
"Haist... apa masa bulan madu kita belum cukup untukmu? Apa kamu ingin aku mngaturkan jadwal untuk liburan bulan madu kita selanjutnya? Katakan padaku, negara mana yang ingin kamu kunjungi. Dengan senang hati aku akan mengaturkan jadwal kita agar bisa segera berangkat ke sana." Alvero berkata sambil tersenyum menggoda.
"Yang benar saja. Bukannya setiap hari bagi kita sudah seperti bulan madu?" Deanda berkata sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
"Benar juga. Tidak ada bedanya ya?" Alvero berkata sambil mencium kening Deanda dengan penuh perasaan sayang.
"Bahkan hampir setiap ada kesempatan kamu selalu meminta jatahmu. Aku tidak menyangka bahwa ternyata suamiku betul-betul kecanduan dengan hal semacam itu." Deanda berkata sambil mengecup sekilas bibir Alvero yang langsung tertawa.
Sudah sebulan lebih sejak mereka menikah, dan setiap harinya Alvero dan Deanda saling mengumbar kemesraan. Bagi mereka berdua, tiada hari bagi mereka untuk tidak saling menunjukkan rasa cinta dan rasa sayang mereka satu sama lain.
"Kenapa? Apa kamu keberatan? Aku hanya tergila-gila kepada satu wanita saja, Deanda Federer. Apa itu salah?" Pertanyaan Alvero spontan membuat Deanda menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis ke arah suaminya.
"Kamu boleh kecanduan hal seperti itu, asal tidak dengan orang lain." Deanda berkata pelan dengan wajahnya yang memerah karena malu.
Hingga detik ini, membahas hal-hal ke arah hubungan antara suami istri, bahkan bersama Alvero, masih saja membuat Deanda merasa malu.
"Sembarangan saja! Mana ada wanita lain yang bisa membuat otakku seperti bergeser dari tempatnya karena tergila-gila selain kamu." Alvero langsung membalas perkataan Deanda dengan cepat sambil memasang wajah pura-pura marah yang justru membuat Deanda tersenyum bahagia.
"Ada berita terbaru dari tuan Red yang pasti akan membuatmu senang...."
__ADS_1
"Apa itu?" Dengan tidak sabar Deanda langsung memotong perkataan Alvero, membuat Alvero tersenyum geli melihat bagaimana tidak sabarnya raut wajah yang ditunjukkan oleh Deanda begitu dia mengucapkan kata-katanya tentang Red.
"Dia berhasil menemukan lokasi salah satu saksi dari peristiwa pelecehan papa Alexis kepada Eliana."
"Benarkah?" Mata Deanda langsung membulat dengan sempurna, senyum bahagia langsung tersungging di wajahnya yang cantik.
"Dasar! Buat apa aku berbohong untuk masalah seperti itu." Alvero menjitak pelan kening Deanda yang langsung meringis.
"Lalu... Red bicara apalagi? Apa saksi itu sudah mengakui bahwa ibu suri sudah memfitnah papa Alexis?" Alvero langsung menggeleng mendengar pertanyaan dari Deanda.
"Tidak. Dia belum sampai ke sana. Untuk sementara dia hanya memberi info bahwa selama ini saksi itu sudah bersembunyi di kota Croyen dnegan menggunakan identitas palsu. Sepertinya dia berusaha lari dari seseorang. Dan aku yakin orang yang begitu ditakuti saksi itu adalah Eliana." Alvero berkata sambil melepaskan pelukannya dari Deanda.
Berharap Alvero segera membawa saksi itu ke kota Travisha dan menyelesaikan masalah pencemaran naman baik oleh ibu suri. Walaupun Deanda sadar tidak akan semudah itu mengharapkan Eliana mengakui kesalahan hanya karena kesaksian satu orang saksi. Eliana pasti akan mencari banyak cara untuk berkelit dn melarikan diri dari tanggung jawab atas kesalahan yang pernah dia perbuat.
"Tenanglah. Aku ingin segera menemui orang itu dan menginterogasinya secara langsung." Kata-kata Alvero membuat Deanda langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa sadar sebagai tanda setuju dengan keputusan Alvero tentang saksi itu.
"Hari ini kita harus selesaikan pekerjaan kita. Besok pagi kita berangkat ke kota Croyen, kebetulan di sana ada satu pabrik plastik baru milik kita. Kita akan melakukan perjalanan dinas ke sana sebagai alasan keluar dari kota Tavisha tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain." Alvero segera menyampaikan lebih lanjut tentang rencananya.
Sejak Deanda menjadi asisten pribadinya, banyak hal bisa diselesaikan Alvero dengan lebih cepat dan tepat. Deanda yang cepat belajar, begitu banyak membantunya dalam bekerja.
__ADS_1
Belum lagi keberadaan Deanda yang hampir selalu ada bersamanya membawa suasana hati Alvero selalu dalam mood yang baik, sehingga berpengaruh besar terhadap kinerja Alvero, terutama dalam memutuskan banyak hal yang membutuhkan pemikiran panjang dan kebijaksanaan lebih.
"Kota Croyen berada tidak jauh dari kota Renhill. Setelah urusan kita selesai, kita bisa mampir ke Renhill untuk menjenguk papa Vincent. Karena kesibukan kita, kita belum sempat menjenguk papa sejak kita ke sana secara diam-diam waktu itu." Sebuah senyum bahagia menyembul dari bibir Deanda yang merasa senang Alvero akan mengajaknya menemui Vincent.
Bagi Deanda, sosok Vincent sebagai mertua yang terlihat begitu menyayanginya seringkali membuatnya ingin sering-sering berkunjung ke sana. Sayangnya, karena rencana Alvero yang ingin menjauhkan Eliana dari Vincent membuat merekapun harus berpura-pura menahan diri agar tidak mengunjungi Vincent untuk sementara waktu ini.
"Sebenarnya beberapa waktu ini aku merasa bersalah tidak mengunjungi papa Vincent. Aku yakin sebenarnya papa juga ingin bertemu dan mengobrol dengan kita." Kata-kata Deanda yang terdengar memelas membuat Alvero menarik nafas dalam-dalam.
"Tidak apa, papa Vincent mengerti kondisi yang ada saat ini. Bahkan dia mendukung penuh untuk rencana kita itu. Karena jika boleh jujur, papa Vincent juga tidak ingin dikunjungi oleh Eliana. Bukankah setiap harinya kita selalu melakukan video call dengannya? Jangan khawatir, jika semuanya sudah beres. Kita bisa hidup dengan bahagia kembali di istana bersama papa Vincent. Sabarlah sebentar lagi sampai kita berhasil mengamankan negeri ini dari para pemberontak." Alvero berusaha menghibur Deanda.
"Tenang saja my Al. Aku percaya padamu. Aku hanya rindu saja dengan papa Vincent. Papa Vincent mengingatkanku bagaimana rasanya memiliki seorang papa yang masih ada di dunia ini. Sebuah perasaan yang sudah begitu lama tidak lagi aku rasakan sampai aku bertemu dengan papa Vincent dan menjadi anak menantunya." Deanda berkata dengan berusaha membuat suaranya senormal mungkin agar Alvero tidak mengkhawatirkannya karena hatinya yang tiba-tiba diterpa oleh perasaan sedih karena teringat tentang Alexis.
"Ok, besok setelah urusan kita selesai di Croyen, kita akan ke Renhill menemui papa Vincent. Sekarang kita harus bersiap menghadiri rapat kita siang ini. Ayo... kita ke ruang meeting sekarang." Alvero berkata sambil menggerakkan kepalanya ke samping, memberi tanda kepada Deanda agar segera ikut pergi bersamanya menghadiri meeting penting siang ini.
"Baik Yang Mulia!" Mendengar jawaban Deanda, dengan cepat tangan Alvero bergerak ke arah kepala Deanda dan sedikit mengacak rambut Deanda sambil tertawa kecil.
# # # # # # #
Alvero dan Deanda yang sengaja datang ke kota Croyen, untuk menemui salah satu saksi mata yang pernah memberikan pernyataan bahwa Alexis sudah melecehkan Eliana, hanya bisa diam terpaku begitu melihat bagaimana kondisi rumah sederhana tempat tinggal saksi itu, selama bersembunyi terlihat begitu berantakan, dengan beberapa bercak darah terlihat di sana sini.
__ADS_1
Dari yang terlihat menunjukkan dengan jelas bahwa ada yang mencoba menyerang dan menyakiti penghuni rumah tersebut.