
“Kalau begitu, aku akan membawa pakaian ganti dan perlengkapanku yang lain.” Deanda berkata sambil melangkah ke arah walk in closet, namun Gerakan tangan Alvero lebih cepat daripada gerakan Deanda.
Dengan cepat Alvero meraih tangan Deanda, dan menariknya berjalan ke arah pintu kamar, berniat langsung mengajaknya keluar agar bisa segera berangkat ke hotel milik Enzo.
“Semua keperluan kita sudah disiapkan oleh Alea dan Ernest. Untuk malam ini kita menginap di hotel Enzo, besok kita ke penthouse dan lusa kita akan menginap di kapal pesiar kerajaan sekaligus untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun Enzo.” Alvero berkata sambil senyum bahagia tersungging di wajahnya, membayangkan bagaimana beberapa hari ini dia akan bisa menghabiskan banyak waktu bersama istrinya di berbagai tempat berbeda, seperti perjalanan bulan madu yang sesungguhnya, setelah mereka harus membatalkan perjalanan bulan madu mereka di villa karena peristiwa pingsannya Vincent.
“Ah, berarti berberapa hari ini kita akan melakukan travelling?” Deanda bertanya dengan suara lirih, membuat Alvero tersenyum geli.
“Travelling? Lebih tepatnya perjalanan bulan madu. Saat menikah kamu meminta agar kita tidak melakukan perjalanan bulan madu keluar negeri. Tapi bulan madu di villa pun harus terhenti karena peristiwa tidak terduga, karena itu aku ingin kita seolah-olah melakukan perjalanan walaupun hanya di dalam kota Tavisha. Kata beberapa orang…” Alvero menghentikan kata-katanya sambil menarik tubuh Deanda agar mendekat ke arahnya, agar dia dapat berbisik ke telinga istrinya itu.
“Kata orang…. perlu berganti tempat dan suasana agar kegiatan itu tidak membosankan.” Alvero berkata dengan suara pelan.
“Hah?” Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero, sukses membuat Deanda melongo.
Bosan? Yang benar saja, kita baru saja melakukan 3 kali dan yang mulia sudah mengatakan bosan? Apa yang mulia….sudah bosan padaku bahkan belum lagi ada seminggu kami menikah.
Deanda berkata dalam hati dengan wajah terlihat tidak terima karena ucapan Alvero.
__ADS_1
“Kalau memang kamu sudah bosan, lebih baik kamu tidak memintanya terus seolah kamu akan mati jika tidak melakukannya.” Dengan nada sedikit jengkel, Deanda berkata sambil menepiskan tangan Alvero yang sedang menggandengnya, membuat Alvero mengernyitkan dahinya.
Ah, aku sepertinya aku salah bicara, aturan utama yang aku lupa, hati wanita itu kadang tidak stabil dan sensitif dengan perkataan seorang yang dicintainya, apalagi mereka selalu menggunakan perasaan lebih banyak daripada logika. Belum lagi jika mereka mendekati masa-masa datang bulan mereka, dimana emosi mereka seringkali meledak-ledak. Apalagi saat ini pikirannya pasti sedang kacau karena berita tidak mengenakkan tentang papa Alexis. Dia pasti berpikir aku bosan dengannya. Ah, benar-benar celaka.
Alvero berkata dalam hati sambil meringis menyadari dia sudah mengatakan sesuatu yang sudah membuat Deanda salah paham dan merasa tersinggung.
“Ah, bukan itu maksudku… kamu sudah salah paham dengan arti perkataanku. Selama itu kamu, aku tidak akan pernah bosan. Jangankan bosan, tidak bersamamu dalam beberapa waktu saja sudah membuatku seperti cacing kepanasan, kamu tahu itu sweety… Aku tidak pernah bisa jauh darimu, bagaimana mungkin bosan denganmu? Aku hanya bermaksud membayar waktu bulan madu kita yang berantakan sebaik mungkin. Berusaha menggantikankannya.” Alvero berkata sambil matanya memandang ke arah Deanda, mencoba memastikan apakah wajah Deanda masih terlihat kesal.
Aturan lain, jika terlanjur membuat seorang wanita marah, maka aku sebagai laki-laki yang mencintainya harus berjuang keras untuk membuktikan bahwa perasaan dan kata-kataku tulus kepadanya, tidak ada niat untuk membuatnya marah. Karena itu aku harus bisa merayu dan membuat kemarahannya mereda. Dan menurut yang pernah aku pelajari, saat wanita marah, jangan membela diri, aku hanya perlu memperlakukannya dengan lembut maka kemarahannya akan mereda. Aku hanya perlu mengalah di depan wanita yang aku cintai untuk membuatnya tenang.
“Dari awal kita bertemu sampai kita menikah, semuanya kita alami dalam waktu begitu singkat. Aku ingin kita berdua memiliki hubungan yang kuat bukan karena waktu. Waktu memang bisa memperkuat suatu ikatan, tapi bagiku… cinta, kesetiaan, saling mengerti, saling percaya dan saling mendukung di antara kita membentuk ikatan yang lebih kuat di diantara kita. Maaf jika aku masih belum banyak mengerti tentang kamu sebagai wanita, aku akan belajar dan membuatmu tidak pernah menyesal sudah memilihku sebagai pendamping hidupmu, mempercayakan hidup dan masa depanmu kepadaku.” Alvero mengakhiri kata-katanya dengan sebuah kecupan lembut di kening Deanda.
Deanda menarik nafas dalam-dalam mendengar setiap kata dari apa yang baru saja diucapkan oleh Alvero. Bagaimana dia tidak tersentuh dan bisa melanjutkan rasa kecewa dan kemarahannya mendengar bagaimana demi dirinya Alvero, raja Gracetian yang dikenal keras kepala dan arogan mengeluarkan kata maaf untuknya. Bahkan Deanda sadar bahwa itu juga bukan seratus persen kesalahan dari Alvero, dia yang hari ini terlalu sensitif sehingga salah paham dengan maksud baik Alvero yang ingin membahagiakannya.
“Masih marah?” Alvero bertanya sambil melepaskan pelukannya agar bisa melihat wajah Deanda.
Begitu Alvero melihat wajah Deanda yang memperlihatkan semburat merah di pipinya sambil menggelengkan kepalanya pelan, Alvero langsung tertawa lega sambil merengkuh bahu Deanda dan mengajaknya keluar dari kamar.
__ADS_1
“Tung… tunggu my Al…” Deanda memanggil Alvero tepat sebelum Alvero membuka pintu kamarnya.
“Terimakasih sudah berusaha mengerti tentang aku, bahkan menerimaku apa adanya, terlepas dari asal usul dan masa laluku.” Setelah menyelesaikan kata-katanya, Deanda sedikit berjinjit di hadapan Alvero, mencium mesra bibir Alvero.
“I love you my Al…” Tubuh Alvero tersentak kaget melihat apa yang dilakukan oleh Deanda kepadanya, karena baru pertama kalinya Deanda mencium bibirnya terlebih dahulu, dan juga pernyataan cinta dari Deanda yang baru kali ini diucapkan oleh Deanda dengan bibirnya dalam keadaan sadar, tidak mabuk seperti malam itu.
Hal itu sukses membuat dada Alvero berdegup kencang, dengan tubuhnya yang tiba-tiba merasakan seperti ada aliran listrik yang mengalir di sel-sel darahnya, menyebar ke seluruh tubuhnya, membangunkan sesuatu dalam dirinya yang harus dengan sekuat tenaga menahannya agar pikirannya tetap fokus bahwa ada hal penting yang harus diselesaikannya lebih dahulu malam ini sebelum dia bisa menghabiskan waktu bersama istri tercintanya.
“Ucapan terimakasih yang sebenarnya akan aku tunggu nanti malam setelah kita menyelesaikan urusan kita dengan yang lain.” Alvero berbisik pelan sambil hidungnya menciumi ceruk leher Deanda yang merupakan tempat favoritnya saat dia ingin menunjukkan rasa kasih sayangnya kepada Deanda, membuat bulu kuduk Deanda meremang dan dadanya berdetak dengan keras.
“Ayo, kita segera pergi sekarang agar kamu bisa segera mengungkapkan rasa terimakasihmu padaku.” Alvero berkata sambil mengecup pelan leher Deanda dengan bibirnya tanpa meninggalkan bekas merah, hanya sebuah kecupan kecil untuk menunjukkan bahwa dia begitu bahagia mendapatkan sebuah ciuman dan mendengar apa yang diucapkan Deanda kepadanya barusan.
Begitu Alvero melihat Deanda tetap berdiri di tempatnya mematung karena sedang berusaha mengendalikan debaran di dadanya, Alvero langsung mencubit pipi Deanda pelan.
“Kita harus segera pergi, kalau tidak…. Aku khawatir aku tidak bisa lagi menahan diriku untuk tidak membawamu ke tempat tidur dan memanjakanmu di sana hingga subuh.” Mendengar perkataan dari Alvero, dengan wajah yang memerah dan salah satu tangannya memegang dadanya yang sedang berdisko ria di dalam sana,
Deanda langsung membuka pintu kamar dan melangkah keluar, membiarkan Alvero yang tersenyum geli melihat tingkah Deanda yang terlihat gugup dan salah tingkah, bahkan membuatnya hampir saja salah mengambil arah jalan keluar dari istana melalui pintu yang ada di sebelah timur, tapi justru Deanda berjalan ke arah barat. Alvero hampir saja memanggilnya, namun begitu menyadari kesalahannya, dengan cepat Deanda membalikkan tubuhnya ke arah timur.
__ADS_1