BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MASIH SANGAT PERDULI


__ADS_3

“Untuk malam ini, aku sudah menyiapkan kamar untuk uncle Alexis dan juga Alaya. Bagaimana menurutmu Alvero?” Mendengar pertanyaan Enzo, Alvero langsung melirik ke arah Vincent yang dia tahu terlihat masih begitu ingin bersama dengan Alaya maupun Alexis.


Setelah itu Alvero berganti melirik ke arah Deanda yang lebih memilih diam, membuat Alvero tahu bahwa Deanda tidak akan menghalangi mereka berdua untuk tetap tinggal.


“Maaf Pangeran Enzo, bukannya saya tidak menghargai niat baik Pangeran Enzo. Tetapi, malam ini saya harus kembali ke kamp pelatihan, karena besok pagi-pagi sekali saya akan bertemu duke Evan untuk bersama melatih pasukan.” Alexis berkata sambil melirik ke arah Deanda dengan tatapan mata begitu rindu, tapi sayangnya Deanda terlihat tidak begitu perduli dengan kehadirannya di meja makan malam itu.


“Baiklah Uncle Alexis, kalau begitu, sebelum Uncle kembali, bagaimana kalau nanti kita menghabiskan sedikit waktu untuk mengobrol sambil menikmati seduhan kopi yang terkenal nikmat dari café di pinggiran pantai Renhill. Apa mungkin kamu mau bergabung bersama kami Alvero?” Enzo berkata sambil memandang ke arah Alvero.


“Pangeran Enzo, papa Alexis memiliki alergi terhadap kafein.” Mendengar perkataan dari Deanda yang dikatakannya dengan cepat sebelum Alvero menjawab pertanyaan Enzo membuat baik Alexis maupun Alvero menghentikan makannya dan memandang ke arah Deanda yang pura-pura tetap menikmati makan malamnya, seolah bukan dia yang barusan mengeluarkan pernyataan tentang kondisi Alexis yang alergi terhadap kafein.


(Alergi kopi adalah jenis alergi makanan yang menganggap asupan kafein yang terdapat dalam kopi sebagai senyawa berbahaya. Akibatnya, tubuh memproduksi antibodi (imuniglobulin E) yang memicu setiap sel tubuh melawan balik dan menyebabkan peradangan. Gejala alergi kopi dapat muncul segera atau berjam-jam setelah seseorang mengonsumsi zat ini. Secara umum, keluhan yang timbul bisa berupa ruam kulit, rasa gatal, biduran, bengkak, gangguan kecemasan, sakit dada, keringat dingin, kelelahan, sakit kepala, jantung berdebar-debar, dan nyeri otot).


Deanda, putri kecilku yang cantik dan begitu baik hati, bahkan kamu masih ingat tentang alergi kopiku. Ternyata kamu masih ingat hal sekecil itu dengan baik, padahal sudah begitu lama kita berpisah. Bolehkah papa berharap kamu bisa segera memaafkan papa? Setelah sekian lama mengawasimu dalam diam, rasanya ingin sekali papa memelukmu nak.


Alexis berkata dalam hati dengan wajah terlihat bahagia menyadari bahwa Deanda bahkan tidak melupakan hal-hal tentangnya.


Ah, sweety, ternyata di dalam hatimu sosok papa Alexis sungguh berarti dan begitu penting, walaupun kamu masih berusaha menghindari komunikasi dengannya. Dan kamu masih mengingat dengan baik tentang papa Alexis di dalam pikiran dan hatimu. Aku ikut bahagia karena ke depannya kamu akan bisa kembali mengukir kenangan indah bersama papa Alexis, kembali mendapatkan kasih sayang dari papa yang bertahun-tahun selalu kamu rindukan kehadirannya.

__ADS_1


Alvero berkata dalam hati sambil kembali menikmati makan malamnya, tidak ingin membuat Deanda merasa malu atau tidak nyaman karena matanya yang barusan menatapnya kaget begitu Deanda mengungkapkan tentang alergi papanya terhadap kafein.


"Eh, maaf Uncle Alexis, aku tidak tahu kalau Uncle alergi terhadap kefein." Enzo berkata sambil tersenyum.


Sedang Alexis langsung menggelengkan kepalanya mendengar permintaan maaf dari Enzo.


"Tidak masalah Pangeran Enzo. Apalagi sepertinya saya harus segera kembali ke kamp untuk menemui Red. Ada sesuatu yang akan kami bahas mengenai bagaimana cara mendapatkan bukti-bukti kejahatan ibu suri Eliana. Kami akan mulai melakukan list tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu yang sudah terjadi dan kemungkinan para saksi yang masih bisa kami temukan. Justru saya yang seharusnya meminta maaf karena tidak bisa menemani Pangeran Enzo malam ini." Alexis langsung memberikan alasan agar Enzo tidak perlu merasa bersalah.


Ternyata sikap bapak anak itu hampir mirip, begitu menghargai orang lain dan selalu berusaha untuk dapat menjaga perasaan orang lain.


Perkataan Alexis membuat Alvero berkata dalam hati dan kembali tersenyum, mengingat bagaimana sikap Alexis mengingatkannya pada sosok istrinya, Deanda.


"Pasti Pangeran Enzo. Saya akan ingat itu. Terimakasih untuk undangan Pangeran Enzo. Saya sungguh merasa tersanjung." Jawaban Alexis membuat yagn ada di meja itu ikut tersenyum.


Untuk beberapa lama kemudian mereka kembali fokus pada makan malam mereka, deselingi dengan beberapa obrolan ringan, membaut suasana di meja makan menjadi lebih hangat, walaupun Deanda masih terlihat canggung dan tidak mau terlalu banyak ikut terlibat dalam obrolan itu.


"Baiklah, ada sesuatu yang ingin aku umumkan malam ini." Alvero berkata setelah mengakhiri acara makan malam dan membersihkan bibirnya dengan lap makan.

__ADS_1


Begitu mendengar perkataan Alvero, semua mata orang yang hadir di meja makan langsung terfokus pada Alvero, termasuk Deanda, karena dia sendiri tidak tahu apa yang akan diumumkan oleh suaminya malam ini, karena sebelumnya Alvero tidak mengatakan apapun padanya saat ada di kamar tadi.


"Mmmmm, ada kabar bahagia yang ingin aku sampaikan kepada yang ada di sini. Sebentar lagi aku akan menajdi seorang ayah...." Mendengar pengumuman dari Alvero yang diucapkannya dengan senyum di wajahnya yang terliaht begitu bahagia, semua orang yang hadir di meja makan itu membeliakkkan matanya karena kaget.


"Haist.... selamat untukmu Alvero!" Enzo yang duduk di samping Vincent langsung bangkit dari duduknya, memeluk tubuh Alvero, lalu meninju pelan lengan Alvero begitu sudah melepaskan pelukannya.


"Selamat...." Akhirnya semua orang yang ada mengucapkan selamat kepada Alvero dan Deanda.


Alexis menatap wajah Deanda dengan tatapan begitu bahagia dan begitu ingin memeluk putrinya, tapi dia begitu menahan dirinya karena sadar bahwa Deanda mungkin belum sepenuhnya bisa menerimanya kembali. Masih butuh waktu agar Deanda bisa melupakan dan memaafkan sepenuhnya semua kesalahannya.


Menyadari bahwa sebentar lagi bahkan dia akan menjadi seorang kakek membuat Alexis hampir saja tidak bisa menahan air mata haru yang ingin ikut unjuk gigi, menetes di pipinya.


Vincent dan Alaya yang tadi tersentak kaget, beberapa detik kemudian menyungingkan senyum bahagia di wajah mereka setelah mengetahui tentang kehamilan Deanda.


"Tapi, untuk semuanya yang hadir di meja ini dan sudah mendengar kabar bahagia ini. Kita semua tahu bagaimana kejam dan liciknya sifat Eliana. jadi aku sungguh berharap, untuk sementara waktu, berita kehamilan Denda tidak tersebar keluar. Jika sampai itu terjadi, aku khawatir bayi kami akan menjadi sasaran kemarahan Eliana. Karena kehadiran bayi kami, secara otomatis memperkuat posisiku sebagai raja Gracetian." Alvero berkata sambil pandangan matanya berkeliling menatap satu persatu ke arah wajah semua yang hadir di sana.


"Aku setuju sekali dengan pendapatmu nak. Kita tidak bisa lagi memberikan kesempatan kepada Eliana untuk menghancurkan kembali keluarga kita. Lebih baik untuk sementara waktu, berita kehamilan Deanda kita rahasiakan terlebih dahulu." Vincent langsung menanggapi perkataan Alvero dengan nada sedikit geram, mengingat kembali cerita Alexis tentang apa yang sudah dilakukan Eliana kepada istri dan anaknya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2