BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PEMBICARAAN ALVERO DAN VINCENT (2)


__ADS_3

"Ah, sejak kapan kamu belajar kata-kata manis seperti itu? Apa menantuku yang cantik ini yang sudah membuatmu pandai merangkai kata-kata sebagus itu? Kalau dari sifatmu selama ini, sepertinya akan sulit mengeluarkan kata-kata seindah dan semanis itu, bahkan untukku." Mendengar pertanyaan dari Vincent, mau tidak mau membuat Deanda tersenyum geli, sedang Alvero hanya bisa terdiam dengan sikap terlihat begitu canggung, karena godaan dari Vincent.


Ternyata... sikap iseng, suka menggoda orang lain, dan kebiasaan suka berdebat yang mulia Alvero diturunkan dari papa Vincent. Sepertinya begitu....


Deanda berkata dalam hati dan berusaha keras menahan senyum gelinya melihat bagaimana Alvero terdiam, tidak berkutik, karena kata-kata Vincent barusan.


"Hmmm, sudahlah, yang pasti papa sungguh senang melihat kedatangan kalian berdua di tempat ini. Tapi, sepertinya dari wajah kalian terlihat ada sesuatu yang penting yang ingin kalian bahas dengan papa. Apa sudah terjadi sesuatu yang buruk di istana? Apa kali ini Eliana bertingkah seenaknya sendiri lagi? Aku sudah dengar tentang Desya. Dan dengan karakter Eliana yang aku kenal selama ini, dia tidak mungkin akan berdiam diri mendapati anak gadis kesayangannya diusir keluar dari istana." Mendengar perkataan papanya, Alvero menggerakkan kursinya ke depan, agar lebih dekat dengan sosok Vincent yang ada di hadapannya.


"Papa tidak perlu khawatir dengan apa yang terjadi di istana. Eliana tidak akan berani bertindak dengan seenak perutnya sendiri sekarang. Kondisi di istana sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang dia hanya seorang ibu suri, bukan lagi seorang permaisuri Gracetian." Vincent hanya bisa terdiam mendengar bagaimana melihat wajah tidak sukanya saat Alvero menyebutkan nama Eliana.


Vincent tahu, sudah lama, sejak Alvero beranjak dewasa, saat Alvero sedang berbicara berdua dengannya, Alvero tidak pernah menyebutkan status sosial di depan nama Eliana, menunjukkan betapa tidak sukanya Alvero dengan sosok Eliana, ibu tirinya tersebut. Untuk masalah itu, Vincent tidak bisa menyalahkan Alvero.


Bagaimana Alvero bisa menyukai wanita yang sudah membuat mamanya pergi meninggalkannya. Belum lagi sedikit demi sedikit, setelah posisi Alvero semakin kuat, Vincent mulai mendengar banyaknya kabar yang menyebutkan tentang perbuatan Eliana yang jahat semasa kanak-kanak Alvero yang betul-betul tidak dia ketahui karena selama ini, karena begitu pandainya Eliana yang selalu memasang topeng sebagai wanita lembut dan menyayangi Alvero. Dengan kejadian-kejadian itu, Vincent bisa mengerti bagaimana tidak sukanya Alvero kepada Eliana selama ini.


Vincent tidak pernah menyangka bahwa di belakangnya, Eliana selalu berusaha menutupi dengan baik setiap hal buruk yang sudah dia lakukan bukan hanya kepada Alvero, tapi kepada para penghuni istana yang lain, baik para keluarga kerajaan ataupun kepada para pelayan. Dan semuanya justru dia dengar setelah dia tidak lagi menjadi raja, sehingga Vincent bertekad untuk menemukan bukti-bukti kejahatan Eliana untuk dapat menunjukkannya kepada Alvero, sebagai raja Gracetian saat ini.

__ADS_1


"Aku percaya padamu nak. Sebenarnya, dokter yang merawatku mengatakan bahwa dengan kondisi kesehatanku yang sekarang, aku sudah diperbolehkan untuk kembali ke istana. Tetapi untuk sementara waktu aku memutuskan untuk tetap tingal di tempat ini..." Vincent mengucapkan kata-katanya dengan nada pelan, dan wajahnya terlihat sedang berpikir.


"Apa ada sesuatu yang membuat Papa tidak merasa nyaman di istana? Apa ada sesuatu yang sudah membuat Papa merasa terganggu?" Alvero segera memotong perkataan Vincent.


"Katakan padaku Pa, aku akan mengurusnya untuk Papa. Aku juga merasa akan bisa menjaga Papa dengan lebih baik, jika Papa berada di dekatku, di istana bersamaku." Salah satu tangan Vincent bergerak dan menepuk-nepuk paha Alvero, begitu mendengar perkataan Alvero.


"Ada beberapa hal yang harus papa selesaikan sebelum papa kembali ke istana. Lagipula.... sejak awal papa merencanakan untuk menyerahkan tahta kepadamu. Saat itu papa sudah berencana untuk ke depannya akan tinggal menyendiri di villa kerajaan di pantai Tavisha. Tapi  ternyata, nasib berkata lain. Sebelum papa ke sana justru papa jatuh sakit dan harus dirawat di Renhill, dan harus tinggal di villa milik keluarga Enzo."


"Ah, maafkan Alvero Pa. Saat itu jujur saja aku sengaja membawa papa ke Renhill agar bisa membiarkan Papa dirawat oleh dokter pribadi sahabatku dari Italia. Maaf, untuk saat ini, aku tidak bisa mempercayai dokter-dokter di kota Tavisha." Dengan cepat Alvero berusaha menjelaskan alasannya memindahkan Vicnent dari rumah sakit di Tavisha ke Renhill.


Mendengar tanggapan Vincent atas perkataannya yang sebelumnya, mata Alvero langsung menyipit dengan wajah penuh dengan tanda tanya.


"Jujur saja, aku tidak ingin kembali ke istana, karena aku tidak mau Eliana menggunakan aku sebagai senjata maupun tameng untuk melawanmu. Dan membuatmu jatuh." Tanda basa-basi dengan terus terang Vincent langsung mengungkapkan isi hatinya.


Kata-kata Vincent membuat Alvero dan Deanda saling berpandangan, tidak menyangka bahwa Vincent akan mengatakan hal seperti itu. Sebelum bertemu dengan Vincent, dan berniat menanyakan tentang kasus Alexis... Baik Alvero maupun Deanda sebelumnya sudah sepakat untuk melakukan pembicaraan itu dengan hati-hati, jangan sampai membuat Vincent tersinggung atau sakit hati, karena yang akan mereka bahas adalah kasus istrinya.

__ADS_1


Setelah Alvero menikah, dia tahu dengan jelas status dan posisi seorang istri baginya yang begitu penting dan berharga di hidupnya, sehingga dia dan Deanda harus melakukannya dengan hati-hati saat membahas tentang kasus Eliana agar tidak memancing kemarahan Vincent. Tapi, yang ditemukan oleh Alvero dan Deanda, hari ini justru cara Vincent menyebutkan nama Eliana tidak menunjukkan bahwa pria itu sedang menyebutkan nama istri yang dicintainya.


"Pa..."


"Aku tahu dengan jelas ambisi Eliana untuk menjadikan Dion raja Gracetian setelah aku. Dan aku tahu dia akan melakukan segala hal, terjahat, terburuk, atau terbusuk sekalipun untuk mengejar impiannya itu. Kita harus menghentikannya sebelum negara ini tercerai berai karena ambisi konyol seorang wanita seperti dia. Orang yang tidak bisa menilai kemampuan dari anak-anaknya. Uhuk... uhuk..." Suara batuk menghentikan Vincent untuk berbicara lebih lanjut.


Dengan sigap Deanda bangkit dari duduknya, dan mengambil segelas air mineral yang ada di meja yang ada di dekat temapt tidur Vincent. Begitu mendapatkan uluran gelas dari tangan Deanda, Alvero segera meraihnya dan membantu Vincent untuk meminumnya.


"Katakan padaku, apa yang ingin kalian bicarakan denganku sampai kalian berdua harus pergi meninggalkan istana secara diam-diam untuk menemuiku?" Deanda dan Alvero langsung saling berpandangan begitu mendengar perkataan Vincent.


Kedatangan mereka ke Renhill secara diam-diam memang akan mereka beritahukan kepada Vincent. Namun, hal itu akan mereka lakukan setelah pembicaraan mereka dengan Vincent berakhir.


"Darimana Papa tahu kami..." Alvero berkata dengan wajah sedikit kaget sekaligus penasaran.


 

__ADS_1


 


__ADS_2