BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERTEMUAN DENGAN VINCENT


__ADS_3

"Tidak perlu Duke Evan. Ada banyak hal yang mungkin sudah dikerjakan atau dipikirkan oleh pangeran Enzo. Biarkan dia beristirahat." Alvero berkata sambil sedikit berjalan ke arah Erich.


"Kalau begitu, saya akan segera kembali ke pos saya Yang Mulia, Permaisuri. Selamat pagi, selamat beristirahat." Evan segera berpamitan karena dilihatnya salah seorang pengawal di ambang pintu villa sedang menunggunya untuk memberikan laporan kepadanya, melalukan persiapan untuk pergantian shift penjagaan di villa.


Sebelum pergi, sekilas Evan melirik ke arah Deanda yang kebetulan sedang menoleh ke arah Erich, sehingga tidak menyadari bahwa mata Evan sedang memandang ke arahnya. Sekilas, hanya sekilas, tapi Evan merasa lega wajah Deanda hari ini terlihat segar dan tenang, menunjukkan bahwa kondisi Deanda baik-baik saja selama perjalanan berdua dengan Alvero. Dan sepertinya, setelah menikah, meliaht wajah ceria Deanda, paling tidak Evan merasa tenang karena yakin Alvero memperlakukan Deanda dengan baik.


Tanpa sadar Evan menahan nafasnya sekilas sebelum akhirnya bergerak menjauh dan memaksa matanya untuk mengalihkan pandangannya dari sosok cantik Deanda yang masih begitu sulit untuk dia lepaskan.


Begitu Evan menjauh dari Alvero dan Deanda, Erich langsung berjalan mendekat ke arah kedua tuannya itu.


"Yang Mulia, Permaisuri, silahkan..." Tanpa banyak mengeluarkan kata-kata, Erich langsung menjulurkan telapak tangannya ke samping tubuhnya, mempersilahkan Alvero dan Deanda untuk berisitirahat sebentar di kamar yanmg sudah dipersiapkan untuk mereka berdua sebelum nanti bertemu dengan Vincent.


Dan kamar itu tepat berada di sebelah kanan kamar yang sedang ditempati oleh Vincent. Dengan gerakan cepat, Erich membukakan pintu kamar untuk Deanda dan Alvero.


"Apa selama beberapa hari ini papa baik-baik saja Erich?" Alvero berkata sambil melangkah masuk ke dalam kamar diikuti Deanda, sedang Erich tetap berdiri di ambang pintu dengan tangannya masih memegang handle pintu kamar, menahannya agar pintu terbuka lebar dan dengan nyaman Alvero dan Deanda bisa melangkah masuk ke dalam kamar.


"Kondisi yang mulia Vincent sudah jauh lebih baik sejak peristiwa pingsannya beliau waktu itu. Sepertinya dokter yang menangani yang mulia Vincent sekarang, juga dokter yang memiliki kemampuan hebat. Sehingga kondisi yang mulia Vincent sekarang bahkan lebih baik dari kondisi beliau saat masih di istana, sebelum pingsan malam itu." Sebuah senyuman yang menunjukkan perasaan lega langsung tersungging di bibir Alvero dan Deanda mendengar penjelasan dari Erich.


"Setelah kamu selesai dengan tugasmu menemani papa berjemur, aku ingin melakukan pertemuan pribadi dengan papa. Mungkin jam 9 pagi nanti. Aturkan itu dengan baik. Beri aku waktu satu sampai dua jam tanpa ada seorangpun yang mengganggu." Alvero berkata sambil melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, melihat masih ada waktu sekitar 3 jam lagi dari waktu yang dia minta untuk bertemu dengan papanya.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia." Erich menjawab singkat perintah dari Alvero, tanpa banyak bertanya, dan juga tanpa ekspresi, entah heran, kaget, ataupun bertanya-tanya.


"O, ya..... Kosongkan jadwalmu siang sampai malam ini. Setelah pertemuan dengan papa, ada hal yang harus kita kerjakan di Renhill. Apa yang akan kita lakukan setelah ini akan memakan waktu cukup lama. Karena itu, aturkan penggantimu untuk menjaga papa Vincent." Alvero berkata sambil menarik nafas panjang.


Saat ini pikirannya sedang dipenuhi dengan rencana-rencananya tentang kekasih Melva yang sudah dia persiapkan dengan baik di otaknya, dan siap untuk dieksekusi, hanya menunggu waktu setelah pembicaraannya dengan Vincent selesai.


"Baik Yang Mulia." Lagi-lagi Erich hanya menjawab singkat perintah Alvero, seperti biasanya.


Saat tidak diperlukan, sosok Erich tidak akan rela membuang-buang tenaga untuk membuka bibirnya dan bersuara. Dia akan lebih memilih untuk diam dan hanya memperhatikan. Namun akan bertindak lebih cepat dan lebih tangkas dibandingkan siapapun yang ada di sekitar Alvero jika itu untuk melindungi Alvero.


Dalam hidup Erich, yang merasa hidupnya sudah diselamatkan oleh Vincent, melindungi Alvero adalah prioritas utama dalam hidupnya, melebihi apapun. Bahkan perintah dan keselamatan Alvero bagi seorang Erich, jauh lebih penting dari keselamatan dan nyawanya sendiri.


Meskipun Erich mengernyitkan dahinya sekilas, karena sedikit heran dengan keinginan Alvero untuk makan di luar villa, Erich hanya mengangguk tanpa berniat bertanya lebih lanjut.


"Kalau begitu, saya permisi Yang Mulia, Permaisuri." Erich berkata dengan sedikit menundukkan tubuhnya, dengan sikap hormat.


"Baik Erich. Jangan lupa, setelah urusan kami dengan papa Vincent selesai. Ada sesuatu yang harus kita lakukan bersama. Kali ini aku berharap kamu bisa melakukannya dengan baik bersama kami." Sebelum Erich keluar dari kamar dan menutup pintu, Alvero segera berteriak kecil, mengingatkan Erich untuk bertemu dengannya, untuk melakukan sebuah misi.


Dan yang pasti, sampai detik ini Erich tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Alvero. Dengan langkah sigap, Erich melangkah mundur sambil menutup pintu kamar dengan hati-hati, setelah itu segera pergi menjauh dari sana.

__ADS_1


"Sweety..." Alvero yang sudah meletakkan tas ranselnya di meja yang ada di walk in closet segera memanggil Deanda agar ikut meletakkan tas ranselnya di sana.


"Ah, ya, sebentar...." Deanda yang awalnya masih berdiri di tempatnya sambil sedikit melamun dengan langkah cepat bergerak menyusul Alvero.


Begitu Deanda meletakkan tas ranselnya di sebelah tas ransel milik Alvero, dengan gerakan pelan dan lembut, Alvero langsung melingkarkan lengannya ke bahu Deanda.


"Kita bersihkan muka kita sebentar, setelah itu kita pergi berjalan-jalan sebentar mencari sarapan sebelum menemui papa. Aku sudah lama tidak mengunjungi Renhill untuk bersantai. Ada satu kedai yang hanya buka di pagi hari yang pai isi dagingnya aku sangat suka. Kamu harus mencobanya." Alvero berkata sambil mengajak Deanda berjalan ke arah kamar mandi.


# # # # # # #


"Selamat pagi pa..." Alvero langsung menyapa Vincent dan berjalan mendekat ke arah laki-laki yang sedang duduk di atas kursi rodanya, dengan Erich yang berdiri di sampingnya.


Suara sapaan dari Alvero membuat Vincent yang awalnya sedang memandang keluar jendela langsung menggerakkan kursi rodanya ke samping kanan, ke arah asal suara. Sebuah senyum bahagia langsung tersungging di bibir Vincent begitu melihat sosok Alvero mendekat ke arahnya.


Di belakang Alvero, Deanda berjalan mengikuti langkah-langkah suaminya, memasuki kamar Vincent. Begitu berada di hadapan Vincent, Alvero langsung membungkukkan tubuhnya hingga membentuk sudut 90 derajat, dan memeluk tubuh Vincent yang langsung disambut oleh Vincent dengan sebuah pelukan balasan dengan kedua tangannya langsung menepuk-nepuk dengan lembut punggung Alvero untuk menunjukkan rasa senang dan bangganya terhadap kehadiran putra sulungnya itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2