
"Ok, aku akan pergi lebih dahulu. Selamat menikmati sisa ini hari Tuan Emilio. Selamat bersenang-senang." Erich berkata sambil mengangkat telapak tangannya ke arah Emilio untuk melakukan tos, yang langsung disambut oleh Emilio sambil tersenyum.
Begitu Erich menjauh dari Emilio, hal yang pertama-tama dia lakukan adalah bergegas ke kamar mandi sambil menggembungkan kedua pipinya, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar melalui bibirnya.
Saat Erich sudah berada di kamar mandi dengan cepat dia masuk dan menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam begitu yakin tidak ada orang selain dia di kamar mandi. Dengan gerakan cepat, Erich mengarahkan tinjunya ke dinding kamar mandi, meninggalkan bekas memar di tangannya.
Benar-benar sekumpulan pria tidak berguna! benar-benar sekumpulan sampah yang harus dilenyapkan dari Gracetian!
Erich berteriak dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam dan kepala mendongak ke atas, membiarkan tangannya yang meninju dinding kamar mandi tetap dalam posisi terkepal dan menempel di dinding untuk beberapa saat, dengan tubuh sedikit membungkuk.
Baru kali ini selama menjadi pengawal Alvero, Erich harus berhadapan dengan para pria yang memiliki perilaku kotor dan menjijikkan seperti itu. Membuat tanpa sadar Erich ikut terbawa emosi dan merasa begitu ingin menghajar mereka hingga babak belur.
Setelah beberapa saat berhasil menguasai dirinya, Erich menegakkan kembali tubuhnya dan menarik nafas panjang sesaat. Setelah itu dengan wajah serius Erich keluar dari akmar mandi dan bergegas untuk segera kembali ke mobil, menghindari suara hiruk pikuk dari bar dan bau alkohol yang pekat, yang membuat kepalanya terasa pening.
# # # # # # #
"Sweety, lain kali, aku tidak ingin kamu ikut misi berbahaya seperti ini lagi! Atau kamu akan membuatku menderita penyakit tekanan darah tinggi!" Alvero yang berjalan keluar sambil memeluk bahu Deanda mengomel dengan wajah terlihat jengkel bercampur marah.
__ADS_1
"My Al, dimana letak bahayanya? Sepertinya semuanya baik-baiks aja. Lagipula kamu tahu kemampuanku. Sepuluh orang mabuk tanpa tenaga seperti mereka, bukanlah tandinganku. Aku akan baik-baik saja. Belum lagi kamu juga ada di sana bersamaku. Kamu pasti tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu padaku." Bibir Alvero mendesis pelan mendengar perkataan santai dari Deanda.
Dengan gerakan cepat, Alvero menjitak pelan kening Deanda yang langsung meringis, lalu tersenyum geli.
"Tentu saja aku tidak akan pernah tinggal diam jika ada yang berani mengusikmu. Tapi apakah kamu tidak tahu bagaimana menjengkelkannya ketika melihat para pria menatapmu dengan pandangan terpesona dan menginginkanmu, bahkan tatapan mesum? Tapi karena kondisi, aku tidak bisa menghajar mereka saat itu juga? Orang-orang seperti itu! Harusnya tidak ada alasan yang bisa menyelamatkan mereka dari pukulanku karena sudah berani menatap permaisuriku seperti itu!" Deanda hanya bsia menahan senyumnya mendengar omelan Alvero yang panjang lebar.
Karena Deanda tahu, jika dia tersenyum, itu justru akan memperburuk keadaan karena akan membuat Alvero bertambah emosi. Setelah menikah dengan Alvero, Deanda tahu dengan pasti bagaimana over protektif dan possesifnya Alvero kepadanya. Hal itu membuat Deanda harus bisa dengan cepat memikirkan sesuatu untuk menahan emosi Alvero agar tidak semakin meledak, dan menenangkan hati laki-laki tercintanya itu.
"Sudahlah my Al. Jangan diambil hati, suatu ketika orang-orang seperti itu pasti kena batunya. Hukum tabur tuai akan selalu terjadi. Jika mereka menabur hal buruk seperti itu dalam kehidupan mereka. Hanya tinggal menunggu mereka menuai badai dan masalah." Deanda berkata sambil membuka pintu mobil, dan bergegas masuk ke dalam mobil.
"Tapi mereka benar-benar kurangajar! Kalau tidak demi Enzo, rasanya ingin aku mematahkan leher para laki-laki mesum itu! Gracetian tidak akan pernah rugi jika manusia-manusia seperti mereka dilenyapkan dari kerjaan Gracetian!" Begitu duduk di dalam mobil, Alvero langsung membuka maskernya, lalu melemparnya dengan sembarangan, sambil mendengus kesal.
"Tenanglah, setelah kita mendapatkan semua bukti-bukti, tidak lama lagi mereka semua akan dapat dibereskan dan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kejahatan mereka." Deanda berusaha menenangkan hati suaminya yang tampak begitu kesal.
"Aku tidak habis pikir, bagaimana seorang countess dari keluarga baik-baik seperti Melva bisa terlibat hubungan dekat dengan laki-laki brengsek seperti Emilio. Aku tidak tahu kalau sampai Enzo tadi bersama kita, apa yang akan dilakukan Enzo untuk menghajar Emilio. Walaupun aku orang yang jauh lebih tidak sabaran dibanding Enzo. Tapi jika menyangkut orang yang dicintainya, aku yakin Enzo juga bisa bertindak gila." Alvero mengomel sambil memijat keningnya untuk membuat pikirannya lebih rileks dan dapat mengendalikan emosinya saat ini.
Alvero tahu pasti, dia dan Enzo sama-sama memiliki darah Adalvino. Darah yang kental dengan jiwa kepemimpinan yang handal sekaligus keinginan yang begitu tinggi untuk melakukan apa saja dan melindungi orang yang mereka cintai.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan. Sebentar lagi kita akan bisa menyerahkan Emilio kepada pihak berwenang dengan semua bukti berhasil kita dapatkan. Ke depannya, Emilio tidak akan algi bisa melarikan diri dari jerat hukum." Deanda kembali berkata dengan lembut sambil menyingkirkan tangan Alvero dari keningnya sendiri, lalu dengan perlahan, tangan Deanda menggantikan tangan Alvero untuk memijat kening Alvero.
Mendapat pijatan lembut sekaligus menenangkan dari Deanda, Alvero yang menyandarakan tubuhnya pada sandaran kursi sedikit melorotkan tubuhnya sambil memejamkan matanya. Sekilas Alvero menarik nafas dalam-dalam sambil menikmati pijatan tangan istrinya di keningnya.
"Kita tunggu saja. Sebentar lagi pasti Erich akan menyusul kita. Setelah itu kita bisa pulang dan kamu bisa beristirahat sambil menenangkan dirimu." kata-kata Deanda membuat Alvero tersenyum.
"Menangkan diri ya....?" Alvero berkata pelan dengan mata masih terpejam.
"Hanya kehangatan dan kelembutan tubuh istriku yang bisa membuat merasa hangat dan tenang. Kalau begitu, setelah kita sampai di villa, kita harus melakukan hal "itu" agar hatiku tenang. Seperti yang kamu katakan barusan." Mendengar perkataan Alvero, semburat warna merah langsung terlihat jelas di pipi Deanda yang sebenarnya sedang memakai riasan cukup tebal untuk misi hari ini.
Tapi godaan dari Alvero tetap saja tidak bisa menyembunyikan semburat merah pada wajah Deanda dan sikap canggung Deanda yang langsung muncul akibat permintaan Alvero untuk bercinta dengannya malam ini.
Yang mulia, tidak pernah bosan dan selalu saja ingat jika itu menyangkut tentang urusan di tempat tidur dan aktifitas kami di tempat tidur. Entah darimana datangnya stamina yang mulia. Padahal sedari pagi kami sudah disibukkan dengan urusan papa Vincent dan persiapan untuk misi malam ini. Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan baruku bersama yang mulia.
Deanda berkata dalam hati sambil dipandanginya wajah tampan suaminya yang sedang duduk berselonjor sambil memejamkan matanya, dengan tangan Deanda memijat lembut kedua kening Alvero yang tampak begitu menikmati pijatan tangan dari istrinya.
__ADS_1