
Melihat rajanya bergerak kembali bersama black thunder, beberapa pengawal yang juga masih menunggang kuda langsung mengikuti mereka. Dengan gerakan perlahan mengarahkan kuda-kuda yang mereka tunggangi mengikuti kemana Alvero berencana pergi berkuda kembali.
"Untuk kalian! Aku ingin memiliki privasi bersama permaisuri! Jangan mendekati kami lebih dari jarak 100 meter!" Alvero berkata sambil kedua tangannya tiba-tiba bergerak ke arah pinggang Deanda, mengangkat tubuh istrinya dari duduk menyamping menjadi duduk di depannya, membelakanginya, dengan kaki kanan dan kirinya berada di samping tubuh black thunder, di samping kanan dan kiri tubuh black thunder yang meringkik pelan karena gerakan tiba-tiba dari Alvero, namun dengan elusan tangan Alvero di surai kepalanya membuat black thunder tetap tenang.
"Hiya!" Dengan gerakan pelan namun pasti Alvero menggerakkan cambuk yang tadinya terselip di pinggangnya ke arah bagian belakang tubuh black thunder, membuat kuda itu kembali meringkik pelan untuk kemudian berlari kencang ke arah hutan buatan di dekat istal kuda, meninggalkan lokasi lintasan berkuda.
Tubuh Deanda langsung tersentak kaget begitu black thunder berlari dengan kecepatan penuh, karena bagaimanapun kejadian barusan bersama white angel masih terbayang jelas di ingatannya dan masih menyisakan rasa berdebar-debar di dadanya. Merasakan gerakan tubuh Deanda yang tersentak kaget dan menegang, dengan cepat kedua tangan Alvero yang berada di sebelah kanan kiri tubuh Deanda, yang awalnya memegang erat tali kekang black thunder langsung mendekat ke tubuh Deanda dan langsung memeluk perut Deanda sambil tetap memegang tali kekang agar bisa mengendalikan black thunder, namun juga memeluk tubuh Deanda dan memberinya rasa nyaman, meyakinkan bahwa bersamanya semuanya akan baik-baik saja.
Pelukan hangat dari kedua lengan Alvero di perutnya membuat Deanda menahan nafasnya sesaat untuk kemudian tersenyum tipis, merasa bahagia dan nyaman berada di dalam pelukan suaminya seperti sekarang ini. Tindakan Alvero benar-benar membuat Deanda merasa begitu dilindungi dan tanpa perlu mengatakan apapun kepadanya, dengan tindakannya, Deanda tahu bahwa Alvero ingin menyatakan bahwa selama ada Alvero, Deanda tidak perlu mengkhawatirkan apapun juga, dia akan tetap aman dalam pelukan hangat laki-lakinya tersebut. Tanpa sadar Deanda menyandarkan tubuhnya di dada Alvero yang langsung megecup lembut puncak kepala istrinya, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Deanda.
“Aku akan membuatmu nyaman bersamaku dan black thunder. Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi.” Alvero berbisik pelan dan mengecup pelan telinga Deanda dengan bibirnya, menjepit sebentar telinga Deanda dengan kedua bibirnya, sebelum akhirnya kembali menjauhkan wajahnya, dan kembali memacu black thunder agar berlari lebih cepat ke arah hutan dengan kedua tangannya yang memegang tali kekang black thunder tetap memeluk erat perut ramping Deanda, berusaha memberikan rasa tenang kepada Deanda.
Mendengar perkataan yang menenangkan dari Alvero, Deanda hanya terdiam dan berusaha untuk menikmati perjalanan mereka berdua bersama black thunder tanpa memikirkan kejadian buruk barusan bersama white angel.
Begitu mereka sampai di depan hutan, Alvero menarik tali kekang black thunder, membuat black thunder menghentikan larinya dan mulai berjalan perlahan memasuki area hutan yang ditumbuhi pohon-pohon besar dengan jalan setapak yang berukuran cukup lebar dan terlihat bersih, juga terawat.
__ADS_1
Suara gemerisik daun yang saling bergesekan karena terpaan angin sepoi-sepoi dan cuitan burung yang sesekali tampak beterbangan di antara pepohonan, sekaligus bau khas dari pohon pinus membuat Deanda menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, menikmati suasana alam yang boleh dikata sangat jarang bisa dinikmatinya karena selama ini terlalu sibuk bekerja. Bahkan bagi Deanda, selama ini hari libur justru menjadi hari dimana dia bisa menghasilkan lebih banyak uang karena adanya uang lembur untuknya.
Alvero yang melirik ke arah Deanda yang terlihat begitu menikmati suasana hutan menyungingkan sebuah senyum lega. Tangan kanan Alvero melepaskan tali kekang black thunder, membiarkan hanya tangan kirinya yang mengendalikan tali kekang, karena black thunder hanya berjalan.
Deanda sedikit terhenyak ketika menyadari tangan kanan Alvero yang tidak lagi memegang tali kekang semakin memeluk erat pinggangnya, dengan dagunya yang berbelah pinang menumpu pada bahu kanan Deanda dengan senyuman terus tersungging di wajah tampannya.
Ah yang mulia, keberadaanmu selalu membuatku merasa lebih baik dan nyaman. Kamu begitu pandai mengalihkan perhatianku dan menenangkan hatiku. Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu dan begitu terpesona padamu, sedangkan apapun yang kamu lakukan untukku, selalu menunjukkan bahwa cintamu begitu besar untukku. Aku berharap semakin hari aku bisa semakin layak untuk menjadi permaisurimu. Aku akan belajar dan berusaha dengan giat untuk itu.
Deanda berkata dalam hati sambil sekali tersenyum geli sekaligus bahagia merasakan bagaimana Alvero yang memeluknya dengan erat, dan kepala Alvero bertumpu di bahu kanannya, sesekali menciumi leher, tengkuk dan telinga istrinya dengan mesra diiringi dengan hembusan nafas dari hidungnya yang terasa hangat di kulit leher Deanda, yang tanpa sadar juga mengalirkan kehangatan ke hati Deanda.
Sepertinya keberadaanmu sudah seperti obat penenang bagiku. Membuatku memiliki ketergantungan tinggi terhadap sosokmu.
Alvero berkata dalam hati sambil tidak henti-hentinya mengucap syukur karena istrinya tercintanya selamat dari kecelakaan tadi.
“Kamu yang telah mengijinkanku masuk ke dalam hidupmu dan menjadi bagian darimu.” Deanda berkata lirih, karena pada kenyataannya, dia yang hanya gadis biasa, bisa menikah dan dicintai sedemikian besarnya oleh seorang raja, baginya itu merupakan anugrah yang sangat besar dalam hidupnya.
__ADS_1
Bagi Deanda, diantara puluhan jutaan wanita di Gracetian, pastinya bukan hanya dia satu-satunya wanita yang tidak menimbulkan alergi pada Alvero, dan itu terbukti nyata dengan keberadaan Alaya. Tetapi Alvero tetap memilihnya sebgai pendampingnya dan mencintainya, bagi Deanda itu merupakan hal luar biasa yang terjadi dalam kehidupannya. Seorang fans jatuh cinta dan mengagumi idolanya, itu adalah hal yang biasa dan mudah untuk terjadi. Tapi, seorang idola hebat yang begitu mencintai fansnya, bahkan sampai memiliki ketergantungan sedemikian tinggi? Itu hal yang begitu luar biasa.
Setelah beberapa waktu berlalu, Alvero menghentikan gerakan black thunder. Dengan sigap, Alvero melompat turun dari tubuh black thunder. Kemudian Alvero mengulurkan tangannya kepada Deanda yang langsung mengenggam tangan suaminya dengan erat, yang langsung membantunya untuk turun dari black thunder.
Begitu mereka turun dari black thunder, Alvero memberikan tanda kepada para pengawal untuk mendekat.
“Jaga black thunder untuk kami. Berikan dia makanan dan minuman yang cukup. Aku dan permaisuri akan pergi ke danau sebentar.” Alvero langsung memberikan perintah kepada para pengawalnya yang mendekat ke arahnya.
“Baik Yang Mulia.” Para pengawal itu segera menjawab perintah dari Alvero dan salah satu dari mereka memegang tali kekang black thunder, mengikatkannya pada sebuah batang pohon, bersiap memberi makan dan minum black thunder sesuai perintah dari Alvero.
“Danau Yang Mulia? Di dalam hutan buatan ini ada danau?” Deanda yang masih berdiri di tempatnya semula bertanya sambil mengernyitkan dahinya.
“Sebuah danau buatan. Aku akan membawamu ke sana, tidak jauh dari tempat ini. Lebih baik kita berjalan kaki ke sana, karena…” Alvero menggantung kata-katanya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Deanda.
“Aku ingin berduaan saja denganmu. Ini masih masa bulan madu kita. Aku tidak ingin para pengawal atau yang lain mengganggu kita.” Wajah Deanda terasa panas dan semburat merah langsung mewarnai kedua pipinya mendengar kata-kata Alvero barusan yang sengaja dibisikkannya dengan suara lirih dan mesra, bahkan… Deanda menangkap adanya nada mesum di sana, membuat dada Deanda langsung berdetak dengan keras.
__ADS_1