
Belum lagi saat ini ada Alvero sebagai raja Gracetian juga hadir di sana. Membuat earl Robin tidak merasa bebas untuk memberikan ijin kepada Enzo tanpa persetujuan Alvero. Dan lagi, earl Robin memang tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Enzo yang sebenarnya terhadap Melva.
Earl Robin belum lagi menjawab pertanyaan dari Enzo, ketika Enzo melihat sekelebat sosok Melva yang berjalan dari arah samping rumah bagian luar, masuk ke dalam rumah, berencana berjalan ke arah kamarnya. Dan kebetulan jalan yang dilalui oleh Melva saat itu terlihat dari ruang tamu dimana Enzo dan yang lainnya sedang duduk dan berbincang. Apalagi dari posisi Enzo duduk, posisi itu sungguh terlihat dengan begitu jelas.
Melihat sosok Melva yang berjalan dengan gontai, tanpa menunggu jawaban dari Earl Robin, Enzo langsung bangkit dari duduknya, berlari ke arah Melva. Melihat itu, earl Robin bermaksud menyusul Enzo, namun tangan Alvero langsung bergerak, mengulurkan tangannya lurus ke depan dada earl Robin, menghadang di depan tubuh earl Robin yang dengan kaget langsung menghentikan tindakannya, begitu melihat lengan Alvero menghadang di depannya.
Dan dengan wajah bertanya-tanya, earl Robin memandang ke arah Alvero yang langsung menarik tangannya kembali begitu melihat earl Robin sudah membatalkan niatnya, dengan duduk kembai di posisinya semula.
"Yang Mulia..."
"Biarkan saja mereka bertemu Earl Robin. Pagi ini aku sengaja membawa pangeran Enzo bersamaku, karena dia harus membereskan urusan hatinya sebelum kita membicarakan tentang rencana kita untuk menjadikan kota Renhill sebagai pusat pelatihan dan pertahanan rahasia kerajaan Gracetian, yang disiapkan secara khusus untuk melatih para prajurit dalam menghadapi para pemberontak dan mengamankan kerajaan." Alvero berkata dengan sikap tenang dan berwibawanya, membuat earl Robin langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, dan menuruti perintah dari Alvero.
Bagi earl Robin, rencana Alvero untuk menjadikan Renhill sebagai kota tempat pelatihan rahasia pengawal khusus dimana di sana tentara-tentara pilihan akan digembleng dalam pelatihan khusus membuat earl Robin merasa begitu bangga karena merasa begitu terhormat bisa ikut berpartisipasi dalam misis sepenting itu.
__ADS_1
Dan saat ini, yang bisa dilakukan oleh earl Robin adalah menuruti perintah dari raja Alvero. Membiarkan Enzo bertemu dengan Melva yang saat ini sedang mengalami patah hati dan kekecewaan yang besar untuk pertama kali dalam hidupnya, karena seorang pria, yang ternyata di belakangnya memiliki perilaku begitu buruk dan menjijikkan, dan juga melanggar hukum kerajaan.
"Melva!" Enzo langsung menyebutkan nama Melva sambil menarik pergelangan tangan gadis itu, yang langsung tersentak kaget karena tidak menyangka tiba-tiba ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya di dalam rumahnya.
Apalagi setelah berhasil meraih pergelangan tangan Melva, Enzo sedikit menarik tangan Melva kembali ke samping rumah, agar sosok mereka berdua tidak terlihat jelas bagi orang-orang yang sedang berada di ruang tamu.
"Kak Enzo..." Melva yang sudah terbiasa memanggil nama Enzo dengan sebutan kakak di depannya, bukan pangeran, langsung mengusap air mata di pipinya dengan tangannya yang lain begitu melihat bahwa Enzo adalah orang yang sudah memanggil dan menarik tangannya untuk kembali menjauhi pintu masuk rumah yang berada di samping bangunan.
Setelah itu, dengan memaksakan diri, Melva menatap ke arah Enzo sambil berusaha menyungingkan sebuah senyuman di bibirnya, membuat hati Enzo ikut merasa sakit. Melihat bagaimana gadis yang dicintainya menangis untuk pria yang tidak pantas untuk mendapatkan airmata berharga milik Melva.
"Aku datang bersama mereka berdua. Aku datang kemari untuk mencarimu." Enzo berkata pelan sambil menatap dalam-dalam ke arah wajah Melva yang tampak sedikit pucat dan berantakan karena terlalu banyak menangis.
Namun bagi Enzo, kondisi Melva saat ini tetap menunjukkan betapa cantiknya gadis itu bahkan tidak luntur karena wajah kusut dan matanya yang terlihat bengkak.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang penting yang ingin Kak Enzo katakan padaku? Tapi maaf Kak, hari ini suasana hatiku benar-benar sedang buruk. Jika Kakak ingin mengatakan sesuatu yang buruk, tolong jangan katakan hal itu untuk hari ini saja. Sepertinya aku tidak akan sanggup jika harus mendengar berita buruk lagi hari ini." Melva berkata sambil berusaha menjauhkan wajahnya dari jangkauan mata Enzo yang dia tahu sedang menatapnya dengan tatapan lembut, yang bagi Melva lebih seperti sebuah tatapan kasihan, membuat Melva justru merasa tidak nyaman karena dia tidak ingin dikasihani.
Bagi Melva, lebih baik jika dia mengetahui kebusukan Emilio sekarang, saat mereka belum menikah. Daripada Melva harus mengetahui kebenarannya di akhir, saat mereka sudah menikah. Justru itu akan menimbulkan penyesalan yang tiada akhir. Namun bagaimanapun, begitu mengetahui kebenaran itu sekarang, bagi Melva itu terasa begitu menyakitkan dan dia harus jujur mengakui bahwa dia butuh waktu untuk menenangkan diri sebentar.
"Tidak. Aku tidak membawa berita apapun. Aku hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki itu tidak pantas mendapatkan kasih sayang dan cintamu, bahkan airmatamu terlalu berharga jika kamu keluarkan untuk laki-laki seperti dia. Jika kamu membutuhkan bahu untuk menyandarkan kepalamu karena hatimu merasa lelah... ingatlah bahwa aku akan selalu menyediakan bahuku untukmu. Kapanpun kamu membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu." Enzo berkata pelan sambil matanya menatap ke arah Melva dengan begitu lembut.
Mendengar perkataan Enzo, Melva tidak bisa lagi menahan tangisnya yang langsung pecah kembali di hadapan Enzo. Melihat itu, Enzo menarik nafas panjang sambil mengulurkan tangannya ke arah kepala Melva.
Dengan gerakan pelan dan lembut, Enzo menarik kepala Melva ke arah bahunya. Membiarkan kepala kening Melva bersandar di bahunya yang tidak perlu waktu lama sudah basah, dipenuhi oleh airmata Melva.
"Menangislah sepuasnya di bahuku. Tapi setelah itu, jangan membiarkan kesedihan tetap menguasai hatimu. Setelah ini, kita akan membuat orang yang sudah membuatmu menangis menyesal karena sudah berani melakukan hal seperti itu." Enzo berbisik lembut sambil mengelus kepala Melva dengan lembut.
Dan dengan tanganku sendiri, aku akan memberi pelajaran dan menghajar laki-laki itu! Laki-laki brengsek! kurangajar! tidak bermora!
__ADS_1
Enzo memaki Emilio dalam hati, dan tanpa sepengetahuan Melva, Enzo sedang mengepalkan salah satu tangannya dengan kuat. Merasa tidak sabar menunggu waktu dimana dia bisa membuat Emilio babak belur dengan tinju dan tendangannya.
"Kamu harus menjadi gadis yang kuat. Jangan biarkan laki-laki brengsek itu merebut kebahagiaanmu. Dia tidak pantas mendapatkan kebaikan hati dan cintamu. kamu terlalu baik untuknya, pria kurang ajar yang tidak tahu rasa berterimakasih dan menghargai pengorbanan dan cinta orang lain. Jangan lagi berhubungan dengannya. Apa kamu mengerti?" Mendengar perkataan Enzo, Melva hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepala yang dilakukannya dengan pelan, namun berkali-kali, menunjukkan dia akan menuruti permintaan Enzo, walaupun dia sendiri masih menangis sesenggukan di dada Enzo.