BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SEMAKIN MENGERTI TENTANG KAMU


__ADS_3

“Terimakasih dan minta maaf atas kejadian tadi pagi.” Begitu Deanda mendengar dengan ragu Desya mengucapkan kata-katanya, Deanda langsung tersenyum, walaupun Desya mengucapkan permintaan maaf dan terimakasihnya dengan menghadapkan tubuhnya ke Alvero, bukan Deanda.


"Itu kata dari hatimu atau hanya sekedar pemanis di bibir saja? Kalau kamu tidak bisa dengan tulus mengucapkan maaf dan terimakasih, lebih baik tutup rapat-rapat bibirmu." Alvero berkata dengan mata menatap wajah Desya dalam-dalam, membuat Desya tersentak kaget, tidak menyangka Alvero bersikap sekeras itu padanya karena Deanda.


Desya tahu walaupun hubungan Alvero dan Eliana tidak baik, tapi Alvero tidak pernah bertindak dan bersikap kasar kepadanya. Walaupun Alvero tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya sebagai saudara tiri dengan sentuhan atau pelukan lembut, namun Desya tahu Alvero seringkali mengabulkan keinginannya jika dia menginginkan suatu barang atau ijin untuk melakukan hal-hal tertentu seperti waktu ulang tahunnya yang ke 22 lalu ingin mengadakan acara ulang tahun di gedung pertemuan perusahaan Adalvino, bahkan sebagai kakak setiap ulang tahun atau acara penting baginya, Alvero selalu mengirimkan hadiah kepadanya.


Melihat pandangan mata Alvero yang terlihat begitu tidak bersahabat terhadap Desya, membuat Deanda memegang lengan Alvero, berharap Alvero menghentikan bicaranya yang cukup menyakitkan untuk didengar.


"Maafkan aku Kak Alvero." Desya berkata lirih.


"Yang kamu butuhkan adalah meminta maaf dan berterimakasih kepada permaisuri Deanda, bukan aku. Tapi sudahlah, tidak perlu diperpanjang lagi, sepertinya kamu masih belum mengerti apa yang harus kamu lakukan dan tidak menarik pelajaran sedikitpun dari apa yang sudah terjadi hari ini, benar-benar..." Deanda langsung menahan Alvero meneruskan kata-katanya dengan menarik lembut lengan Alvero yang tadinya sudah dipegangnya.


“Aku sudah memafkanmu bahkan sebelum kamu meminta maaf. Semoga ke depannya kita bisa menjadi saudara yang berhubungan baik.” Mendengar jawaban Deanda, Alvero langsung meraih bahu Deanda dan memeluknya.


“Maaf, kami akan beristirahat karena hari ini cukup melelahkan bagi kami setelah kejadian tidak mengenakkan tadi pagi. Kami tidak butuh sekedar kata maaf atau terimakasih. Berubahlah menjadi lebih baik, itu lebih berharga.” Alvero berkata sambil berjalan meninggalkan ruang pertemuan keluarga tanpa perduli lagi dengan keberadaan Eliana dan Desya di sana.

__ADS_1


Alvero! Enzo! Para pangeran Adalvino sialan! Aku akan mengingat dengan baik kejadian hari ini! Aku akan membuat kalian menyesal dilahirkan sebagai Adalvino! Akhhh…! Benar-benar tidak bisa dimaafkan!


Eliana memaki dalam hati sambil melirik Desya yang hanya bisa terdiam.


Jika saja mereka sedang berdua saja tanpa dilihat oleh orang lain, rasanya Eliana ingin sekali menampar Desya yang telah mempermalukan dan merendahkan dirinya sendiri karena sudah berterimakasih dan meminta maaf kepada Deanda, menuruti perkataan dari Enzo. Namun di sisi lain, Eliana sadar dia dan Desya harus berusaha keras untuk menahannya karena untuk saat ini hanya itu yang bisa mereka lakukan agar tetap tampak sebagai orang yang baik di hadapan banyak orang.


“Yang Mulia…” Deanda mencoba mengingatkan Alvero yang tampak tidak perduli dan langsung berjalan meninggalkan Eliana dengan wajah tidak terimanya karena pada saat-saat terakhir bahkan Alvero masih terus membuat Desya kembali harus menelan harga dirinya dengan mengucapkan terimakasih sekaligus permintaan maaf kepada Deanda.


“Kita bicara lagi nanti sweety.” Alvero langsung memotong perkataan Deanda dan segera mengajak istrinya meninggalkan tempat itu.


Alvero sengaja tidak memberikan kesempatan kepada Deanda untuk meneruskan kalimatnya, karena dengan karakter Deanda yang sudah cukup dimengerti oleh Alvero, jika diteruskan lagi, pembicaraan Deanda selanjutnya pasti akan berlanjut tentang bagaimana meringankan lagi hukuman Desya karena sudah mau meminta maaf.


“Jangan diteruskan, jika tidak, pasti aku akan marah karena kamu meminta keringanan lagi untuk hukuman Desya.” Mendengar perkataan Alvero, Deanda langsung mengernyetkan dahinya.


“Bagaimana kamu tahu isi hatiku?”

__ADS_1


“Hahh….! Istriku yang polos! Bagiku, wajahmu itu seperti kamus terbuka yang menunjukkan isi kepala dan hatimu. Apa yang sedang kamu pikirkan dan apa yang kamu inginkan semuanya terlihat jelas di wajahmu.” Alvero berkata sambil menundukkan kepalanya, memandang ke arah Deanda yang sedang berada dalam pelukannya sambil mendongakkan kepalanya ke arah Alvero.


“Semudah itukah membaca pikiranku dan menebak isi hatiku?” Mendengar pertanyaan dari Deanda, Alvero langsung menggangguk-anggukkan kepalanya sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya.


“Semudah itu. tapi hanya baru-baru ini saja. Sebelumnya bahkan aku berpikir kamu tidak memiliki ketertarikan sama sekali denganku dengan sikap dinginmu selama ini kepadaku.” Alvero berkata sambil menggoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri tubuhnya yang sedang memeluk erat tubuh Deanda sehingga membuat tubuh Deanda ikut bergoyang.


“Ah…begitu ya?” Hanya jawaban singkat tanpa arti yang akhirnya meluncur dari bibir Deanda, membuat Alvero langsung menggerakkan wajahnya mendekat ke arah wajah Deanda dan mencium lembut bibir istrinya.


“Mengerti tentang siapa sebenarnya dirimu dan apa yang sedang kamu pikirkan menjadi begitu mudah sejak kamu menyerahkan dirimu untuk pertama kalinya malam itu. Apalagi dalam kondisi mabuk kamu terbiasa meluapkan semua yang ada di hati dan pikiranmu.” Mendengar olok-olok dari Alvero, Deanda menggerakkan tubuhnya, berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya, yang tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi.


Yang terjadi justru Alvero terus berjalan ke depan sehingga Deanda yang berada di pelukannya terpaksa bejalan mundur sampai akhirnya bagian belakang kakinya menabrak suatu benda yang dia tahu pasti apa itu.


Matilah aku… apa dia benar-benar berniat meminta hal itu lagi? Apa dia tidak merasa lelah sama sekali? Bahkan pangkal pahaku masih terasa pegalnya, tapi dari wajah yang mulia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda lelah. Stamina yang mulia benar-benar…


Belum selesai Deanda berkata dalam hati, tubuhnya yang terdorong oleh Alvero akhirnya jatuh terlentang di atas tempat tidur dengan posisi kaki menggantung, yang langsung disusul Alvero yang berbaring tepat di sampingnya.

__ADS_1


“Sweety…. Tahukah kamu? Entah hanya perasaanku saja atau hal itu memang benar-benar terjadi. Sebelum menikah aku benar-benar merasa buta dan tidak tahu apa-apa tentangmu, namun setelah kita benar-benar menyatu sebagai suami istri, aku merasa semakin dekat denganmu dan mulai bisa merasakan apa yang ada di pikiranmu, apa yang kamu inginkan. Dan aku suka dengan sikapmu yang mulai terbuka padaku. Aku suka kamu mulai berani menyampaikan keinginanmu padaku.” Alvero berkata lirih sambil tangannya sibuk membelai lembut rambut Deanda.


Posisi Alvero yang sedang memiringkan tubuhnya menghadap Deanda membuat Deanda menahan nafasnya sekilas. Walaupun mereka sudah melakukan hal yang begitu intim sebagai suami istri, tapi setiap menyadari keberadaan Alvero yang begitu dekat dengannya tetap saja membuat dada Deanda bergetar hebat dan pikirannya melayang ke sana kemari tanpa bisa dia kendalikan.


__ADS_2