
Deanda menahan nafasnya sebentar sambil tersenyum senang dan tangannya bergerak mengambil beberapa bahan yang akan dia olah untuk makan siangnya bersama Alvero, sesuatu yang sangat disukainya selama ini. Menyiapkan makanan untuk laki-laki yang begitu dikaguminya. Dan sekarang hal itu sudah menjadi kewajiban baginya sebagai istri, bukan seperti dulu, kewajiban yang harus dilakukan karena dia merupakan karyawan dari Alvero.
Dan melakukan hal seperti itu untuk suaminya adalah hal yang begitu menyenangkan bagi Deanda. Walaupun sejak dia masuk ke istana Deanda dikelilingi oleh puluhan, bahkan ratusan pelayan dan pengawal Namun, ada saatnya sesekali Deanda ingin menyiapkan makan untuk Alvero sebagai salah satu bentuk rasa sayangnya kepada laki-laki itu. Hal itu merupakan hal yang hanya dengan membayangkannya saja sudah cukup membuat Deanda bahagia.
"Sweety..." Deanda sedang mengambil bumbu-bumbu yang ada di kitchen set, yang ada di bagian atas dinding tembok dapur, ketika Alvero yang sudah selesai melakukan panggilannya dengan Ernest sambil berjalan mendekat dan memanggilnya.
Mata Alvero langsung terbeliak melihat bagaimana sosok Deanda yang hanya mengenakan kemeja lengan panjangnya tanpa memakai celana panjang atau paling tidak celana pendek di bagian bawah tubuhnya. Karena posisi Deanda yang sedang berjinjit sambil tangannya terulur ke atas untuk meraih bumbu dapur membuat kemeja yang dikenakannya ikut naik ke atas, tersingkap dengan sukses dan menunjukkan seluruh bagian paha putih mulusnya yang terlihat begitu seksi bagi mata Alvero yang sedang menatap ke arahnya, membuat Alvero menelan ludahnya dan langsung bergerak cepat ke arah Deanda.
Dengan cepat Alvero membantu Deanda meraih wadah bumbu yang tadinya hendak diambil oleh Deanda, membuat Deanda langsung menarik tangannya dan menginjakkan telapak kakinya kembali ke lantai.
"Eh... terimakasih." Deanda berkata lirih.
"Jangan terus menerus menggodaku sweety. Aku laparrrr.... Kalau kamu tidak segera menyajikan makanan buatku, jangan salahkan aku jika aku terpaksa memakanmu kembali." Alvero berkata sambil meringis dengan kedua tangannya menarik kemeja yang dikenakan olah Deanda ke bawah agar menutupi kembali sebagian paha mulus wanita cantiknya, kalau tidak ingin dia kembali tergoda dan tidak ingat sedari tadi perutnya sudah mengeluarkan suara tanda cacing-cacing dalam perutnya sedang memberontak karena lapar.
"Kalau begitu duduklah dengan baik, aku akan menyiapkan makan untukmu. Apa yang sedang kamu inginkan untuk makan siangmu?" Deanda berkata sambil mendorong tubuh Alvero, dan begitu sampai di kursi yang ada di bagian depan meja dapur, Deanda memegang sandaran kursi itu dengan tangan kirinya, sedang telapak tangan kanannya terarah ke dudukan kursi, mempersilahkan Alvero untuk duduk sambil menunggunya memasak.
__ADS_1
"Apapun yang akan kamu masak siang ini aku pasti akan melahapnya. Apapun asal jangan terlalu lama. Aku sangattt... kelaparan." Alvero berkata sambil melihat ke arah Deanda yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tangan kanannya bergerak-gerak, memberikan tanda agar Alvero duduk.
Melihat tindakan Deanda, Alvero langsung tertawa geli sambil mengambil posisi duduk di kursi yang ditunjuk oleh Deanda barusan.
"Ok, duduklah baik-baik di sini, tunggu aku memasak untukmu." Deanda berkata sambil berjalan kembali ke balik meja dapur, mulai memasak sesuatu yang cukup simple dan cepat, spaghetty bolognese.
(Spaghetti Bolognese adalah salah satu varian spaghetti yang mendunia hingga saat ini. Biasanya disajikan dengan saus Bolognese yang terbuat dari tomat, daging sapi cincang, bawang putih, anggur dan rempah-rempah lainnya. Saus Bolognese adalah saus berbasis daging, khas kota Bologna, Italia. Biasanya digunakan untuk membumbui tagliatelle al ragù dan untuk membuat lasagna alla bolognese. Jika tidak ada tagliatelle, saus ini juga dapat digunakan bersama dengan pasta datar dan lebar lainnya, seperti pappardelle atau fettuccine. Saus bolognese autentik Italia memang berbeda dengan spaghetti bolognese yang dikenal di luar Italia. Spaghetti bolognese yang kita kenal lebih mirip ragù alla napoletana di Italia. Spaghetti Bolognese telah menjadi makanan favorit di Eropa dan Amerika, yang juga menduduki peringkat ketiga sebagai hidangan populer yang sering dikonsumsi orang Jerman. Walaupun telah menjadi makanan pokok tradisional di Italia, tapi banyak orang Italia yang mengklaim bahwa Spaghetti Bolognese bukan kudapan asli Italia melainkan merupakan gubahan resep dari ragù alla Bolognese. Di Italia sendiri Spaghetti Bolognese tidak begitu populer keberadaannya. Orang Italia lebih mengenal olahan Ragù alla Bolognese, yaitu saus daging yang dimasak dengan api kecil selama berjam-jam. Ragù sendiri diciptakan oleh Alberto Alvisi pada abad ke-18. Setiap ragù terdiri dari banyak bahan yang bervariasi sesuai dengan masing-masing wilayah yang membuatnya. Asal-usul Spaghetti Bolognese tidak begitu jelas dan sulit terlacak sejarahnya. Tetapi dipercaya merupakan bentuk evolusi rakyat Italia yang melakukan migrasi dari Italia Selatan ke Amerika Serikat pada abad ke 20. Spaghetti Bolognese dipercaya sebagai versi hybrid ragù alla Bolognese. Sedangkan nama Bolognese sendiri merujuk pada salah satu daerah di Italia Utara bernama Bologna di mana saus ini menjadi hidangan tradisional sejak jaman dahulu. Namun dengan populernya Spaghetti Bolognese, membuat kota Bologna dikenal dunia sebagai tempat asal Spaghetti Bolognese sendiri).
"Aku baru tahu di sini semua bahan tersedia lengkap. Apa sebelumnya kamu memang sudah memerintahkan orang untuk mempersiapkannya? Padahal setahuku kita tidak ada rencana untuk mengunjungi tempat ini." Alvero tersenyum mendengar pertanyaan Deanda yang dilakukannya sambil sibuk menggiling daging untuk saos bolognese.
Wah? Tempat yang tenang? Dengan apa yang tadi kita lakukan di kamar selama itu? Apa itu yang disebut tenang?
Deanda berkata dalam hati sambil menahan senyum gelinya mengingat apa yang sudah mereka lakukan selama tadi mereka berada di dalam kamar. Walaupun itu bukan sebuah tindakan yang bisa dikatakan tenang, namun dengan melakukan hal itu bersama Alvero cukup membuat pikiran Deanda kembali tenang. Dan Deanda harus mengakui hal itu.
"Enzo dan aku sering mengunjungi tempat ini. Biasanya di tempat ini kami menghabiskan waktu sambil memancing dan mengobrol. Karena itu setiap dua hari sekali akan ada pelayan yang membersihkan tempat ini sekaligus mempersiapkan bahan makanan jika sewaktu-waktu kami mengunjungi tempat ini dan memasak bahkan menginap." Alvero kembali berkata sambil lengan kirinya tergeletak pada meja di depannya, sedang siku tangan kanannya menumpu pada meja sambil tangannya terkepal dan menahan kepalanya dengan menempelkan kepalan tangannya pada kening kanannya.
__ADS_1
"Disini kalian memasak untuk diri kalian sendiri?" Deanda bertanya dengan tatapan mata tidak percaya, seorang putra mahkota dan pangeran Adalvino memasak di tempat seperti ini? Rasanya akan menjadi suatu hal yang langka dan Deanda tidak keberatan jika memiliki kesempatan untuk melihat kejadian langka seperti itu.
"Memang ada yang aneh? Aku dan Enzo sama-sama kuliah di luar negeri. Saat itu aku lebih suka mengurus keperluanku sendiri daripada dikelilingi oleh para pelayan. Karena di luar negeri aku bisa bebas mengaturnya. Waktu itu adalah waktu yang paling bebas untukku. Gerak gerikku di luar negeri tidak selalu bisa dikendalikan oleh papa dan Eliana. Sejak dulu... Enzo yang tidak menyukai semua protokol kerajaan ingin tetap berada di sana setelah lulus, tapi kedua orangtuanya memaksanya untuk tetap kembali ke Gracetian." Alvero menceritakan masa lalunya sambil mata hazelnya menatap ke arah Deanda yang tangannya masih sibuk bergerak kesana kemari.
Ah... menyenangkan sekali bisa melihat wanita yang aku cintai sedang menyiapkan makanan untukku. Andai saja jika posisi kita berdua hanyalah pasangan biasa, pasti setiap harinya kita akan bisa merasakan suasana seperti ini. Tapi tanggungjawab kita sebagai pemimpin negara ini kadang harus merelakan momen-momen indah seperti ini karena kesibukan kita ke depannya. Karena itu aku sudah mengaturkan agar kamu bisa menjadi asistenku, sehingga kita tidak perlu terpisah terlalu lama setiap harinya.
Alvero berkata dalam hati dengan senyum di bibirnya yang tidak pernah pudar.
"Apa kamu meragukan kemampuanku memasak?" Alvero bertanya dengan nada mengejek, membuat Deanda langsung tersenyum geli.
"Tentu saja tidak. Dari caramu memegang pisau waktu itu sudah menunjukkan kamu memiliki kemampuan memasak yang cukup bagus." Deanda berkata sambil menggoyang-goyang panci stainless berisi spaghetti sambil mengaduknya dengan sumpit.
Deanda masih ingat kejadian saat di dapur pribadi perusahaan Adalvino dimana Alvero mengajarkan kepadanya untuk memasak masakan Asia yang waktu itu tidak begitu dikuasainya. Sejak saat itu Deanda belajar banyak agar tidak menilai kemampuan seseorang dari luarnya, apalagi jika dia belum mengenal dengan baik orang yang sedang dinilainya.
__ADS_1