
"Sepertinya wanita itu benar-benar sudah sadar diri bahwa jika dia akan mengalami kesulitan jika berani mengusik Ornado dan berhadapan langsung dengan Ornado. Dia cukup pintar mengetahui siapa lawannya kali ini dengan baik. Rasa khawatir dan ketakutan setelah bertemu Ornado di istana tadi pagi pasti sudah membuatnya dengan cepat memikirkan banyak cara untuk bisa membuat kita kalah. Sampai memikirkan hal menjijikkan seperti yang sudah pernah dia lakukan pada papa dulu." Perkataan Alvero membuat Deanda menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
Walaupun Deanda tidak melihat ketakutan dari sikap Eliana, tapi sejak Eliana melihat sosok Ornado sampai makan malam berakhir, di pandangan mata Deanda, memang Eliana terlihat begitu gelisah dan tidak SEtenang seperti biasanya.
Bahkan Deanda sempat melihat bagaimana Eliana terlihat tidak memiliki nafsu makan yang baik. Dan berakhir dengan meninggalkan piring makannya dengan makanan yang masih tersisa banyak di sana.
Sekeras apapun usaha Eliana untuk bersikap tenang di meja makan setelah melihat kehadiran Ornado, wanita yang dadanya langsung berdegup begitu kencang sejak melihat Ornado, tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutan dan kekhawatirannya.
Karena setelah peristiwa ancaman dari para mafia itu, Eliana tahu rencananya bisa jadi akan berantakan dan gagal jika Ornado mulai ikut campur tangan dengan urusan kerajaan Gracetian.
"Tapi Kak, selama pembicaraan tadi ada sesuatu yang menurutku agak aneh Kak." Alaya berkata sambil mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat dengan jelas pembicaraan antara dia dan Eliana tadi di resturan, sebelum Alaya pergi menemui Alvero dan Deanda di penthouse mereka dengan diam-diam.
"Pembicaraan apa yang menurutmu aneh Alaya?" Alvero kembali serius dengan pembicaraannya bersama Alaya.
"Wanita itu mengatakan bahwa jika aku tidak berhasil menggoda Kakak, aku hanya perlu menjebak kakak untuk pergi ke suatu tempat berdua denganku dan dia akan mengatur supaya Kakak percaya sudah terjadi sesuatu diantara kita sehingg Kakak harus bertanggungjawab. Jika Kakak tidak mau, dia mengatakan aku hanya perlu membuat diriku hamil dan menuduh Kakak sebagai ayah dari bayi itu." Baik Deanda dan Alvero mata mereka berdua sama-sama terbeliak mendengar perkataan Alaya.
__ADS_1
"Apa itu artinya..." Deanda menggantung kata-katanya.
"Ada kemungkinan itu yang sudah dilakukan wanita ular itu kepada papa Vincent selama ini. Bisa jadi...." Alvero menyambung kata-kata dari Deanda.
"Dion bukan anak dari papa Vincent dan mama Larena. Berarti Dion bukan saudara tiri kita kak Alvero." Pada akhirnya Alaya yang menutup perkataan mereka bertiga dengan sempurna, memulai kecurigaan mereka tentang siapa sebenarnya Dion.
"Shit! Benar-benar licik! Kalau itu benar-benar terbukti, dengan senang hati aku sendiri yang akan melakukan proses pengusiran Dion keluar dari istana Gracetian! Kenapa aku tidak pernah berpikir adanya kemungkinan bahwa Dion memang bukan berdarah Adalvino. Benar-benar wanita yang memiliki sifat ular yang licik sekaligus buas." Alvero mengomel panjang, lalu menarik nafas panjang dengan mukanya yang terlihat memerah menahan rasa kesal dalam hatinya.
Walaupun kecurigaan mereka belum tentu benar, tapi dari cerita Alaya, mau tidak mau pikiran Alvero mulai berpikir bahwa Dion memang bukan anak dari Vincent dan Eliana. Bisa jadi kejadian malam itu, antara Eliana dan Vincent hanyalah sebuah rekayasa dari Eliana, untuk menjebak Vincent.
"Ah, ya... Alaya." Alvero langsung menoleh dan menatap ke arah Alaya.
"Apa kira-kira yang harus kita lakukan sekarang? Berkaitan dengan pertemuan antara aku dan wanita itu tadi?" Alvero tidak menjawab pertanyaan dari Alaya, tapi justru dia langsung meraih handphone di tangannya dan melakukan panggilan kepada Ernest.
"Selamat malam Yang Mulia Alvero." Ernest langsung menjawab panggilan telepon dari Alvero sebelum lebih dari 3 kali bunyi tut pada handphone Alvero.
__ADS_1
"Ernest! Ada sesuatu yang harus secepat mungkin kamu lakukan bersama Alea dan nyonya Rose." Alvero memberikan perintahnya sambil memandang ke arah Deanda dan Alaya yang tampak serius menatap ke arah Alvero.
"Ya Yang Mulia." Ernest langsung menjawab cepat perintah dari Alvero.
"Katakan pada Alea maupun nyonya Rose agar secepatnya mencari cara agar bisa mendekati istana bagian utara, dan mendapatkan rambut atau potongan kuku dari Dion. Setelah itu kirim kepada dokter dari Italia, katakan agar dia membantu kita untuk bisa segera melakukan tes DNA. Aku sendiri yang akan minta kepada papa potongan kukunya agar aku bisa membandingkan hasil tes DNA antara Dion dan papa Vincent." Mendengar perintah dari Alvero, Ernest sedikit mengernyitkan dahinya, tapi dengan sikap tetap tenang, tanpa mempertanyakan perintah dari Alvero, Ernest yang sudah menduga kenapa Alvero memberikan perintah seperti itu segera mengiyakan perintah dari Alvero kepadanya.
(Tes DNA adalah prosedur yang digunakan untuk mengetahui informasi genetika seseorang. Dengan tes DNA, seseorang bisa mengetahui garis keturunan dan juga risiko penyakit tertentu. DNA adalah deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat. DNA akan membentuk materi genetika yang terdapat di dalam tubuh tiap orang yang diwarisi dari kedua orang tua. Hampir semua bagian tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA, tetapi yang sering digunakan adalah darah, rambut, air liur dan kuku. Sampel DNA yang digunakan bisa dari inti sel maupun mitokondrianya. Namun yang paling akurat adalah inti sel karena inti sel tidak bisa berubah. Sampel darah adalah sampel yang paling sering digunakan. Namun yang diambil bukanlah sel darah merah melainkan sel darah putih, karena sel darah merah tidak memiliki inti sel. Apakah janin dalam kandungan bisa diuji tes DNA? Jawabannya adalah bisa, namun penuh dengan risiko. Untuk janin dalam kandungan, tes DNA dilakukan dengan mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosentesis atau dengan chorionic villus sampling yang mengambil sampel jaringan plasenta. Namun, kedua jenis tes pada janin tersebut memiliki risiko membuat ibu mengalami keguguran. Diskusikan dengan dokter mengenai risiko tersebut lebih lanjut jika Anda diminta untuk melakukan tes).
"Lakukan dalam diam dan hati-hati. Jangan sampai ada seorangpun yagn mencurigai tindakan kalian. Setelah kamu berkoordinasi dengan mereka berdua, jemput aku dan permaisuri agar bisa kembali ke istana. Malam ini kami tidak jadi menginap di penthouse." Perintah Alvero berikutnya membuat Deanda sedikit mengeryitkan dahinya, karena sepulang kerja tadi Alvero mengatakan bahwa dia ingin bermalam di penthouse.
"Kenapa tiba-tiba memutuskan untuk kembali ke istana malam ini my Al? Apa ada masalah di istana?" Deanda langsung bertanya begitu Alvero sudah menyelesaikan panggilan teleponnya dengan Ernest.
"Kita harus membuat semuanya berjalan dengan normal. Keberadaan kita yang seringkali meninggalkan istana akan menjadi sesuatu yang menimbulkan kecurigaan Eliana. Karena itu lebih baik kita kembali saja ke istana malam ini. Agar semua tampak lebih normal. Apa kamu merasa keberatan sweety?" Deanda langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan begitu mendengar pertanyaan Alvero.
__ADS_1