BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
RENCANA TERHADAP ALAYA


__ADS_3

Setelah itu nyonya Rose memandang ke arah Deanda, wanita cantik yang tampak tidak terlalu suka banyak bicara itu, selalu membuat nyonya Rose bahagia bahwa wanita secantik dan sebaik Deandalah yang mendampingi Alvero. Namun, di sisi lain, melihat sosok wanita semuda Deanda harus memikul tanggung jawab berat sebagai permaisuri Gracetian dan mendampingi Alvero yang memiliki musuh sekuat Eliana membuat nyonya Rose merasa hatinya sedikit trenyuh saat melihat sosok Deanda yang mengingatkannya kepada sosok Larena Hilmar.


Aku sungguh berharap permaisuri Deanda adalah sosok permaisuri yang jauh lebih kuat dari permaisuri Larena. Karena ibu suri Eliana bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi.


Nyonya Rose berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya dari Deanda kembali ke sosok Alvero.


"Yang Mulia, beruntung kita mendapatkan info tentang rencana ibu suri Eliana kali ini. Jadi kita bisa menyusun strategi untuk melawannya." Mendengar kata-kata Ernest, Alvero hanya terdiam dengan mata melirik ke arah Deanda.


"Aku justru sedang memikirkan bagaimana cara agar wanita itu berpikir bahwa rencananya akan berhasil." Mendengar perkataan Alvero, baik nyonya Rose maupun Ernest langsung membeliakkan matanya, sedang Deanda hanya menarik nafas dalam-dalam.


"Apa maksud Yang Mulia? Apa maksudnya Yang Mulia atau Permaisuri akan dengan sengaja menjalin hubungan dengan seseorang untuk membuat..."


"Haist! Jangan sembarangan bicara Ernest! Jangan berpikir kami berdua berencana untuk selingkuh! Dijauhkanlah hal itu diantara aku dan permaisuri!" Alvero langsung memotong perkataan Ernest yang berpikir bahwa untuk membuat Eliana percaya rencananya berhasil harus membuat Alvero atau Deanda pura-pura selingkuh.

__ADS_1


"Lalu... apa yang akan Yang Mulia rencanakan?" Ernest bertanya dengan nada suara ragu-ragu, mencoba menebak apa yang ada di pikiran Alvero.


"Aku belum tahu, tapi aku sedang memikirkan tentang sesuatu yang mungkin terlihat gila. Tapi aku mau mencobanya." Mendengar perkataan Alvero, baik Ernest, nyonya Rose maupun Deanda langsung memusatkan pandangan matanya kepada Alvero.


"Sweety... kamu percaya sepenuhnya kepadaku kan? Aku akan selalu memegang teguh sumpah pernikahan kita. Kamu tidak akan mempertanyakan dan merahukan tentang perasaanku kepadamu kan?" Pertanyaan Alvero sukses membuat Deanda menganggukkan kepalany dengan sikap terlihat gugup.


Melihat itu dengan cepat Alvero meraih tangan Deanda, menggenggamnya dengan erat sebelum akhirnya membawanya ke bibirnya dan menciumnya dengan mesra dengan hidung mancungnya untuk beberapa saat dengan penuh perasaan cinta.


"Yang Mulia!" Baik Ernest maupun nyonya Rose langsung berteriak untuk menyatakan protes mereka mendengar rencana Alvero yang bagi mereka akan menyakitkan bagi Deanda.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero, Deanda hampir saja menarik tangannya yang sedang berada dalam genggaman tangan Alvero untuk menyatakan protesnya. Namun, pada akhirnya Deanda tetap membiarkan tangannya berada dalam genggaman tangan Alvero, dan menatap wajah Alvero dalam-dalam dengan mata ambernya, seolah sedang berusaha melakukan scanning terhadap pikiran dan hati Alvero.


(Pengertian scanning adalah suatu teknik membaca cepat untuk mencari informasi tertentu atau informasi yang spesifik. Selain scanning, teknik membaca cepat lainnya adalah skimming. Perbedaannya adalah pada tujuan. Skimming adalah membaca cepat untuk mendapatkan ide atau gagasan dari suatu bacaan atau teks secara umum, pembaca tidak perlu membaca kata per kata).

__ADS_1


"Yang Mulia... rencana itu terlalu berbahaya. Kita tidak mengenal siapa Alaya, info tentang dia Erich juga menyatakan belum lengkap. Kita tidak bisa mengambil resiko besar seperti itu." Ernest mengungkapkan sarannya dengan wajah terlihat gelisah, tidak menyangka bahwa Alvero yang selama ini dia tahu begitu mencintai Deanda, tiba-tiba bisa berpikir tentang hal yang tidak masuk akal seperti barusan.


"Sweety... jika kamu mengatakan tidak boleh, aku akan berhenti memikirkan ide itu. Aku juga hanya akan membuat rumor, bukan benar-benar melakukan sesuatu dengan gadis itu. Semua tergantung pada jawabanmu sweety." Alvero berkata dengan wajah terlihat tenang dengan mata hazelnya menatap ke arah Deanda yang masih terdiam.


"Yang Mulia.... aku akan selalu mendukung apapun Yang Mulia lakukan untuk Gracetian. Termasuk rencana Yang Mulia bersama Alaya. Aku sepenuhnya percaya kepada Yang Mulia yang pasti bsia menjaga diri dan tidak akan jatuh ke lubang yang sama dengan yang mulia Vincent. Namun..." Deanda menghentikan bicaranya, menarik nafas panjangsebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.


"Sebelumnya, aku ingin menanyakan sesuatu kepada Yang Mulia. Di luar sana mungkin bukan hanya Alaya yang tidak menimbulkan alergi kepada Yang Mulia. Kenapa Yang Mulia memilih Alaya? Apa karena Yang Mulia merasa dia teman masa kecil Yang Mulia?" Pertanyaan Deanda langsung membuat Alvero menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak! Aku pastikan gadis kecil yang aku cari bukan dia! Karena gadis kecil yang waktu itu tidak memiliki tahi lalat di wajahnya seperti yang dimiliki Alaya. Aku bisa memastikan bahwa Alaya bukanlah gadis yang aku cari. Tapi... Alaya.... di lehernya, terkalung sebuah kalung dengan liontin yang bagiku tidak asing. Entah dimana dan siapa yang memiliki liontin itu, aku merasa begitu mengenal bentuk dari liontin itu. Aku pasti pernah melihat seseorang mengenakan liontin itu di masa lalu. Dan aku pastikan, bukan hanya sekali aku pernah melihat liontin itu." Alvero berkata lirih sambil berusaha mengingat-ingat dengan baik, dimana dia pernah melihat liontin itu. Namun, untuk saat ini, walaupun Alvero berusaha dengan keras mengingatnya, dia tidak bisa mengingat siapa pemilik liontin itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2