BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEMARAHAN ENZO


__ADS_3

"Kalau bukan cemburu? Apa itu namanya my Al? Kamu benar-benar menggemaskan. Suamiku yang begitu posesif dan sangat pencemburu." Deanda berkata sambil menggerakkan kedua lengannya ke arah Alvero, lalu melingkarkannya ke leher Alvero dengan mesra.


Kemudian mengelus dengan gerakan pelan tengkuk dan kepala bagian belakang Alvero dengan lembut sambil memainkan jari-jarinya di sana, membuat Alvero langsung menahan nafasnya sebentar karena sentuhan Deanda yang membuat tubuhnya seperti dialiri aliran listrik dan membuat detakan jantungnya berpacu dengan cepat.


"Sudah kukatakan aku tidak cembu...." Perkataan Alvero langsung terhenti karena tiba-tiba saja Deanda sudah berjinjit, dan langsung membungkam bibir Alvero dengan bibirnya, sehingga Alvero tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.


Tubuh Alvero sedikit tersentak begitu merasakan bibir Deanda yang sedang mencium bibirnya, walaupun hanya berupa kecupan kecil. Untuk sesaat Alvero melirik ke arah Deanda yang tersenyum ke arah Alvero.


Setelah mengecup bibir Alvero, Deanda berencana melepaskan pagutan bibirnya ke bibir Alvero. Namun dengan cepat, tangan Alvero yang masih melingkar di punggung Deanda, justru bergerak mempererat pelukannya ke tubuh Deanda, dan tangannya yang lain bergerak ke arah tengkuk Deanda, sedikit menekannya agar bibir Deanda tetap menempel pada bibirnya, sehingga dia bisa melakukan rencananya untuk mencium, melum..at.. dan mengeksplore bibir Deanda dengan puas, tanpa Deanda bisa menghindar darinya.


Setelah itu dengan penuh gairah dan cinta, Alvero langsung mencium kembali bibir Deanda, tidak membiarkan bibir Deanda menjauh seinchipun dari bibirnya. Dan kali ini, Deanda yang baru saja memancing hasrat Alvero, harus pasrah membiarkan Alvero mengambil alih, memimpin dan menikmati ciuman panas mereka pagi ini. Ciuman yang membuat mereka sadar bahwa mereka begitu saling mencintai, saling membutuhkan bahkan saling bergantung satu sama lain.


# # # # # # #


Wajah Enzo langsung memerah dan terlihat begitu tegang. Bahkan gerahamnya tampak mengeras, dengan otot-otot di lehernya yang tampak terlihat jelas karena emosi yang begitu besar sedang meledak dalam dirinya. Mengetahui bahwa Emilio sudah begitu liciknya memanfaatkan Melva membuat dada Enzo dipenuhi dengan kemarahan dan rasa tidak terima, seolah Enzo begitu ingin menghajar dan menghancurkan tubuh Emilio untuk menggantikan Melva mengungkapkan rasa sakit hatinya.

__ADS_1


Baru beberapa menit Enzo melihat rekaman dari handphone Deanda saat di rumah Emilio tadi, sudah membuat emosi Enzo yang biasanya selalu tampak tenang dan santai terpancing. Dan begitu rekaman pembicaraan Erich dan Emilio didengar oleh Erich, rekaman itu berhasil membuat Enzo benar-benar hampir kehilangan kendali. Membuat Alvero beberapa kali harus menenangkannya dengan sesekali menepuk-nepuk bahu Enzo, begitu dilihatnya reaksi kemarahan Enzo mulai membuatnya terlihat sulit untuk menahan diri.


Pagi tadi, atas perintah Alvero, Erich meminta rekaman cctv yang ada di bar, dan tim IT mereka sengaja menyatukan rekaman cctv yang berupa gambar video, dengan suara rekaman dari alat perekam yang dibawa Erich. Sehingga Enzo bisa melihat dengan jelas rekaman cctv yang sudah dipadukan dengan suara dari pembicaraan hasil rekaman dari Erich yang terjadi saat itu.


Dan sekarang dengan wajah tegang dan tampak memerah, Enzo melihat dengan jelas hasil rekaman kejadian semalam melalui layar monitor komputer yang ada di atas meja, tepat di depannya.


"Shit!" Enzo yang duduk sambil mengamati hasil rekaman pertemuan Erich dan Emilio semalam berkali-kali mengumpat tanpa sadar.


Sebuah umpatan, sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan oleh Enzo di depan orang lain. Sejak kecil, Enzo yang dididik dengan ketat dalam istana, tahu betul mengumpat bahwa adalah suatu hal yang tabu dilakukan oleh para anggota keluarga kerajaan. Apalagi jika sampai didengar dan dilakukan di depan orang lain. Jika dulu saat masih kecil dia berani melakukan itu, pasti tidak lama kemudian pantatnya akan mendapatkan pukulan sebagai hukuman karena dianggap sebagai pangeran yang tidak memiliki sopan santun.


Dan kali ini Enzo benar-benar tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak emosi sampai mengeluarkan kata-kata umpatan begitu mengetahui bagaimana brengseknya sosok Emilio, yang merupakan kekasih Melva, gadis yang sudah begitu lama dicintai dalam diam oleh Enzo.


"Kita harus menemui laki-laki brengsek itu sekarang! Aku tidak perduli Melva akan membenciku jika aku melakukan ini. Tapi aku akan menghajar laki-laki itu dengan tanganku sendiri! Beraninya dia mempermainkan dan menipu gadis sebaik Melva!" Begitu selesai mendengar dan melihat rekaman itu Enzo langung menggebrak meja di depannya dan berniat bangkit dari duduknya.


Namun belum lagi Enzo sepenuhnya berdiri dengan tegak, Alvero yang sedari tadi berdiri di samping tempat Enzo duduk, dengan tangan bersedekap langsung memegang bahu Enzo, menekannya ke bawah dengan kuat, agar Enzo kembali duduk di kursinya.

__ADS_1


"Alvero!" Tanpa perduli lagi dengan siapa yang sedang di hadapannya sekarang, Enzo langsung meneriakkan nama Alvero karena merasa Alvero saat ni sedang menghalanginya untuk melakukan niatnya.


"Tenangkan dirimu terlebih dahulu. Jangan bertindak konyol dan bersikap seperti anak kecil." Alvero berkata sambil menepuk-nepuk bahu Enzo yang sudah kembali duduk di kursinya karena paksaan dari Alvero.


"Sial! Bagaimana aku bisa berdiam diri dalam kondisi seperti ini?" Enzo berkata dengan nada tinggi, sambil mengepalkan salah satu tangannya yang berada di atas meja dan memukul-mukulkannya ke meja.


"Siapa yang menyuruhmu berdiam diri? Aku bilang, tenangkan dirimu dulu. Setelah itu baru kita bertindak. Bagaimana kamu bisa bertindak dengan benar kalau pikiranmu belum tenang." Dengan nada acuh tak acuh, Alvero berkata sambil berjalan ke arah meja di depan Enzo, lalu membalikkan tubuhnya, dan bersandar di sana, berhadap-hadapan dengan Enzo yang rahangnya masih terlihat terkatup erat dengan menggeretakkan giginya.


"Akhhh!" Enzo berteriak sambil menengadahkan kepalanya, untuk mengeluarkan emosi yang terasa begitu menyesakkan dadanya saat ini.


Untuk beberapa saat Alvero hanya berdiam diri sambil menatap ke arah Enzo. Alvero sengaja membiarkan Enzo berteriak dan mengomel sampai dia puas mengeluarkan emosinya. Setelah itu Alvero menarik nafas dalam-dalam, lalu bergerak mendekat ke arah Enzo dan menepuk pelan punggung Enzo.


"Ayo... ikutlah denganku sekarang. Apa kamu perlu mencuci mukamu terlebih dahulu? Atau mungkin kamu ingin berganti pakaian terlebih dahulu?" Mendengar pertanyaan Alvero, Enzo langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan dan terlihat malas.


"Ok, kalau begitu, kita pergi sekarang. Ayo!" Mendengar perintah dari Alvero, Enzo bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah-langkah Alvero yang disusul oleh Deanda yang sedari tadi memilih diam, tidak mengeluarkan suara sedikitpun sejak Enzo melihat semua rekaman itu, hanya mengamati apa yang terjadi di depannya.

__ADS_1


__ADS_2