BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
DUKE LEXI, PENYELAMAT ALEXIS DAN LARENA


__ADS_3

“Saat itu saya terlalu fokus untuk menyelamatkan permaisuri Larena, sehingga ketika sopir truk itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak, saya tidak berhasil menolongnya. Dan saya yakin itu semua perbuatan dari permaisuri Eliana. Selama waktu itu, saya hanya bisa menaruh kecurigaan kepada ibu suri Eliana, tapi belum bisa menemukan buktinya. Permaisuri Eliana begitu ahli dalam melakukan kejahatan dan membuatnya begitu rapi, tanpa jejak.” Setelah diam beberapa detik, Alexis melanjutkan ceritanya.


“Saat saya sudah menemukan info tentang dimana bukti-bukti itu berada, saya mengalami kecelakaan jatuh dari tebing dan pihak istana mengeluarkan pengumuman bahwa saya meninggal saat bertarung melawan pimpinan pemberontak. Saya selamat karena pertolongan dari salah satu anak buah duke Lexi waktu itu. 6 bulan saya tidak dapat bergerak dengan bebas karena mengalami patah tulang setelah peristiwa itu, dan dengan sembunyi-sembunyi, duke Lexi mengaturkan pengobatan terbaik untuk saya tanpa diketahui oleh orang lain. Setelah itu, saya mendengar bahwa terjadi sesuatu di apartemen permaisuri Larena.” Alexis Kembali menarik nafas panjang sebelum melanjutkan bicaranya.


“Karena alasan itu juga, ketika saya jatuh dari tebing dan orang mengira saya sudah meninggal, untuk sementara waktu saya pergi keluar negeri untuk menjaga putri Alaya yang saya dengar hampir terjatuh dari lantai apartemen permaisuri Larena ketika bermain di dekat jendela, sedangkan permaisuri sedang dalam kondisi yang tidak sehat saat itu.” Alexis melanjutkan kata-katanya sambil melirik ke arah Deanda yang wajahnya terlihat kusut.


“Pa… kenapa saat itu bahkan Papa pergi tanpa mengatakan apapun padaku? Apakah aku seorang anak yang tidak bisa menjaga rahasia? Kenapa selama belasa tahun tidak sekalipun Papa datang menjengukku. Tidakkah Papa perduli sedikitpun padaku?” Akhirnya Deanda mengeluarkan sebagian pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya sambil berusaha keras mengatur nada suaranya agar tetap terdengar tenang.


Walaupun mencoba bersikap tenang, tapi dari suara Deanda yang terdengar bergetar, orang lain bisa mengerti saat ini emosi Deanda sedang teraduk-aduk. Apalagi Deanda tidak bisa mencegah air matanya yang kembali turun membasahi pipinya.

__ADS_1


“Maafkan saya permaisuri Deanda, saat itu Anda tahu sendiri bagaimana baiknya Lilian terhadap Anda. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa bertindak sekejam itu setelah saya pergi. Selain itu, permaisuri Eliana tampaknya tidak percaya saya sudah meninggal sebelum melihat jasad saya. Sehingga diam-diam, dia menyebarkan orang untuk mencari keberadaan saya, bahkan selama 24 jam mengawasi rumah kita dan menawarkan sejumlah besar uang kepada orang yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan saya, sehingga saya tidak bisa sembarangan muncul di tempat umum, apalagi menemui Anda.” Alexis berusaha bersikap sopan dan menghormati posisi Deanda sebagai permaisuri Gracetian, sehingga dia berbicara dengan bahasa formal kepada Deanda yang dia lihat belum bisa sepenuhnya menerima kehadirannya kembali.


“Saya bisa pergi ke luar negeripun saat itu dengan menggunakan identitas baru saya karena orang-orang suruhan Eliana terus melakukan pengawasan, terutama jalur-jalur transportasi ke luar dari Gracetian. Dan untuk itu ayah dari duke Evan, adalah orang yang sudah berjasa banyak dalam menolong saya dan permaisuri Larena. Beliau memberikan begitu banyak bantuan kepada kami, dan mengurus semuanya dengan baik. Mulai dari identitas baru, proses perjalanan, maupun tempat tinggal baru kami di luar negeri. Semua duke Lexi yang melakukannya dengan begitu baik, sehingga permaisuri Larena dan saya bisa terlepas dari pengamatan orang-orang suruhan ibu suri Eliana.” Sambil mengucapkan kata-katanya, ingatan Alexis kembali kepada sosok tampan dan gagah duke Lexi, ayah dari duke Evan yang waktu itu sudah membantunya dan Larena keluar dari Gracetian dengan identitas baru, sehingga luput dari pengamatan para suruhan Eliana.


Bahkan tempat tinggal dan sistem keamanan apartemen yang ditempati oleh Larena, duke Lexi sendiri yang mengaturkannya.


Sayang sekali beliau harus meninggal di usia yang masih cukup muda karena sakit kanker yang dideritanya, padahal aku belum sempat membalas segala kebaikannya. Melihat sosok duke Evan di kamp pelatihan pasukan khusus sungguh membuatku teringat akan sosok duke Lexi.


“Bertahun-tahun saya mencoba kembali ke Gracetian. Tapi saya melihat kondisi yang belum kondusif. Tanpa sepengetahuan siapapun, permaisuri Eliana hingga saat ini belum mencabut perintahnya kepada orang-orang suruhannya yang banyak di selundupkan ke berbagai pos penting di Gracetian, untuk selalu mengawasi dan melaporkan padanya sosok orang bernama Alexis Federer, dan foto saya beserta perkiraan wajah dan postur tubuh di usia saya yang sekarang ini masih ada di tangan orang-orang suruhan permaisuri Eliana.” Alexis menjelaskan alasan tentang kesulitannya untuk kembali ke Gracetian berapa lama ini.

__ADS_1


“Sudah setahun yang lalu, sebenarnya saya sudah kembali ke Gracetian dengan melalui jalur laut, menyamar sebagai awak kapal pesiar. Dan dengan sengaja saya sengaja memanjangkan rambut dan jambang saya untuk menyamarkan wajah asli saya. Tapi saya belum berani menunjukkan jati diri saya sebelum saya menemukan semua bukti kejahatan permaisuri Eliana. Selama setahun ini, saya selalu berada di deakt permaisuri Deanda. Berusaha hadir di setiap momen penting yang dialami permaisuri Deanda tanpa diketahui oleh siapapun. Termasuk saat hari pertunangan dan pernikahan permaisuri dan yang mulia Alvero. Saya selalu berdoa yang terbaik untuk kehidupan permaisuri Deanda.” Deanda kembali menundukkan wajahnya mendengar perkataan Alexis yang terdengar tulus dan terlihat jelas bahwa laki-laki itu begitu merindukan dan menyayangi Deanda, bahkan air mata Alaya mengalir dengan deras karena dia bisa membayangkan bagaimana perasaan Deanda.


Alaya berusaha menempatkan dirinya pada posisi Deanda, dan dia tahu itu bukan sesuatu yang mudah, mendapatkan kenyataan tentang keberadaan ayah yang sudah dikiranya meninggal.


“Tapi apapun alasannya, sebagai seorang ayah, saya memang bersalah kepada putri saya. Dan jika Permaisuri ingin menghukum saya, saya siap menerimanya. Saya tidak akan mencari alasan untuk membenarkan diri. Saya memang bersalah sudah menelantarkan putri kandungku sendiri. Saya bukanlah seorang ayah yang baik.” Alexis berkata sambil menegakkan tubuhnya yang sedang terarah kepada Deanda dengan sikap hormat, seperti seorang bawahan kepada atasannya.


Dan sikap dan perkataan Alexis yang mengakui kesalahan dan siap menerima hukuman, bukannya membuat Deanda merasa senang atau puas, tapi justru membuatnya airmatanya kembali keluar dengan deras.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku begitu kecewa padamu karena sudah meninggalkanku tanpa sepatah katapun, tapi aku juga tahu saat itu semua yang dialami papa bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Dan penjelasan tentang apa yang sudah terjadi, bukan seratus persen semua itu adalah salah papa. Belum lagi papa menerima amanat dari mama untuk melindungi mama Larena. Tapi tidak bolehkah aku bersikap sedikit egois untuk dapat memiliki waktu dan kasih sayang dari papaku sendiri? Tumbuh dalam lingkaran kasih sayang seorang ayah? Ya Tuhan, rasanya aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan sekarang. Aku terlalu menyayangi papa sehingga tidak bisa membencinya, tapi hatiku masih terasa begitu sakit, sehingga aku belum bisa mengatakan bahwa aku sudah melupakan semua kesalahan papa.

__ADS_1


Deanda berkata dalam hati sambil menutup kedua matanya dengan erat, mencoba menenangkan dirinya dan menjernihkan pikirannya.


__ADS_2