BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PEMBICARAAN DESYA DAN ALVERO


__ADS_3

Evan berjalan mendekat ke arah Deanda yang wajahnya masih terlihat canggung karena kejadian barusan. Sebenarnya Deanda ingin segera berlalu dan menyusul Alvero, tapi rasanya tidak sopan jika dia langsung pergi meninggalkan Evan yang sudah terlanjur melihatnya dan berjalan ke arahnya.


"Permaisuri Gracetian benar-benar sosok yang mengagumkan, bahkan seorang anak kecilpun langsung dibuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama." Mau tidak mau Deanda langsung tersenyum geli mendengar kata-kata Evan yang dia tahu sedang memujinya dengan tulus.


Apapun yang dikatakan oleh Evan, Deanda tahu laki-laki itu selalu serius dengan perkataannya, tidak seperti Alvero yang selalu iseng dan suka sekali menggodanya. Sejak kenal dengan Evan, Deanda selalu melihat sikap tenang dan serius dari Evan, yang bagi Deanda mungkin disebabkan karena dia juga memiliki latar belakang dari keluarga militer, sehingga sosoknya selalu terlihat tegas dan serius.


"Selamat malam Evan, kita sudah sejak siang tadi berada di tempat yang sama, tapi baru sekarang bisa menyapamu." Sebuah senyuman kembali tersungging di wajah Evan mendengar sapaan ramah dari Deanda untuknya.


"Selamat malam Permai..."


"Hah, aku sudah memanggilmu dengan Evan, dan sekarang kamu berniat memangilku dengan permaisuri? Jangan bercanda Evan. Kamu masih ingat aturan diantara kita kan? Dilarang menyebutkan gelar saat tidak bersama orang lain. Karena kita adalah teman baik." Lagi-lagi Evan hanya bisa tersenyum mendengar perkataan polos Deanda untuknya.


Teman baik? Rasanya untuk sementara ini aku harus puas dengan hubungan itu. Karena memang saat ini kamu masih terikat dengan Yang Mulia Alvero sebagai istri sahnya.


Evan berkata dalam hati, berusaha untuk berdiri tidak terlalu dekat dengan sosok Deanda, selain karena takut orang menyebarkan gosip murahan, dia takut kedekatan mereka akan membuat Evan semakin sulit untuk tidak membuat Deanda menyadari tentang perasaannya yang sesungguhnya kepada Deanda.

__ADS_1


"Eh, maaf, sepertinya aku sudah membuat yang mulia Alvero terlalu lama menungguku karena insiden kecil tadi. Di lain waktu mungkin kita bisa mengobrol lagi. Sampaikan salamku kepada duchess Danella ya. Katakan aku merindukannya." Deanda berkata sambil menggerakkan tubuhnya ke samping dan tanpa menunggu tanggapan dari Evan, Deanda bergegas pergi menyusul Alvero ke geladak kapal, apalagi suara letusan kembang api sudah mulai terdengar di udara.


Bukan hanya mama.... Aku juga begitu merindukan sosokmu Deanda. Andaikata kita bisa saling mengobrol dan makan bersama, atau sekedar saling mengirim pesan seperti saat kamu belum menikah, untuk mengobati kerinduanku. Tapi aku tidak ingin kedekatan kita digunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan gosip. Jika saatnya tiba kamu berpisah dengan yang mulia Alvero, aku juga tidak berharap perpisahan itu terjadi karena gosip buruk tentangmu, apalagi sampai kamu dituduh berselingkuh dengan pria lain. Saat itu tiba, kamu harus tetap menjadi wanita terhormat walaupun berpisah dengan yang mulia.


Evan berkata dalam hati sambil melangkah ke arah geladak kapal, berniat ikut menikmati pertunjukan kembang api yang diadakan di sana. Dimana, hampir semua orang berkumpul di sana untuk menikmati pemandangan indah langit karena letusan kembang api yang menunjukkan berbagai macam warna yang bentuk.


Di sudut lain ruangan yang baru saja ditinggalkan oleh Deanda dan Evan, sosok Dion yang sebenarnya juga sedari tadi mengamati apa yang sudah terjadi antara Deanda dan Simon langsung menarik nafas dalam-dalam dengan kepala sedikit mendongak ke atas. Awalnya tadi dia ingin mendekati sosok Deanda setelah anak kecil itu berlari ke kamar mandi, tapi kehadiran Evan membuat Dion menahan langkah kakinya untuk mendekat.


Deanda Federer... sosokmu... dan semua yang sudah kamu lakukan benar-benar semakin membuat banyak orang jatuh cinta dan terpesona kepadamu. Perkataan dari seorang anak kecil adalah perkataan yang diucapkan dengan penuh kejujuran. Perkataan anak kecil tadi menunjukkan tidak adanya kebohongan, mewakili perasaan banyak orang di Gracetian saat melihat sosok mengagumkan darimu sebagai seorang wanita yang tidak hanya cantik tapi juga ramah dan baik hati.


# # # # # # #


"Kak Alvero..." Dengan ragu bibir Desya memanggil nama Alvero yang sejak Desya berjalan ke arahnya memandang tajam ke arah gadis itu.


"Apa yang kamu inginkan dariku Desya?" Tanpa basi-basi, seolah bisa membaca pikiran Desya, Alvero langsung bertanya kepada Desya dengan tatapan mata menyelidik.

__ADS_1


Kejadian hari itu, saat Desya berusaha membuat Deanda mengalami kecelakaan saat berkuda sungguh masih membuat Alvero merasa kecewa sekaligus marah terhadap Desya. Rasanya jika Deanda tidak mencegahnya, dia sudah pasti akan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada Desya.


"Kak... aku tahu aku bersalah hari itu. Hari ini, aku hanya ingin minta maaf kepada kakak karena kejadian hari itu. Maaf karena cemburu sudah membuatku melakukan hal sebodoh itu." Desya berkata dengan suara pelan, membuat Alvero berusaha menahan kekecewaan dan kemarahannya, belajar dari sikap Deanda selama ini yang begitu mudah melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain.


"Sudahlah, lupakan saja masalah itu, dan jangan mencoba untuk melakukan hal seperti itu lagi. Jadilah sosok putri yang bisa membanggakan Gracetian. Jangan bertindak bodoh seperti itu lagi. Lagipula, kamu ini selalu saja mengatakan hal-hal tidak masuk akal seperti barusan." Alvero berkata sambil menatap ke arah Desya yang langsung mengernyitkan dahinya.


"Apa maksud perkataan kakak? Aku mengucapkan hal tidak masuk akal?" mendengar pertanyaan dari Desya, Alvero menarik nafas panjang untuk kemudian menghembuskannya dengan sedikit keras lewat sela-sela bibirnya, sehingga membuat rambut di bagian keningnya sedikit berkibar.


"Jangan pernah lagi mengatakan tentang perasaan cemburumu kepadaku, apalagi jika sampai didengar oleh orang lain. Mereka akan salah paham, berpikir bahwa kita memiliki hubungan tidak normal sebagai saudara tiri." Dengan susah Desya menelan ludahnya mendengar perkataan Alvero yang menunjukkan bahwa Alvero tidak memiliki sedikitpun perasaan lebih dari sekedar saudara tiri kepadanya.


Sudah beberapa kali Desya mengungkapkan perasaan cintanya kepada Alvero, baik secara tersirat ataupun dengan cara terang-terangan seperti hari ini walaupun selalu saja Desya mengalami penolakan dari Alvero. Tapi, hari ini, Desya bisa merasakan bahwa Alvero mengatakan itu untuk menjaga perasaan permasurinya agar tidak salah paham dengan hubungan mereka berdua. Suatu tindakan yang menunjukkan bahwa Alvero begitu menjaga perasaan permaisurinya, kenyataan yang cukup menyakitkan bagi Desya.


Kak Alvero.... apa aku harus mundur sekarang? Apakah bagimu tidak pernah sedikitpun kamu tertarik padaku? Menyayangiku? Bahkan sayang sebagai seorang kakak? Bahkan menyentuh kepalaku, mengelus bahuku, tidak pernah sekalipun kamu lakukan sebagai seorang kakak bagiku.


Desya berkata dalam hati sambil melangkah mendekat ke arah Alvero yang langsung menggeser posisi berdirinya sambil melirik ke arah pintu yang menghubungkan geladak kapal dengan ruangan pesta dimana tadi Deanda meminta ijin padanya untuk ke kamar mandi sebentar. Alvero sungguh berharap dengan segera melihat sosok Deanda agar dia bisa mencari alasan dan menghindari Desya. Namun, sosok Deanda belum terlihat muncul di sana, membuat mata Alvero kembali menatap ke arah Desya.

__ADS_1


__ADS_2