
"Sudah puas menangismu? Jangan sampai orang berpikir aku melakukan hal bodoh dan membuatmu bersedih. Aku berjanji, selama aku bisa, aku tidak akan pernah membuatmu menangis, kecuali menangis karena bahagia. Kalaupun kamu menangis karena aku melakukan kesalahan padamu, percayalah aku tidak pernah sengaja melakukan itu." Alvero berkata lembut sambil mengecup kening Deanda yang kembali memeluk Alvero dengan erat, setelah Alvero mengucapkan janji kepadanya.
Kali ini Deanda mengalihkan pelukannya kepada Alvero. Yang awalnya memeluk leher laki-laki tampan itu, beralih ke pinggang Alvero. Dengan erat Deanda melingkarkan kedua lengannya di sana.
Bahkan dengan sengaja Deanda menelusupkan kepalanya di antara dada dan lengan Alvero, menikmati rasa damai karena keberadaan Alvero dalam pelukannya. Sikap manja yang baru kali ini ditunjukkan oleh Deanda kepadanya dengan begitu nyata membuat Alvero tersenyum sambil menahan nafasnya sebentar. Tidak ada rasa jijik, marah, ataupun tidak nyaman yang dirasakan Alvero ketika mendapatkan sikap manja dari Deanda yang selama ini merasa tidak suka jika melihat seorang wanita bersikap manja kepadanya. Jika itu Deanda, bahkan Alvero tidak merasa keberatan sedikitpun, justru merasa suka jika istrinya itu bersikap manja kepadanya.
Alvero sadar, sekuat dan setangguh apapun sosok permaisuri tercintanya, bagaimanapun Deanda tetaplah seorang wanita yang memiliki sisi lemah dan manja di dalam dirinya. Apalagi sejak bertahun-tahun sejak kedua orangtuanya tidak lagi bersamanya, Deanda harus selalu bekerja keras dan menjadi wanita yang kuat. Dan sore ini, Alvero merasa beruntung menjadi satu-satunya pria yang dipercaya dan diijinkan oleh Deanda untuk melihat sisi manja dan lemah wanita miliknya.
Untuk beberapa saat Alvero membiarkan Deanda menyandarkan kepalanya di antara dada dan lengan Alvero sambil memeluk memeluk pinggang Alvero dengan lebih erat lagi, membuat senyum bahagia semakin mengembang di wajah Alvero. Beberapa kali Alvero mengecup puncak kepala Deanda dengan bibirnya sambil mengelus-elus lengan atas Deanda untuk menunjukkan bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Deanda.
# # # # # # #
Acara afternoon tea di istana sore itu tidak banyak dihadiri oleh anggota keluarga istana yang hampir semuanya baru saja pulang dari acara ulang tahun Enzo tadi pagi. Sebagian besar dari mereka lebih memilih beristirahat daripada mengikuti acara afternoon tea yang sengaja diberikan kelonggaran oleh Alvero agar yang merasa lelah atau berhalangan hadir, khusus sore ini diperbolehkan untuk melewatkan acara afternoon tea.
"Selamat sore." Tira yang baru saja hadir ke acara afternoon tea langsung menyapa Alvero dan Deanda yang tampak duduk berdua dengan santai sambil menikmati teh di cangkir yang sedang mereka pegang.
__ADS_1
"Ayo... duduklah bersama kami Tira." Alvero berkata sambil mengarahkan matanya kepada salah satu kursi yang ada di depannya dan Deanda yang duduk bersebelahan dengan jarak yang sangat dekat.
"Ah, afternoon tea hari ini terlihat sepi sekali setelah Kak Alvero meberikan ijin khusus untuk hari ini diperbolehkan tidak mengikuti afternoon tea jika measa lelah atau ada keperluan lain yang mendesak. Semua orang pasti memilih mencari alasan." Mendengar kata-kata Tira, Alvero hanya tersenyum tipis.
"Tidak masalah, kadangkala aku ingin suasana tenang seperti ini saat acara afternoon tea. Hanya beberapa orang yang benar-benar dekat bersama menikmati afternoon tea sambil mengobrol ringan seperti hari ini. Kamu tahu walau kita tinggal di istana yang sama, tapi boleh dikata kita jarang sekali bertemu dan mengobrol karena kesibukan kita masing-masing."
"Benar Kak Alvero. Kemungkinan terbesar kita bertemu di acara makan pagi atau malam, dan afternoon tea. Itupun tidak banyak kesempatan untuk mengobrol. Dan lagi, sekarang kakak kan sudah menikah, semakin jarang mengikuti acara di istana, karena sudah ada istri yang pastinya harus mendapatkan perhatian dari kak Alvero, juga waktu kak Alvero." Tira menyambung perkataan Alvero sambil melirik ke arah Deanda dengan wajah menggoda, membuat Deanda hanya bisa tersenyum dan langsung berdehem kecil untuk menghilangkan rasa canggungnya karena godaan Tira.
"Jangan menggoda kakak iparmu terus. Kamu masih kecil mana mengerti kesibukan orang dewasa seperti kami." Alvero langsung menanggapi perkataan Tira dan membela Deanda.
"Aist... Kak Alvero.... Aku bukan lagi anak kecil lagi. Usiaku tidak jauh berbeda dengan kakak ipar. Iya kan Kak Deanda?" Tira berkata sambil memandang ke arah Deanda sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Apa semua keturunan Adalvino suka sekali beradu argumen saat bertemu? Walaupun Tira mendapatkan darah Adalvino dari ibunya, tetap saja dia memiliki darah Adalvino. Tidak pangeran Enzo, tidak Tira, selalu beradu pendapat saat mereka saling bertemu dengan yang mulia.
Deanda berkata dalam hati sambil mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya diantara kedua saudara sepupu itu dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Eh, kamu kemana saja kemarin? Kenapa tidak hadir di acara ulang tahun Enzo?" Alvero tiba-tiba ingat bahwa kemarin dia tidak melihat sosok Tira di acara ulang tahun Enzo.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan kemarin. Aku akan beritahukan kepada Kak Alvero, tolong jangan Kakak beritahukan kepada papa ya? Pleaseeeee......."
"Hah! Apalagi yang sudah kamu perbuat? Jangan bilang kalau kamu mendaftarkan dirimu kembali, untuk melanjutkan pendidikanmu di luar negeri." Wajah Tira langsung terlihat kaget mendengar kata-kata Alvero.
"Bagaimana Kak Alvero tahu kalau..."
"Kenapa aku tidak boleh tahu? Jangan bilang kamu berencana mengambil jurusan musik seperti waktu itu. Kamu harus ingat waktu itu kamu hampir saja membuat papamu terkena serangan jantung karena memikirkan bagaimana kamu berniat melakukan pemberontakan kepadanya." Kali ini wajah Tira berubah dari terkejut menjadi gugup dan terlihat tidak nyaman.
"Kak Alvero..." Alvero mendesah pelan mendengar Tira memanggilnya dengan suara pelan, merasa kasihan, tapi di sisi lain Alvero tahu kedua orangtua Tira ingin yang terbaik untuk Tira.
Sejak 4 tahun yang lalu ketika Tira ingin melanjutkan studinya di luar negeri, terjadi perselisihan pendapat hebat antara Tira dan orangtuanya, sampai Vincent harus turun tangan untuk mendamaikan mereka. Tira sejak lama ingin mengambil jurusan musik saat kuliah, tapi sebagai keluarga pengusaha, papanya begitu keberatan Tira mengambil jurusan itu dan pada akhirnya berhasil memaksa Tira untuk mengambil jurusan kuliah sesuai dengan keinginan kedua orangtuanya.
Setelah 4 tahun berlalu, hampir semua orang melupakan tentang keinginan Tira waktu itu. Tidak disangka ternyata putri cantik itu masih tetap ingin mengejar impiannya yang tertunda.
__ADS_1
"Tira, kamu tahu kalau kamu adalah harapan satu-satunya dari uncle setelah kakak laki-lakimu meninggal sewaktu masih kecil karena penyakitnya. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan melanjutkan usaha uncle." Alvero berusaha memberikan nasehat kepada Tira yang langsung menarik nafas panjang.
"Kak Alvero, masalahnya... Bukan aku tidak mau membantu papa, tapi bagiku musik adalah hidupku. Aku tidak akan bisa melepaskannya begitu saja. Apa Kak Alvero sebagai raja Gracetian tidak bisa membantuku memberikan pengertian kepada papa dan mama? Agar kali ini mengijinkanku untuk kembali kuliah di luar negeri dan mengambil jurusan musik? Please kak Alvero. Kali ini bantu aku...." Mendengar perkataan Tira, Alvero terdiam sejenak, dan dari tatapan dan raut wajah Alvero, terlihat jelas bahwa laki-laki itu sedang memikirkan permintaan dari Tira.