BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
HASIL GAMBARAN JOSE


__ADS_3

Haist, yang mulia ada-ada saja. Bahkan, aku tidak mengenal dan tahu siapa itu tuan Jose. Tapi, belum-belum, yang mulia sudah terlihat begitu cemburu. Suamiku ini memang sudah tidak bisa ditolong lagi dalam hal rasa cemburunya yang membabi buta.


Deanda berkata dan tersenyum dalam hati. Setelah menikah, Deanda semakin hafal dengan sikap posesif dan pencemburu akut dari Alvero.


Saat-saat di awal menikah dengan Alvero, bahkan sejak mengenal Alvero, Deanda menyadari bagaimana posesif dan pencemburunya Alvero. Permaisuri cantik itu seringkali berpikir bagaimana bisa Alvero bersikap sedemikian rupa, yang kadang membuatnya seperti anak kecil yang manja.


Tetapi setelah sekian lama, akhirnya Deanda memutuskan untuk belajar menerima sikap Alvero yang baginya menunjukkan perwujudan cintanya yang begitu besar.


Apalagi sampai saat ini Deanda melihat bahwa tindakan posesif dan cemburu Alvero tidak diikuti dengan sebuah tindakan ekstrim yang bisa membahayakan hidup atau keselamatan orang lain. Dan lagi, Deanda sudah tahu betul bagaimana cara yang bisa dia gunakan untuk mengendalikan emosi suami tercintanya itu.


“Yang Mulia…” Suara panggilan lirih dari Deanda langsung membuat Alvero menoleh ke arahnya.


“Tidak sweety, kamu tidak boleh bertemu dengan laki-laki lain jika tidak ada aku di dekatmu.” Deanda semakin terbeliak mendengar perkataan Alvero yang bahkan mengucapkannya tanpa menatap lurus ke arahnya.


Maksud hati, Deanda hanya ingin mengingatkan bahwa sore ini mereka harus segera menghadiri acara afternoon tea di halaman istana. Tapi, tampaknya Alvero sudah salah paham berpikir bahwa Deanda berniat menolak keinginan Alvero agar dia menemui Jose di kantor saat ada Alvero bersamanya.


“Yang Mulia, aku hanya ingin mengingatkan kepada Yang Mulia, sudah waktunya untuk mengikuti afternoon tea. Lagipula, aku justru senang Yang Mulia bersedia meluangkan waktu untuk menemaniku bertemu tuan Jose yang tidak aku kenal dengan baik, supaya kami berdua tidak merasa canggung.” Akhirnya Deanda menanggapi perkataan Alvero sambil tersenyum simpul.


Kata-kata Deanda sukses membuat wajah Alvero sedikit memerah karena merasa malu sudah salah paham dengan apa yang akan dikatakan oleh Deanda kepadanya.


Wajah memerah Alvero membuat nyonya Rose dan Ernest semakin keras berusaha menahan tawa geli mereka, sampai pada akhirnya nyonya Rose memilih untuk membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada Alvero untuk berpamitan dan buru-buru pergi menjauh sebelum dia tidak lagi bisa menahan tawa gelinya, melihat sikap Alvero kepada Deanda.


# # # # # # #

__ADS_1


“Selamat siang Yang Mulia, Permaisuri.” Laki-laki yang datang bersama Ernest siang itu ke kantor Alvero, langsung sedikit membungkukkan tubuhnya dengan tangan kanan menyilang ke dadanya, memberi salam hormat kepada Alvero yang duduk di meja kerjanya, dengan Deanda yang berdiri di samping tempat duduk Alvero sambil merapikan tumpukan berkas yang ada di hadapan Alvero.


“Selamat siang tuan Jose.” Alvero menjawab sapaan dan salam penghormatan Jose sambil menggerakkan tangannya.


Setelah itu Alvero bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Jose diikuti oleh Deanda yang segera menyusulnya begitu berkas-berkas tadi sudah tersusun rapi dan dia letakkan di salah satu sisi meja kerjanya, agar nantinya setelah pertemuan dengan Jose, Deanda bisa menyerahkan file-file itu ke departemennya masing-masing.


“Silahkan duduk Tuan Jose.” Alvero berkata sambil tangannya mempersilahkan Jose untuk duduk di sofa yang ada di depannya.


“Terimakasih Yang Mulia.” Jose langsung menjawab dan duduk di sofa.


“Jadi, apa yang bisa saya lakukan untuk Yang Mulia dan Permaisuri?” Dengan sikap hormat, Jose segera menanyakan tentang apa yang harus dia lakukan siang ini.


“Ada sebuah benda yang aku harap bisa dituangkan dalam bentuk gambar oleh Tuan Jose. Secara detail permaisuri Deanda akan menceritakan tentang bentuk dari benda itu.” Jose langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar permintaan dari Alvero.


“Kalau begitu, Anda bisa berbicara dengan permaisuri dan mulai menggambarnya. Silahkan Anda pergi ke meja kerja permaisuri supaya Anda bisa mengerjakannnya dengan nyaman.” Mendengar perkataan Alvero, Deanda dan Jose langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah meja kerja Deanda.


“Silahkan Tuan Jose.” Deanda yang sudah duduk di kursi kerjanya langsung mempersilhakan Jose untuk duduk di hadapannya.


“Baik Yang Mulia Permaisuri. Silahkan Permaisuri menceritakan dengan detail tentang benda yang ingin digambarkan.” Jose yang sudah duduk berkata sambil meletakkan selembar kertas putih di hadapannya, dengan tangan kanannya memegang sebuah pensil.


Deanda baru saja berniat mengatakan tentang liontin milik Alaya yang masih terekam jelas di pikirannya ketika tiba-tiba saja disadarinya Alvero sudah berdiri di samping tempat duduknya sambil salah satu tangannya memegang sandaran tempat duduknya.


Isttt…. Suamiku ini, benar-benar tidak membiarkanku berduaan dengan laki-laki lain walaupun tetap dalam jangkauan pandangan matanya. Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu mati kutu nanti.

__ADS_1


Deanda berkata dalam hati sambil melirik ke arah Alvero yang berdiri di samping tempat duduknya, seperti seorang bodyguard bayaran.


“Silahkan dimulai Permaisuri.” Jose mempersilahkan Deanda dengan sikap hormat.


“Ah, ya tuan Jose. Yang akan aku bicarakan ini adalah sebuah liontin. Berberntuk oval, berukuran kira-kira…” Deanda berkata sambil kembali membayangkan detail dari bentuk dari iontin itu.


Hampir 45 menit Deanda menggambarkan tentang liontin itu, sedang Jose langsung menggoreskan pensilnya di atas kertas putih yang ada di depannya setiap kali Deanda menceritakan tentang ciri-ciri fisik liontin itu.


Setiap kali Deanda menceritakan tentang bentuk liontin itu, Jose langsung menggambarnya, dan langsung menunjukkannya kepada Deanda. Jika Deanda merasa apa yang digambarkan oleh Jose tidak sesuai, Deanda akan kembali menceritakan detailnya, dan Jose akan kembali menggambarkannya kembali.


Demikian dilakukan oleh Deanda dan Jose secara berulang-ulang, sampai pada akhirnya hasil gambar dari Jose sesuai dan persis dengan apa yang ada di pikiran Deanda.


“Ya, seperti ini gambarannya tuan Jose. Persis dengan bentuk aslinya.” Deanda berkata sambil matanya tidak lepas dari kertas dimana Jose sudah menyelesaikan gambar liontin itu.


Begitu mendengar perkataan Deanda, mata Alvero langsung menatap ke arah gambar itu. Dahi Alvero seketika mengernyit begitu melihat bentuk dari liontin itu.


Selama ini Alvero hanya melihat sekilas liontin yang tergantung di leher Alaya itu tanpa pernah mengamatinya dengan seksama, karena tidak mau dianggap tidak sopan, ataupun membuat Deanda cemburu. Hal itu menyebabkan Alvero cukup kaget begitu melihat bentuk asli dari liontin itu.


“Terimakasih untuk bantuannya tuan Jose. Ernest! Segera antarkan tuan Jose kembali.” Begitu Jose selesai dengan tugasnya, Alvero segera memerintahkan Ernest untuk mengantarkan Jose kembali.


Alvero sengaja menahan bicaranya tentang liontin itu, karena menyadari keberadaan Jose di tempat itu. Sehingga dengan cepat Alvero memerintahkan kepada Ernest untuk mengantarkan Jose keluar dari kantornya, agar dia bisa nyaman berbicara dengan Deanda tentang liontin itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2