BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
BERITA YANG MEMUASKAN BAGI ELIANA


__ADS_3

Walaupun Erich membisikkan kata-katanya dengan nada suara datar, tanpa adanya kesan mesra sedikitpun, seperti orang yang tidak memiliki emosi, tapi bagi Cleosa, kata-kata Erich seperti sebuah puisi yang terdengar begitu indah di telinganya. Membuat hati Cleosa begitu berbunga-bunga dan begitu bahagia, yang hampir saja membuatnya melompat-lompat dan berteriak karena kegirangan.


Sekilas Cleosa melirik sosok Erich yang keluar dari ruang penyimpanan berkas dengan langkah tegap. Cleosa terus menatap sosok gagah Erich sampai menghilang di balik pintu, sambil menyungingkan sebuah senyum lebar di bibirnya. Sungguh butuh usaha yang keras bagi Cleosa untuk menahan dirinya tidak berlari sekarang juga dan memeluk tubuh Erich dari belakang dan langsung menyatakan perasaan cintanya pada laki-laki itu.


Begitu keluar dari ruang penyimpanan berkas milik departemen front office, Erich sendiri dengan gerakan cepat berjalan menuju lift agar bisa pergi ke kantor Alvero.


Begitu pintu lift terbuka, mata Erich sedikit menatap tajam seorang pegawai perusahaan yang akan ikut masuk ke dalam lift bersamanya.


Suara panggilan seseorang ternyata membuat pegawai itu menghentikan niatnya untuk masuk ke dalam lift, membuat Erich dengan cepat mengambil kesempatan itu untuk menutup pintu lift tanpa menunggu pegawai itu ikut bersamanya, agar dia memiliki waktu pribadi di dalam lift.


Begitu pintu lift tertutup. Dengan gerakan tangan yang terlihat bergetar Erich langsung membetulkan letak dasinya, sambil menghembuskan nafasnya keras-keras, seolah-olah dia baru saja berhasil menyelesaikan tugas yang begitu berat dari Alvero, dan merasa begitu lega sudah berhasil melakukannya dengan baik.


Beberapa detik kemudian, setelah Erich berhasil menguasai dirinya, jantungnya tidak lagi berdetak dengan keras, Erich memejamkan matanya dengan kepala mendongak ke atas. Setelah merasa lebih tenang, Erich menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan bertahap melalui sela-sela bibirnya. Dan tanpa sadar sebuah senyum malu-malu terlihat tersungging di bibir Erich yang pagi ini tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya walaupun hanya terlihat sekilas.

__ADS_1


Nona Cleosa sungguh gadis yang sangat cantik dan menarik. Hampir saja aku tadi tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak mencium bibirnya yang tampak begitu menggoda. Hah! Bagaimana bisa tiba-tiba aku memintanya untuk menerimaku sebagai laki-lakinya! Tapi aku lega, akhirnya bisa mengatakan keinginanku kepada nona Cleosa.


Erich berkata dalam hati sambil kembali mengingat bagaimana cantik dan menggodanya sosok Cleosa baginya. Gadis yang mampu membuat dadanya berdebar kencang dan tidak rela jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap gadis itu. Dan ingatan tentang sosok Cleosa itu membuat Erich kembali tersenyum.


Bahkan bukan hanya itu… Erich sadar bahwa sejak beberapa lama ini, bayangan sosok cantik Cleosa seringkali hadir dalam mimpinya, dan ada dorongan yang begitu besar dalam hatinya, keinginan untuk dapat memiliki Cleosa sebagai wanitanya. Suatu perasaan yang belum pernah dia rasakan terhadap gadis manapun.


# # # # # # #


"Apa kamu yakin semuanya bisa berjalan selancar itu?" Eliana yang berdiri di depan jendela apartemennya, berkata sambil menyesap anggur merah dalam gelas yang dipegangnya dengan satu tangannya, dengan tangan yang lain terlipat di depan perutnya.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau gosip yang mengatakan bahwa Alvero adalah seorang laki-laki mata keranjang karena sering berganti pasangan adalah benar. Sepertinya isu yang mengatakan bahwa Alvero menikahi Deanda hanya untuk membuat orang menghentikan gosip tentang sifat playboynya tidak sepenuhnya salah. Dan Alaya sendiri, memang memiliki modal berupa wajah dan tubuh yang cukup untuk menarik hati seorang laki-laki, apalagi seorang playboy seperti Alvero." Eliana menghembuskan nafasnya setelah selesai berbicara.


Untuk sesaat Eliana melirik ke arah laki-laki yang menjadi informannya itu dan melemparkan sebuah amplop yang cukup tebal ke arah laki-laki yang langsung menerima dengan senyum tersungging di wajahnya itu.

__ADS_1


"Terus laporkan padaku perkembangan hubungan antara Alaya dan Alvero. Pastikan semuanya berjalan dengan lancar, jangan sampai ada kesalahan. Jika dalam waktu dua minggu ini tidak ada kemajuan dari hubungan mereka, cari gadis lain untuk menyeret Alvero dalam rencana kita."


"Baik Yang Mulia." Laki-laki itu langsung menjawab perintah dari Eliana dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Juga pastikan jangan sampai gadis itu mengkhianati kita. Jika sedikit saja kamu menemukan gadis itu mulai bersikap mencurigakan, laporkan padaku. Aku akan segera melenyapkan gadis itu. Kamu boleh meninggalkan tempat sekarang." Perkataan Eliana membuat laki-laki itu langsung membungkukkan tubuhnya ke arah Eliana dengan sikap hormat, setelah itu langsung pergi meninggalkan apartemen Eliana.


"Gadis itu ternyata cukup pintar dalam usahanya menarik perhatian Alvero. Tidak rugi aku membayar mahal uang muka kepadanya. Semoga secepatnya dia bisa melakukan apa yang sudah aku perintahkan kepadanya. Aku bahkan berharap gadis itu berhasil menjebak Alvero sebelum transaksi senjata di Italia kita lakukan. Agar aku bisa merasa lebih tenang dan bisa mengalihkan perhatian Alvero dari rencana kita." Eliana berkata sambil memandang ke arah jendela apartemennya, seolah sedang berakta kepada dirinya sendiri.


Kerajaan Gracetian, dan juga perusahaan Adalvino, aku akan membuat semuanya itu berada dalam genggaman tanganku, menjadi milikku dan anak-anakku. Dan aku akan menghancurkan setiap orang yang menjadi penghalang, tidak perduli siapapun orang itu.


Eliana berkata dalam hati dengan mata masih menatap lurus ke arah luar jendela, dimana gedung bertingkat yang mewah milik perusahaan Adalvino terlihat begitu jelas dari kaca jendela apartemennya.


"Aku ingin menjatuhkan Alvero sebelum dia sempat meminta bantuan kepada Ornado." Eliana berkata sambil bergerak menjauh dari jendela, dan berjalan mendekat ke arah sofa dimana Rolland sedang duduk sambil berselonjor kaki, dengan punggungnya menyandar ke sandaran tangan sofa sambil menghisap rokoknya dengan santai.

__ADS_1


"Kenapa kamu takut sekali dengan Ornado? Bukannya dia juga hanya seorang bocah sok berkuasa seperti Alvero?" Rolland berkata sambil menghisap kembali rokok dan sengaja menghembuskan keras-keras asap rokok dari bibirnya sehingga terlihat mengepul ke atas.


"Jangan bicara sembarangan. Kamu tahu bagaimana selama ini dia selalu jadi penghalang untukku saat berusaha membereskan Alvero ketika ada di Italia dulu. Laki-laki itu selalu terlihat tenang, padahal jika dia bergerak, dia bisa langsung mendatangkan badai besar bagi siapapun yang diinginkannya. Bahkan sampai saat ini, para pesaingnya belum menemukan titik lemah laki-laki itu, kecuali tentang keluarga dan istri yang baru dinikahinya belum lama ini." Rolland hanya mencibirkan bibirnya mendengar perkataan Eliana yang tampak begitu khawatir dengan keberadaan seorang Ornado.


__ADS_2