dengan cepat Deanda langsung menghentikan gerakan tangan Alvero.


"Tentu saja aku ingin membuatmu sibuk sekarang. Sibuk menghadiri afternoon tea." Deanda berkata sambil tubuhnya bergerak dengan cepat, melompat turun dari tempat tidur, membuat Alvero kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan wajah terlihat frustasi.

__ADS_1


"Ah, yang benar saja sweety... kamu benar-benar mengerjaiku. Harusnya aku meminta pertanggungjawabanmu sudah berani membangunkan sesuatu yang tertidur." Mendengar perkataan Alvero, Deanda yang sudah berdiri di samping tempat tidur langsung membungkukkan tubuhnya ke arah Alvero.


"Ayolah my Al, semua orang sudah menunggu kita. Kita harus segera mandi dan berganti pakaian." Deanda berkata sambil mata ambernya menatap ke arah Alvero yang masih terlihat ogah-ogahan meninggalkan tempat tidurnya.


"Berikan padaku doping terlebih dahulu supaya aku memiliki cukup tenaga untuk menghadiri afternoon tea sore ini. Dan berjanjilah nanti malam kamu akan memberikan jatahku yang tertunda sore ini." Alvero berkata sambil tangannya bergerak menyentuh pinggang Deanda.


Mendengar permintaan Alvero, Deanda mendekatkan wajahnya, mencium kedua pipi Alvero dengan cepat, lalu segera menegakkan kembali tubuhnya yang membungkuk jika tidak ingin Alvero kembali hilang akal karena terpancing oleh tindakannya barusan yang akan membuat mereka berakhir dengan menjadi pembicaraan oleh banyak orang karena tidak menghadiri acara afternoon tea sore ini karena sibuk berduaan di kamar.


"Kamu sudah mendapatkan asupan energimu. Dan untuk jatah yang kamu sebutkan... bukannya pagi tadi... kamu sudah mendapatkannya lebih dari sekali?" Deanda berkata dengan wajahnya yang memerah karena malu.


Bagi Deanda membicarakan tentang hal seperti "itu" sampai saat ini masih membuatnya begitu malu dan gugup, membuat dengan gemas Alvero langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan tangannya menarik hidung Deanda pelan.


"Kamu tahu? Dengan sikap malu-malumu itu justru aku semakin ingin memintanya saat ini juga. Bolehkah sekarang kita lakukan hal "itu" lagi?" Mendengar pertanyaan Alvero, dengan sigap Deanda mundur menjauh dari jangkauan Alvero.


"Tidak sekarang. Ah... lebih baik aku mandi dulu dan segera bersiap ke acara afternoon tea." Tanpa menunggu tanggapan dari Alvero dengan gerakan terburu-buru Deanda bergegas berjalan dengan langkah lebar menuju kamar mandi, membiarkan Alvero yang masih duduk di atas tempat tidur tersenyum geli melihat bagaimana istrinya melarikan diri darinya sore ini.

__ADS_1


So cute... benar-benar istriku adalah wanita yang sangat menggemaskan. Bagaimana aku bisa menahannya jika berada di dekatmu dan melihat bagaimana menggemaskannya dirimu membuatku selalu ingin menyentuhmu dan memanjakanmu. Tunggu saja sampai malam nanti, aku benar-benar akan menagih kembali jatahku yang tertunda.


Alvero berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang dengan mata hazelnya menatap ke arah pintu kamar mandi dengan tatapan penuh cinta, seolah dia bisa melihat apa yang sedang dilakukan wanita tercintanya di dalam sana.


__ADS_2