
"Tentu saja sudah. Masalah sekecil itu... tidak mungkin orang selevel Ernest tidak bisa mengurusnya. Bahkan aku sudah mengetahui info tentang pelaku tersebut sebelum makan siang kita tadi." Alvero menjawab pertanyaan Deanda sambil mengacak rambut di atas kepala Deanda dengan lembut, merasa lega karena dia bisa menyelamatkan istrinya dari peristiwa tadi pagi.
"Siapa yang sudah tega melakukan hal sekejam itu kepada white angel?" Mendengar pertanyaan Deanda, Alvero sedikit mengernyitkan dahinya dan menyipitkan matanya.
"Haist.... kamu ini.... dalam kondisi seperti itu kamu bahkan masih berpikir siapa yang menyakiti white angel? Kenapa kamu tidak berpikir bahwa tindakan kejam orang itu ditujukan padamu, bukan white angel?" Mendengar pertanyaan balik dari Alvero, Deanda langsung menarik nafas dalam-dalam.
"Mungkin dia tidak bermaksud mencelakaiku. Mungkin dia berpikir orang lain yang akan menunggang white angel." Alvero langsung mendengus kesal mendengar perkataan Deanda, bukan kesal dengan Deanda tapi kepada pelaku yang tega-teganya berniat mencelakai wanitanya yang begitu baik hati.
"Kamu ini terlalu polos, semua orang di istal kuda tahu white angel adalah kuda yang diperanakkan dari kuda milik almarhum permaisuri Larena Hilmar. Jika aku ingin memberikan kuda kepada permaisuriku. Pilihan pertamaku pasti adalah white angel. Kuda itu cepat atau lambat akan menjadi milikmu, pasti akan aku berikan kepadamu." Alvero berkata sambil menarik nafas panjang melihat bagaimana baik hatinya permaisuri cantiknya itu. Tidak pernah mau berpikir buruk tentang orang lain bahkan saat jelas-jelas orang itu berniat menyakitinya.
"Sweety, tanpa menyebutkan siapa pelakunya, jika aku memberimu kuasa untuk menghukum orang itu.... hukuman apa yang akan kamu berikan kerpada orang itu?" Mendengar pertanyaan Alvero, Deanda menahan nafasnya sekilas sambil menggigit bibir bawahnya.
"Aku... tidak tahu... mungkin, aku harus bertanya kepadanya terlebih dahulu motif apa yang dimilikinya sehingga dia tega melakukan hal seperti itu. Mungkin sebenarnya dia tidak memiliki maksud buruk." Alvero langsung tersenyum sinis begitu mendengar perkataan Deanda.
"Kalau motifnya adalah rasa tidak sukanya kepadamu? Sengaja ingin melukaimu? Apa hukuman yang akan kamu berikan padanya?" Alvero bertanya dengan tangannya sedikit terkepal.
"Siapa...?"
__ADS_1
"Jangan perduli siapa dia dan apa statusnya. Katakan saja hukuman apa yang akan kamu berikan kepadanya. Dengan senang hati aku akan membantumu menghukum orang kurang ajar itu!" Mendengar perkataan Alvero yang terkesan bersikeras agar dia memberikan jawaban, Deanda menahan nafasnya sebentar, karena dia bisa menebak orang yang dimaksudkan oleh Alvero bukanlah orang biasa.
Orang yang telah berusaha menyakitinya pastilah orang yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Alvero atau orang yang memiliki posisi atau kedudukan yang cukup tinggi, sehingga Alvero bersikap seperti barusan, apalagi wajah dan nada suara Alvero terlihat menunjukan sebuah kekecewaan yang besar.
"Kalau memang dia tidak sengaja, aku akan memaafkannya, tapi kalau dia sengaja, mengingat hubungan yang ada, bisakah memberikan hukuman ringan padanya, asal dia mau berubah?" Deanda menjawab pertanyaan Alvero dengan nada ragu.
"Hah.... sudah kuduga jawabanmu tidak akan jauh dari yang barusan kamu katakan, karena itu... aku sendiri yang akan memutuskan hukuman yang paling tepat untuknya." Alvero berkata sambil matanya menatap tajam ke depan, menjauhkannya dari Deanda agar istrinya tidak bisa melihat jelas tatapan matanya yang dipenuhi oleh kemarahan dan aura membunuh karena teringat telepon Ernest yang memberitahukan kepadanya tentang siapa pelaku yang ingin melukai Deanda dan apa alasan dibalik tindakan nekatnya itu.
"Siapa... siapa yang melakukannya? Kalau aku boleh tahu?" Deanda bertanya dengan nada ragu.
"Kamu ingin tahu? Tapi sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu sweety. Kenapa setelah menikah kamu hampir tidak pernah memanggil namaku saat kita sedang berdua dengan lembut dan mesra? Kecuali saat di tempat tidur pagi tadi. Apa kamu sadar tadi pagi adalah pertama kalinya aku mendengar bibirmu menyebutkan namaku dengan cara yang begitu manis? Apa memang baru di saat dan kondisi seperti tadi pagi kamu mau memanggil namaku semanis itu?" Mendengar pertanyaan Alvero, Deanda sedikit tersentak dengan wajahnya yang langsung memerah mengingat bagaimana tanpa sadar tadi pagi dengan mesra dia mendesahkan nama Alvero saat dia berada dalam gairahnya yang memuncak.
"Ayolah sweety... jangan terlalu bersikap seformal itu saat berdua bersamaku. Kamu adalah istriku. Aku juga ingin menjadi suami yang bisa menikmati kemesraan dan suasana manis bersama istriku seperti pasangan suami istri pada umumnya tanpa memandang status dan kedudukan. Apa kamu tahu, aku begitu suka saat bibirmu menyebutkan namaku..." Alvero berkata sambil menyentuh bibir Deanda dengan ujung ibu jarinya tangan kanannya dengan lembut.
"Al...Alvero..." Deanda bergumam pelan karena masih merasa canggung menyebutkan langsung nama Alvero secara langsung.
"Lalu... bisakah kamu memberiku panggilan sayang untukku sweety?" Mendengar permintaan Alvero, Deanda terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum geli.
__ADS_1
"Honey? My love? My romeo? Apa yang kamu inginkan untuk menjadi panggilan sayangmu?" Deanda bertanya sambil menahan tawanya karena sikap Alvero yang baginya sudah seperti anak-anak memohon permen kepada mamanya.
"Romeo? Tidak buruk juga, tapi aku tidak mau memiliki nasib seperti Romeo. Karena itu jangan memanggilku dengan Romeo.” Deanda langsung tersenyum geli mendengar protes dari Alvero, karena sebenarnya dia juga tidak ingin memanggil suaminya dengan sebutan Romeo.
“Lalu? Bagaimana aku harus memanggilmu Yang Mulia?”
“Haist! Sudah kukatakan kamu tidak boleh memanggilku yang mulia saat kita hanya berdua. Aku tidak suka! Dengan sebutan yang mulia, seolah-olah kamu adalah pelayanku. Padahal kamu adalah tulang rusukku yang hilang. Dan tulang rusuk tempatnya di sampingku, bukan di bawah kakiku atau atas kepalaku.” Alvero berkata sambil menggerakkan matanya hazelnya ke atas.
“Kalau begitu…. Aku akan memanggilmu…. my Al.” Deanda berkata lembut sambil mencium pipi Alvero yang langsung tersenyum senang.
“My Al… cukup manis. Aku suka panggilan itu. Mulai sekarang kamu harus sering-sering mengucapkan panggilan itu untukku. My Al.” Alvero berkata sambil matanya menatap ke arah Deanda dengan senyum puas sekaligus bahagia.
“Kalau begitu, sekarang giliran kamu untuk menceritakan dan menjelaskan padaku…. Siapa yang sudah berniat mencelakaiku tadi pagi my Al?” Deanda berkata sambil menegaskan sebutan “my Al” di belakang kalimatnya dengan mata menatap serius ke arah Alvero yang langsung tersenyum miring.
Dasar istriku ini, ternyata tidak mudah mengalihkan perhatianmu. Pada akhirnya dengan kamu tetap kembali bertanya dan begitu ingin mengetahui siapa pelakunya, dan setelah itu… Aku jamin kamu akan memaksaku mengatakan hukuman apa yang sudah aku rencanakan untuk pembuat onar itu.
Alvero berkata dalam hati sambil memandang ke arah Deanda yang sedang menatapnya, menunggu jawaban dari pertanyaannya barusan.
__ADS_1
“Desya. Dia yang sudah menjadi dalang di balik kejadian tadi pagi.” Akhirnya Alvero menjawab pertanyaan dari Deanda yang langsung membeliakkan matanya karena kaget mendengar pelakunya adalah Desya, sedangkan dia secara pribadi merasa tidak pernah menyakiti atau menyinggung Desya, baik sebelum maupun setelah menikah dengan Alvero.