
Apalagi, walaupun hari ini Alvero berpakaian lebih santai dari biasanya, tapi pakaian yang dikenakannya tetaplah pakaian-pakaian bermerk, karena penyamarannya hari ini, dia berperan menjadi kolektor barang-barang seni yang sedang mencari tambahan koleksi bersama Deanda yang akan diakuinya sebagai adiknya.
"Haist, Erich, kenapa dari tadi bibirmu bergumam tidak jelas seperti itu?" Alvero yang mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Erich yang tampak begitu canggung dan tidak tenang, akhirnya menegur Erich.
"Ti... tidak Yang Mulia."
"Diamlah sebentar, aku sedang berusaha membuatmu tampil meyakinkan sebagai makelar barang-barang seni bernilai tinggi. Jangan lupa, ingat dengan baik nama-nama pelukis terkenal dan penghasil patung lilin terbaik di negeri ini. Hari ini ini kamu bertugas meyakinkan kekasih Melva agar mau berbisnis denganmu dan membodohiku sebagai kolektor karya-karya seni kaya yang bodoh, untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya dariku." Alvero berkata sambil menatap tepat di wajah Erich yang sebenarnya masih merasa aneh dengan penampilannya hari ini.
"Baik Yang Mulia." Erich langsung menjawab singkat perintah dari Alvero yang masih menatap ke arah Erich.
"Jangan berwajah dingin seperti itu. Agar bisa dipercaya dan masuk ke dalam kelompok mereka, kamu harus memasang wajah ramah dan banyak bicara, termasuk semua omong kosong untuk memancing mereka." Alvero kembali berkata sambil menggerakkan tangannya ke depan, mengarahkan telunjuknya kepada Erich.
Alvero melipat ke dalam, jari kelingking, jari manis dan jari tengahnya di hadapan Erich. Sedang jari telunjuk dan ibu jari dia buka lebar, setelah itu Alvero membentuk gerakan mendekatkan dan mejauhkan ujung ibu jari dan jari telunjuknya. Memberi tanda kepada Erich agar melebarkan bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman di bibirnya. Namun, dengan susah payah Erich berusaha melengkungkan bibirnya agar membentuk senyuman, tapi justru terlihat aneh karena justru menunjukkan bahwa Erich begitu memaksakan senyumannya.
"Aistt.... yang serius Erich. Bagaimana untuk tersenyumpun kamu harus diajari? Ayolah.... buat bibirmu tersenyum dengan wajah ramah. Gerakkan ujung kedua ujung bibirmu ke atas, membentuk sebuah lengkungan." Mendengar protes Alvero, Erich langsung mengernyitkan dahinya.
"Tapi Yang Mulia...."
__ADS_1
"Hei.... tidak ada tapi-tapian. Bagaimana orang akan percaya kalau kamu adalah makelar terkenal yang memiliki banyak koneksi dan jago bersosialisasi, sedangkan untuk tersenyum saja kamu sulit." Mendengar perkataan Alvero, jujur saja Deanda harus berusaha begitu keras untuk menahan tawa gelinya, melihat bagaimana ekspresi tidak sabaran dari Alvero melihat Erich yang beberapa kali berusaha tersenyum, namun justru terlihat seperti orang meringis.
Deanda menundukkan kepalanya, sambil sedikit menekan perutnya dengan kedua lengannya yang terlipat di depan perutnya, dan mengatupkan rapat-rapat kedua bibirnya dengan melipatnya ke dalam agar tertahan oleh gigi-giginya karena begitu tidak tahan untuk tidak tertawa melihat bagaimana frustasinya Alvero mengajari Erich, sedang Erich terlihat frustasi karena harus berakting sebagai orang yang memiliki sifat dan gaya yang bertolak belakang dengan sifat aslinya.
"Ok, lumayan... sekarang coba sapa aku seperti gaya seorang teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Gaya sok akrab." Alvero berkata sambil menggerakkan telapak tangannya memberi tanda kepada Erich agar mencoba bergaya menyapa Alvero, membuat dengan gerakan ragu Erich berjalan mendekat ke arah Alvero.
"Ha... hai... Selamat pagi... apa kabar?" Erich mengucapkan kata-katanya sambil mengulurkan tangan ke arah Alvero untuk berjabat tangan.
Tindakan Erich sontak membuat Deanda tertawa terbahak-bahak, sedang mata Alvero langsung melotot dengan sukses, karena melihat begitu anehnya cara Erich menyapanya barusan.
"Astaga Erich! Apa kamu sedang menyapa seorang seniormu di kampus? Atau sedang menyapa seorang gadis yang sudah berhasil membuatmu jatuh cinta?" Alvero sedikit berteriak melihat bagaimana kakunya gaya Erich menyapanya barusan.
"Tolong menjauh sedikit Yang Mulia, biar aku dan Erich mempraktekkan bagaiman cara yang benar menyapa tanpa melihat status sosial yang berbeda antara dua orang yang baru kenal, tapi ingin mengenal dekat." Deanda berkata sambil berencana melangkah, untuk mendekat ke arah Erich.
"Eitss... tunggu dulu sweety." Dengan sigap, Alvero langsung menarik pergelangan tangan Deanda dan menarik tangan itu ke arahnya.
"Kenapa Yang Mulia?" Dengan wajah heran Deanda menatap ke arah Alvero yang terlihat sedang memelototkan matanya ke arah Erich.
__ADS_1
"Jangan mengajak Erich untuk mempraktekkan itu. Aku tidak mengijinkan kalian terlalu dekat, apalagi sampai bersentuhan!" Tiba-tiba saja Alvero berkata dengan nada protesnya.
"Erich! Mundur dua langkah dari pemaisuri. Kamu lihat saja bagaimana permaisuri mempraktekkannya kepadaku. Setelah itu baru kita berdua yang mencobanya." Alvero langsung melanjutkan kata-katanya sambil merengkuh tubuh Deanda, seolah takut jika tiba-tiba saja Deanda kembali mendekat ke arah Erich.
Astaga yang mulia.... Hah....suamiku benar-benar over protektif dan pencemburu akut.
Deanda berkata dalam hati dengan mata sedikit terbeliak dan kepala mendongak ke arah wajah Alvero yang sedang memeluknya, melihat bagaimana sikap over protektif Alvero kepadanya. Dan bagaimana tatapan mata Alvero yang menatap tajam ke arah Erich, seolah-olah memberi peringatan sambil menodongkan pisau ke arah Erich agar tidak terlalu dekat dengan Deanda. Karena Deanda hanyalah miliknya seorang.
Melihat kondisi yang jika diteruskan akan membuat dia justru mendapatkan hukuman, dengan sigap Erich mundur dua langkah ke belakang, bahkan juga menggeser tubuhnya dua langkah ke samping. Benar-benar menjauh dari sosok Deanda yang masih dalam pelukan Alvero. Tindakan sigap Erich membuat Alvero langsung menyungingkan senyum puas di wajahnya dengan senang.
"Ok, sweety... silahkan dimulai." Dengan santainya, Alvero langsung meminta Deanda untuk mempraktekkan cara menyapa sok akrab yang nantinya harus dilakukan oleh Erich kepada Emilio dan orang-orang yang ditemuinya nanti malam.
Dengan masih menahan senyum gelinya Deanda segera melepaskan dirinya dari pelukan Alvero, dan mundur sebanyak tiga langkah lebar, menjauhi sosok Alvero. Setelah itu dengan langkah-langkah kecil, dan gaya berjalan yang santai, bahkan terkesan urakan, Deanda berjalan ke arah Alvero.
"Hei, kamu ya yang namanya Emilio?" Begitu berada di dekat Alvero, dengan gaya sok akrab, Deanda menyapa sambil menepuk pundak Alvero, seolah mereka adalah teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
"Aku dengar jika mau mencari barang-barang seni berkualitas, menemuimu adalah tindakan yang paling tepat. Perkenalkan, namaku Deanda, makelar benda seni terbaik di negara ini." Deanda berkata dengan nada santai sambil mengulurkan tangannya ke arah Alvero yang langsung tersenyum melihat bagaimana bagusnya akting Deanda.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Erich yang melihat bagaimana fasihnya Deanda melakukan aktingnya membuat Erich sedikit menyipitkan matanya karena heran. Ternyata Deanda yang selama ini dikenal Erich sebagai sosok wanita anggun, sopan dan biasa bersikap serius, bisa juga bertindak aneh seperti itu. Sesuatu yang benar-benar tidak disangka-sangka oleh Erich bisa dilakukan oleh seorang Deanda.