
Vincent hanya bisa mendengarkan dengan serius tanpa mengeluarkan kata-katanya sampai Alvero selesai menceritakan kejadian di kota Croyen. Laki-laki itu akhirnya menarik nafas dalam-dalam begitu Alvero selesai bercerita.
"Sayang sekali, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa karena saksi maupun pembunuh itu sudah meninggal. Lalu apa rencanamu selanjutnya nak? Kenapa kamu tetap bersikeras untuk tidak membiarkanku mengakui kesalahan pencabutan gelar itu sebagai tanggung jawabku agar kamu tidak perlu pusing memikirkan bagaimana cara memulihkan nama baik Alexis." Mendengar perkataan Vincent, Alvero langsung menaikkan kedua alisnya sambil menarik nafas melalui sela-sela bibirnya.
"Sudah aku katakan kepada papa. Aku tidak akan membiarkan Papa mengambil tanggung jawab yang bukan merupakan kesalahan Papa. Tenang saja Pa, aku pasti akan bisa menemukan bukti atau saksi lain. Seperti kata pepatah, tidak akan ada kejahatan yang sempurna, mereka pasti meninggalkan sedikit jejak sebagai petunjuk. Dan walaupun petunjuk itu hanya akan sebesar lubang jarum, aku akan berusaha untuk menemukannya." Alvero berkata dengan nada optimis.
"Baiklah... aku percayakan semuanya padamu nak. Aku tahu kamu akan bisa melakukannya." Vincent berkata sambil tersenyum, berusaha membiarkan semuanya di bwah kendali Alvero.
"Lalu apa rencanamu untuk hari ini? Apa kamu akan kembali ke Tavisha sekarang?" Vincent bertanya sambil membenarkan posisi duduknya di atas tempat tidur, membuat Deanda dengan cepat bergerak mendekat ke arahnya, membenarkan posisi bantal yang mengganjal punggung Vincent dan dijadikannya sandaran, agar Vincent merasa lebih nyaman.
"Malam ini kami akan menginap di sini. Besok pagi setelah kita sarapan bersama, baru kami kembali ke kota Tavisha. Tapi sore ini kami akan berkunjung sebentar ke kamp pelatihan pasukan khusus yang dilatih oleh tuan Red dan uncle Marcello. Kami berdua ingin melihat sejauh mana perkembangan pelatihan mereka." Mendengar perkataan Alvero, Vincent langsung menganggukkan kepalanya dengan wajah senang, menyadari bahwa sampai besok dia masih bisa bertemu dan berbincang dengan Alvero.
“Setelah dari kamp, sebelum kembali ke villa, kami akan berjalan-jalan sebentar di tepi pantai.” Alvero berkata kepada Vincent yang langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Bersenang-senanglah kalian berdua selagi berada di tempat ini.” Vincent langsung menanggapi perkataan Alvero.
__ADS_1
“Kalau begitu, lebih baik papa beristirahat dulu. Kami akan berangkat sekarang ke kamp pelatihan pasukan khusus. Sampai bertemu lagi nanti saat makan malam.” Alvero berkata sambil bangkit dari kursi yang ada di pinggiran tempat tidur Vincent, diikuti oleh Deanda.
# # # # # # #
"Selamat datang Yang Mulia, Permaisuri." Begitu Alvero dan Deanda datang ke tempat kamp pelatihan, Marcello langsung menyambut kedua orang penting itu bersama dengan beberapa orang petugas keamanan yang bertugas menjaga pintu gerbang kamp, dan membiarkan ketiga tamunya, Alvero, Deanda dan Erich memasuki wilayah kamp pelatihan itu.
Erich yang berjalan di belakang Alvero dan Deanda, mata tajamnya langsung bergerak mengamati situasi yang ada di sekelilingnya. Melihat penataan bangunan serta beberapa orang yang tampak sibuk berlatih menembak begitu mereka memasuki pintu gerbang kamp pelatihan itu.
“Selamat sore Uncle Marcello.” Baik Alvero maupun Deanda langsung membalas sapaan dari Marcello yang hari ini mengenakan kaos ketat yang terlihat basah kuyub oleh keringat, menunjukkan bahwa baru saja dia melakukan latihan fisik bersama dengan para anggota pasukan khusus.
“Kami memang sengaja berkunjung ke tempat ini untuk melihat perkembangan dari kemampuan para anggota pasukan khusus. Apa ada kesulitan selama menangani pelatihan mereka Uncle?” Marcello langsung menjawab pertanyaan Alvero dengan menggelengkan kepalanya secepat mungkin.
“Mereka semua adalah orang-orang terpilih. Dari awal mereka sudah memiliki kemampuan lebih, di atas rata-rata orang lain. Karena itu kami sebagai pelatih hanya perlu mengasah dan mengarahkan kemampuan mereka. Duke Evan memang memiliki kemampuan hebat dalam menemukan bakat dari masing-masing anggota pasukan khusus ini.” Mercello segera menjawab pertanyaan Alvero.
“Ah, benarkah seperti itu Uncle? Aku jadi merasa semakin penasaran. Aku ingin segera melihat salah satu proses latihan mereka. Apakah ada latihan khusus hari ini Uncle?” Alvero berkata sambil tetap berdiri di tempatnya, dengan mata menatap sekelilingnya.
__ADS_1
Jujur saja Alvero merasa cukup puas melihat kamp pelatihan yang disiapkan secara khusus oleh Enzo itu. Dari tata letak bangunan, tanah lapang, juga hutan yang semuanya memiliki fungsinya masing-masing untuk tempat berlatih. Dan yang pasti semuanya tersedia dengan lengkap. Apapun yang mereka butuhkan ada di sana. Baik gedung latihan, tempat tinggal, maupun bermacam-macam jenis medan yang berbeda untuk tempat berlatih.
“Kalau begitu, saya akan segera mengantar Yang Mulia dan Permaisuri langsung ke tempat pelatihan. Sore ini, beberapa dari mereka sedang melakukan latihan melakukan penyergapan terhadap musuh yang sedang menyandera seseorang. Dan juga pelatihan menjinakkan bom.” Marcello berkata dengan begitu bersemangat, rasanya dia juga begitu tidak sabar ingin memamerkan hasil pelatihannya kepada Alvero dan Deanda.
Marcello ingin membuktikan bahwa dia dan Red memang memiliki kemampuan lebih dalam mengatur sistem pelatihan dan menempatkan orang sesuai dengan kemampuan mereka. Dan ingin menunjukkan kepada Alvero bahwa seperti janji mereka kepada Alvero, dia dan Red tidak akan mengecewakan Alvero.
“Baiklah, kita bisa melihat ke langsung ke lapangan proses latihan mereka.” Mendengar kata-kata Alvero, Marcello langsung menggerakkan tubuhnya ke samping, lalu merentangkan tangannya ke samping, mempersilahkan Alvero dan Deanda untuk berjalan terlebih dahulu, setelah itu Marcello berjalan di samping mereka.
Beberapa anggota dari tim pasukan khusus yang kebetulan berpapasan dengan mereka, segera memberikan salam hormat mereka, kepada raja mereka dengan sikap penuh rasa hormat.
Di belakang mereka tampak Erich yang masih sibuk mengamati kamp pelatihan pasukan khusus itu. Tempat itu mengingatkan kepada Erich saat dia juga harus menjalani pelatihan fisik yang begitu keras sejak kecil bersama Ernest, karena dipersiapkan untuk menjadi pengawal pribadi Alvero yang saat itu masih menjadi seorang putra mahkota.
Setelah berjalan beberapa lama, mereka berempat sampai di sebuah bangunan rumah yang dipakai sebagai tempat latihan, dimana ada seorang sandera berupa boneka manusia diikat di kursi, dan ditubuhnya terlilit sebuah bom yang siap meledak dalam waktu beberapa menit ke depan. Sedang di dalam bangunan itu, selain boneka tampak beberapa orang anggota pasukan khusus berpura-pura sebagai penjahat, dan beberapa orang lainnya bertugas sebagai pasukan yang berusaha menyelamatkan sandera, dab berusaha melumpuhkan para penjahat itu.
Tidak jauh dari sana terdapat sebuah bangunan bertingkat, dimana di bagian sampingnya terdapat menara yang tinggi. Di bagian bawah gedung, merupakan ruang kontrol, dimana terdapat puluhan layar yang menunjukkan rekaman cctv dari berbagai titik lokasi tempat pelatihan.
__ADS_1