
"Itu hal yang mudah. Hanya saja, aku ingin melakukan sedikit permainan agar ibu tirimu merasa terhibur. Rasanya tangan dan pikiranku gatal sekali melihat perilaku ibu tirimu yang semakin hari semakin menjadi itu. Aku ingin sekali-sekali membuat sebuah kejutan dan memberi pelajaran berharga kepada wanita licik itu. Sudah seharusnya dia perlu diberi shock teraphy agar sadar tentang posisinya yang sebenarnya. Rasanya dia memang perlu diberi sebuah kejutan yang akan dia ingat seumur hidupnya. Bolehkah aku melakukan itu terhadap ibu tirimu yang tercinta?" Mendengar permintaan dari Ornado, Alvero langsung tertawa tergelak.
(Kata shock therapy tergolong cukup populer digunakan di media massa yang mengonotasikan ‘suatu lecutan atau cambukan yang membangunkan orang atau institusi yang ‘adem ayem’ melakukan penyimpangan atau kelalaian berlarut-larut tanpa mendapat sanksi apapun. Namun tahukah Anda bahwa ungkapan ‘shock therapy’ ini dahulunya adalah istilah kedokteran (medis) yang mempunyai nama lengkap ‘electric shock therapy’? Ini adalah metode pengobatan penderita gangguan jiwa dengan cara ‘menyetrum’ otaknya dengan aliran listrik. Cara pengobatan yang cukup ’sadis’ ini dimulai sekitar tahun 1930an, dan hasilnya cukup signifikan terhadap kelainan jiwa yang membandel).
Entah apa yang sedang direncanakan oleh Ornado, yang pasti Alvero yakin itu akan membuat Eliana marah besar, namun juga tidak bisa berkutik, apalagi membalas Ornado. Memikirkan tentang itu, bahkan saat ini Alvero ingin segera mengetahui apa sebenarnya sedang direncanakan Ornado.
Tetapi, karena Ornado mengatakan di awal itu adalah sebuah kejutan, Ornado pasti tidak akan memberi Alvero bocoran, atau itu tidak bisa lagi disebut sebagai kejutan. Dan Alvero sengaja membiarkan Ornado bertindak sesuai keinginannya, karena dia percaya sepenuhnya kepada Ornado bahwa itu akan menjadi sesuatu yang betul-betul menyenangkan baginya.
"Kalau begitu, kamu bebas melakukan apapun tentang itu. Aku percayakan semuanya padamu." Perkataan Alvero membuat Ornado kembali tertawa.
"Aku jamin, kamu akan mendapatkan pertunjukan drama kolosal yang menarik." Dengan santai Ornado berkata sambil duduk di pinggiran tempat tidur.
__ADS_1
"Apapun itu, semua akan aku serahkan padamu. Aku percaya itu adalah sesuatu yang seperti kamu katakan tadi, akan menjadi sebuah pertunjukan yang sangat menarik." Alvero langsung mengiyakan perkataan Ornado.
"Ok, serahkan padaku. Dan kamu tidak akan pernah menyesal. Ah ya, jangan lupa janjimu untuk mengunjungiku di sini dan memperkenalkan istrimu pada istriku. Aku akan segera menagih janjimu setelah kamu berhasil menyingkirkan wanita ular itu dari kerajaanmu." Alvero langsung meringis mendengar perkataan dari Ornado.
"Tenang saja Ad, setelah semuanya tenang, aku pasti akan segera menyusulmu ke sana. Kamu tahu, karena kamu waktu itu kamu selalu menceritakan dan memamerkan keindahan negara tempat asal istrimu, permaisuriku jadi begitu antusias untuk segera berkunjung kesana. Dan jika saat itu tiba, jangan lupa menyambut kedatanganku dengan semua makanan enak dan tempat-tempat indah yang bisa kamu pamerkan kepada kami. Seperti yang sudah pernah kamu janjikan pada permaisuriku...." Dengan santai Alvero menjawab perkataan Ornado.
"Pasti! aku tidak akan pernah membuatmu kecewa Yang Mulia." Ornado langsung menanggapi permintaan dari Alvero dengan senyum di wajahnya.
"Ok, kalau begitu, di sana pasti sudah tengah malam. Waktumu untuk beristirahat, sayangnya kamu harus tidur sendiri malam ini." Mendengar ejekan dari Alvero, Ornado langsung membulatkan matanya, setelah itu dia langsung menyungingkan sebuah senyum bangga di wajahnya.
Setelah itu tawa Alvero langsung pecah, membuat Erich dan Ernest saling melirik karena sedikit kaget dengan tawa yang tiba-tiba dari Alvero.
__ADS_1
"Kalau begitu selamat menjalani pernikahan yang sebenarnya Ad. Aku yakin malam ini kamu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Jika butuh teman untuk curhat. Tolong untuk malam ini jangan mengingat namaku. Akupun ingin tidur dengan damai di samping istriku malam ini." Alvero berkata dengan tetap tertawa lepas karena memiliki kesempatan emas untuk terus menggoda Ornado.
"Haist... siapa juga yang ingin mengganggumu. Bisa-bisa aku kena hukuman pancung gara-gara mengganggu kemesraan raja Gracetian dan permaisurinya. Sudahlah, jangan menggodaku terus, kamu tahu betul bagaimana kita berdua akan terus berbicara melalui telepon jika tidak menghentikan pembicaraan kita sekarang." Ornado berkata sambil bangkit dari duduknya, bersiap untuk kembali ke kamarnya dan menikmati keberadaan sosok istrinya yang mulai malam ini akan tidur di sampingnya.
"Kalau begitu, selamat malam. Selamat senam jantung untukmu malam ini. Ha ha ha." Alvero mengakhiri panggilan teleponnya dengan Ornado, sambil tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya, kamu bisa mendapatkan hati gadis kecil milikmu Ad. Aku ikut bahagia untukmu. Semoga trauma istrimu bisa segera disembuhkan, dan kalian bisa hidup bahagia sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai sampai maut memisahkan, dan aku harap itu terjadi pada waktu yang sangat lama, sampai kalian berdua menua bersama dan melihat kesuksesan anak cucu kalian.
Alvero berkata dalam hati, sambil senyum bahagia tersungging di bibirnya.
Bagi Alvero mendengar bagaimana hubungan Ornado dan istrinya yang sudah mulai mengalami kemajuan membuatnya ikut senang. Alvero sungguh berharap kalau sahabatnya itu juga mememukan kebahagiaan dalam pernikahannya dengan gadis pilihannya.
__ADS_1
# # # # # # # #
"Avitus! Berani-beraninya dia menantangku!" Eliana melempar handphone yang ada di tangannya tanpa perduli lagi, begitu suara Avitus tidak lagi terdengar, dan ada nada yang menunjukkan bahwa Avitus sudah memutuskan panggilan teleponnya tanpa berpamitan kepadanya, membuat Eliana merasa begitu diremehkan dan ditantang oleh Avitus.