
Tangan Alvero langsung mengeratkan genggamannya di tangan Deanda begitu mendengar bagaimana malam itu Deanda bisa selamat dari kebakaran hebat yang terjadi, karena malam itu Deanda tidak berada di tempat itu. Sehingga, dia bisa memiliki Deanda sebagai istrinya saat ini.
Membayangkan bagaimana jika saja saat itu Deanda bisa saja ikut menjadi korban kebakaran malam itu membuat dada Alvero bergetar hebat. Sebuah rasa khawatir dan takut akan kehilangan Deanda tiba-tiba saja menyergapnya, walaupun itu hanya bayangan dalam pikirannya. Namun, tangan Deanda yang berada di dalam genggamannya membuat Alvero menarik nafas lega, bahwa sampai detik ini, Deanda masih ada di sampingnya, sebagai istrinya.
Aku harus menjagamu dengan lebih baik lagi. Dan juga harus lebih menyayangi dan mencintaimu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apdaku jika aku tidak bertemu denganmu. Malaikat cantikku yang sudah membawaku keluar dari kegelapan hidupku selama puluhan tahun. Hadiah terbaik dari Tuhan untukku yang harus aku ajga dengan baik.
Alvero berkata dalam hati sambil melirik ke arah wajah cantik Deanda, merasa begitu bersyukur atas keberadaan wanita itu di sisinya. Jika saja Alvero tidak ingat bahwa di hadapannya saat ini ada Vincent, rasanya Alvero ingin sekali meraih tubuh Deanda mendekat ke arahnya, agar dia bisa mulai menghujani tubuh istrinya dengan ciuman-ciumannya untuk menunjukkan betapa bahagia dan bersyukurnya dia bisa mendapatkan wanita cantik dan baik hati itu sebagai istrinya.
"Biasanya Tiana selalu mengajak Deanda bersamanya untuk ikut menemani Larena. Selain karena tidak ada yang menjaga Deanda di rumah, Tiana melakukan itu juga, karena keberadaan Deanda menjadi penghiburan tersendiri bagi Larena. Kamu pasti tidak ingat tentang semua kenangan itu Deanda, karena waktu itu usiamu bahkan belum genap 1 tahun. Sejak kelahiranmu, Larena begitu suka menggendongmu saat Tiana membawamu ke istana. Saat itu, hubunganku dengan Larena masih baik-baik saja. Tapi sejak Larena meninggalkan istana, dia seringkali tetap meminta Tiana untuk mebawamu saat mengunjunginya. Dan sebenarnya sudah beberapa kali saat kamu masih bayi, di gendongan Tiana, Alvero pernah bertemu denganmu. Tapi kalian berdua mungkin tidak saling mengingat karena masih terlalu kecil, apalagi Deanda masih bayi waktu itu." Vincent mengucapkan kata-katanya sambil menatap ke wajah cantik menantunya, yang hanya bisa terdiam.
__ADS_1
Sedang Alvero menyungingkan sebuah senyum kecil begitu mendengar tentang masa kecilnya bersama Deanda yang sudah tidak diingatnya itu.
“Kalau saja Larena tidak pergi dari istana, pasti kamu dan Alvero akan menjadi sahabat karib. Tapi sekarang tidak adalagi penyesalanku tentang itu. Sekarang kamu adalah istri Alvero, yang akan selalu mendampingi dan menemani Alvero. Kamu sudah menjadi sahabat terbaik bagi Alvero untuk seumur hidupnya.” Sebuah senyum bahagia tampak tersungging di bibir Vincent setelah dia mengakhiri kata-katanya.
Pembicaraan Vincent dan Alvero yang banyak membahas tentang keberadaan kedua orangtuanya, membuat hari Deanda seperti sebuah ruangan tertutup yang menyimpan begitu banyak barang kenangan yang dibiarkan tertutup rapat hingga berdebu selam bertahun-tahun. Dan hari ini, ruangan itu dibuka lebar-lebar, dan sedang diobrak-abrik barang-barang yang ada di dalamnya. Kenangan-kenangan yang tidak pernah bisa dia ingat karena dia masih terlalu kecil saat itu.
"Sampai saat ini, setiap kenangan manis antara aku dan Larena, persahabatan indahku bersama Alexis, adalah kenangan yang tidak pernah aku lupakan. Cintaku kepada Larena, memaksaku untuk bertahan dan membuatku bertekad untuk menjadikanmu sebagai raja Gracetian selanjutnya yang hebat. Sejak kecil, aku mendidikmu dengan sedemikian keras, agar kamu bisa menjadi laki-laki kuat, tidak sapertiku. Di samping itu, dengan rasa iri yang selalu dimiliki Eliana, jika aku terlalu menunjukkan kedekatanku padamu, dia akan semakin menggila. Aku ingin melindungimu sampai kamu menjadi raja Gracetian yang kuat, sehingga bisa melindungi dirimu sendiri." Alvero langsung mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Vincent yang mengatakan semua itu dengan menatap intens ke arah putra sulungnya, Alvero.
Mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, Alvero sedikit menelan ludahnya. Saat ini ada sesuatu yang terasa begitu mengganjal di dadanya, membuat dadanya terasa sedikit sesak dan matanya terasa panas. Dengan cepat Alvero mengalihkan wajahnya ke samping, agar Deanda maupun Vincent tidak bisa melihat perubahan emosi pada dirinya, yang membuatnya hampir tidak bisa menahan airmatanya menjebol pertahanan dirinya.
__ADS_1
Selama ini, Alvero selalu berpikir bahwa keberadaan Eliana sudah membuat ayahnya lupa akan cintanya kepada Larena, sehingga membiarkan Larena pergi begitu saja. Dan dari sikap ayahnya selama bertahun-tahun yang boleh dibilang terlihat tidak perduli padanya, Alvero selalu berpikir bahwa ayahnya lebih mencintai dan menyayangi Dion dari pada dia, karena ayahnya lebih mencintai Eliana daripada Larena.
Dalam belasan tahun yang sudah berlalu, yang Alvero tahu, Vincent selalu menuntut lebih dirinya tentang segala hal, jika dibandingkan dengan Dion. Sampai detik ini bahkan Alvero berpikir Vincent melakukan itu karena Vincent lebih menyayangi Dion, dibandingkan dengannya. Alvero sempat berpikir bahwa hanya karena dia adalah putra sulung sehingga tanpa sengaja gelar putra mahkota itu jatuh padanya. Sebelum Alvero mendengar perkataan Vincent hari ini, Alvero selalu berpikir jika ada kesempatan, Vincent mungkin akan lebih memilih Dion sebagai putra mahkotanya jika saja dia tidak dilahirkan lebih dahulu dibanding Dion.
"Maafkan aku nak. Maafkan... baru sekarang aku bisa bebas mengatakan apa yang aku rasakan selama ini." Vincent berkata sambil tangannya bergerak menyeka air mata yang mulai muncul di sudut-sudut matanya.
Tanpa sadar Deanda memejamkan matanya dengan sedikit menundukkan kepalanya, agar tidak ikut terlarut dalam suasana sedih yang tiba-tiba terasa begitu pekat di ruangan ini. Untuk beberapa lama mereka bertiga saling terdiam, berkutat dalam pikiran mereka masing-masing dan juga perasaan mereka masing-masing, yang bercampur aduk saat ini.
"Itu semua sudah berlalu Pa. Jangan menyalahkan diri pada sendiri. Mungkin itu adalah hal terbaik yang bisa Papa lakukan di masa lalu. Untuk sekarang, Papa harus tetap sehat dan bahagia. Temani aku dan Deanda untuk waktu yang lama. Lihat sampai kami memberikan cucu-cucu yang hebat untuk Papa. Papa bisa membayar semuanya, waktu dan kasih sayang yang tidak bisa Papa berikan kepadaku, berikan semuanya itu untuk anak-anak kami kelak." Akhirnya Alvero memulai kembali pembicaraan setelah dia berhasil menguasai emosi dalam dirinya.
__ADS_1