
Di sisi lain, Deanda yang mendengar penjelasan dari Vincent langsung diam terpaku, karena begitu kaget mendengar kebenaran yang tidak pernah disangkanya.
Anak laki-laki kotor yang penuh lumpur, dengan pakaian lusuhnya, yang menangis ketakutan dan penuh luka gores di bagian kaki dan tangannya, dengan kaki tangan terikat yang sudah ditolongnya waktu itu, ternyata adalah Alvero. Anak laki-laki yang sekarang sudah bertumbuh menjadi laki-laki dewasa dan terlihat begitu tampan. Yang sekarang sudah menjadi seorang laki-laki yang begitu mengagumkan dan hebat dalam banyak hal.
Deanda benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang dia lakukan saat itu, sudah membuatnya menyelamatkan calon suaminya di masa depan, menyelamatkan laki-laki yang begitu dicintainya sekarang, calon ayah dari anak-anaknya kelak.
Saat itu Deanda hanya berpikir bagaimana menyelamatkan anak laki-laki yang dalam bahaya itu, tanpa pernah menyangka bahwa di masa depan, laki-laki itu akan menjadi pemilik hatinya, tubuh dan jiwanya, dimana sekarang dia tidak bisa lagi jauh dari laki-laki itu.
Saat ini tubuh Deanda diam terpaku, dengan dadanya yang berdebar keras karena merasa masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana bisa anak laki-laki malang yang dia selamatkan itu ternyata adalah Alvero di masa kecilnya. Dada Deanda semakin berdetak dengan keras begitu membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi pada Alvero jika saat itu dia tidak datang tepat pada waktunya.
Membayangkan bahwa bisa saja dia kehilangan Alvero jika tidak menolongnya saat itu, membuat mata Deanda memerah, dadanya terasa begitu sesak. Dengan sekuat tenaga Deanda berusaha menahan agar airmatanya tidak turun di depan ayah mertuanya dan sepupu Alvero.
Begitu Vincent membenarkan bahwa Deanda adalah gadis kecil yang sudah menyelamatkannya, tanpa berpikir panjang, tanpa perduli bahwa saat ini ada Vincent dan Enzo di depannya, dengan gerakan cepat Alvero meraih tubuh Deanda dengan satu tangannya untuk memeluknya dengan erat, sedangkan tangannya yang lain langsung bergerak ke arah tengkuk Deanda, mengarahkan wajah Deanda ke wajahnya, dan menciumi seluruh bagian wajah Deanda tanpa henti.
Mulai dari kening, mata, hidung, pipi, bibir, semua bagian wajah Deanda tidak lepas dari ciuman Alvero yang menciumnya dengan sesekali menarik nafas dalam-dalam agar dia bisa menghirup bau tubuh dari Deanda yang membuatnya semakin bahagia mengetahui kebenaran bahwa wanitanya adalah penyelamat hidupnya di masa lalu.
__ADS_1
Deanda yang masih terlihat kaget dan berusaha menahan tangisnya, setelah mendengar kebenaran tentang kisah 15 tahun lalu itu hanya bisa terdiam, membiarkan Alvero menunjukkan rasa bahagia, haru, bersyukur, juga terimakasihnya dengan cara menciumi seluruh wajah Deanda bertubi-tubi untuk waktu yang tidak sebentar.
Pemandangan di depannya membuat Vincent hanya bisa tersenyum dan sedikit mengalihkan pandangannya ke arah Enzo yang awalnya langsung melongo melihat bagaimana tanpa perduli lagi dengan keberadaan orang lain di tempat itu, Alvero menciumi wajah Deanda tanpa henti.
Enzo sendiri hanya bisa berdehem kecil sebelum akhirnya ikut mengalihkan pandangan matanya dari adegan romantis yang sedang terjadi di depan matanya saat ini.
Haist... Alvero... kamu benar-benar menganggapku dan uncle Vincent sebagai obat nyamuk hari ini. Seharusnya kalian melakukan itu di kamar, supaya sekalian bisa berlanjut ke tahap yang lebih intim. Supaya aku cepat mendapatkan keponakan dan mengamankan posisiku agar tidak menjadi calon putra mahkota selanjutnya. He he he he.
Enzo berkata, sambil tertawa dalam hati. Rasanya Enzo ingin sekali menggoda mereka, tetapi melihat bagaimana Alvero dan Deanda sedang meluapkan perasaan mereka, antara kaget, bahagia, haru dan juga cinta mereka, membuat Enzo sadar jika saja dia berani macam-macam, Alvero pasti akan membalasnya tanpa ampun seperti biasanya.
Memikirkan kemungkinan itu, akhirnya Enzo memilih untuk bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah Vincent, dan mendorong kursi roda Vincent untuk menjauh dari dua insan yang sedang dimabuk asmara itu, sehingga merasa dunia hanya milik berdua.
Untuk beberapa saat Alvero terus menciumi wajah Deanda tanpa henti, bahkan tanpa disadari olenya, tampak airmata haru menggenang di sudut mata Alvero yang sengaja menciumi seluruh wajah Deanda dengan memejamkan matanya. Rasanya Alvero ingin menikmati dan mensyukuri keberadaan Deanda sebisa mungkin. Kedua tangan Alvero tampak bergerak ke depan wajah Deanda, kemudian merangkum wajah Deanda yang membiarkan Alvero menciumnya dengan intens.
"I love you my sweety. I love you so much. Setelah sekian lama aku selalu ingin bertemu dan berterimakasih pada penyelamatku. Ternyata penyelamatku adalah cintaku, belahan jiwaku. Terima kasih sudah hadir di dalam hidupku. Kamu sudah memberiku kesempatan untuk kembali menemukanmu dan memilikimu. Bahkan bukan hanya menyelamatkan hidupku, kamu memberiku segala yang terbaik untukku. Hidupmu, hatimu, cintamu... terimakasih untuk semuanya itu. Seumur hidupku rasanya belum cukup untuk membalas semua yang sudah kamu lakukkan untukku." Tidak henti-hentinya Alvero mengucapkan kata syukurnya sambil tetap menciumi wajah Deanda dengan perasaan cinta yang membuncah di dadanya.
__ADS_1
Perasaan Deanda sendiri saat ini bercampur aduk menjadi satu, antara bahagia, bersyukur, cinta, bahkan sedih jika dia mengingat kembali bagaimana menyedihkannya kondisi anak laki-laki yang dia temukan dan selamatkan 15 tahun yang lalu.
Namun, melihat bagaimana anak laki-laki itu saat ini berada di hadapannya, bertumbuh dewasa dengan baik, dan juga ternyata adalah suaminya sendiri membuat dada Deanda berdebar dengan keras, merasa apa yang dia lakukan 15 tahun lalu adalah sesuatu yang tidak akan pernah disesalinya sama sekali. Jika waktu bisa diulang, dia akan tetap memilih untuk menyelamatkan anak laki-laki itu walaupun dia tahu nyawanya sebagai taruhannya saat itu.
"Katakan padaku sweety, bagaimana aku bisa menunjukkan rasa terimakasihku padamu, my sweety, my sweetheart, my angel..." Alvero berbisik pelan dengan ujung hidung mancungnya menempel di ujung hidung mandung Deanda dengan mata yang masih terpejam.
Perlahan tapi pasti, kedua tangan Deanda melingkar di leher Alvero. Kali ini airmata haru sekaligus bahagia mengalir di pipi Deaanda dengan deras.
"My Al... bertemu denganmu, bisa mencintai dan mendapatkan cintamu yang luar biasa, adalah hadiah paling berharga dalam hidupku. Tidak ada yang kuinginkan di dunia ini selain dirimu. Bisa memilikimu dan menjadi milikmu, jauh lebih berharga dari apapun juga." Deanda membalas perkataan Alvero dengan suara lirih.
Dengan gerakan lembut, tangan Deanda yang melingkar di leher Alvero mulai mengelus bagian belakang kepala Alvero. Deanda menggerakkan kakinya, sedikit berjinjit, untuk kemudian bibirnya bergerak mencium bibir Alvero yang langsung tersenyum dengan begitu bahagia, dan dengan cepat langsung menyambut ciuman Deanda dengan penuh cinta.
__ADS_1