BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SELALU MENGINGINKANMU, LAGI DAN LAGI


__ADS_3

Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, agar skip episode ini.


Dalam pikirannya. sekilas Alvero ingin menghentikan gerakan tangan dari Deanda, tapi Alvero tidak bisa menyangkal bahwa tubuhnya menikmati apa yang sedang dilakukan oleh Deanda kepada tubuhnya. Dan saat ini tubuh Alvero jelas-jelas memberikan respon yang menunjukkan bahwa dia juga menginginkan Deanda malam ini. Dan semakin lama waktu berlalu, dia tahu dia akan semakin sulit untuk meredam gejolak gairah dalam dirinya yang saat ini terasa begitu menggebu.


"My sweety.... I love you too..." Alvero berbisik pelan sambil tubuhnya bergerak mendekat ke arah Deanda.


"Apa kamu menginginkannya malam ini?" Alvero kembali berbisik pelan, membuat Deanda tidak menjawab, namun bagaimana tangan Deanda yang sudah berhasil membuka beberapa kancing kemeja Alvero, mulai menelusup masuk bahkan bergerak turun ke perut sixpacknya, mengelus bagian itu dengan lembut bahkan semakin lama bergerak semakin ke bawah, membuat Alvero tahu dia tidak lagi membutuhkan jawaban atau sekedar anggukan kepala dari Deanda yang dari gerakan tubuhnya terlihat jelas begitu menginginkannya, seperti dia juga menginginkan wanita tercintanya itu.


Pada akhirnya tangan Alvero bergerak ke arah tengkuk Deanda, menariknya agar kepala wajah Deanda mendekat ke arahnya, sehingga dia bisa mencium bibir Deanda dengan lembut. Namun begitu Alvero mendengar suara desahan yang keluar dari bibir Deanda saat bibirnya menyentuh bibir Deanda, Alvero tidak lagi bisa untuk menahan dirinya agar tidak mencium bibir Deanda dengan ciuman panas yang penuh dengan gairah. Memaksa Deanda membuka bibirnya agar Alvero bisa puas menikmati setiap rongga dalam mulut Deanda dengan kelembutan sekaligus menunjukkan betapa istrinya sudah membuatnya tergila-gila dengan keberadaannya.


Alvero dan Deanda saling menautkan bibir mereka sambil tangan mereka berdua bergerak untuk saling melepaskan kain penghalang yang ada diantara mereka berdua tanpa melepaskan pagutan mereka yang semakin panas dan menuntut satu sama lain sampai tidak ada lagi sehelai benangpun yang ada diantara mereka.


Untuk waktu yang lama Alvero mencium bibir Deanda sambil tangannya bergerak mengelus, memijat, mencari bagian-bagian sensitif tubuh Deanda dimana setiap Alvero menyentuh bagian itu membuat Deanda melenguh sekaligus tanpa sadar menggeliatkan tubuhnya karena sensasi sentuhan Alvero yang membuatnya merasa geli namun juga ingin Alvero melakukan lebih dari itu pada tubuhnya. Sehingga, tanpa sadar tangan Deanda bergerak ke arah rambut Alvero dan bahkan menarik rambut Alvero sambil menempelkan tubuhnya ke arah Alvero sehingga kulit mereka saling bersentuhan satu sama lain dengan semakin erat.


Dan tidak hanya berhenti dengan lum..ma..tan di bibir Deanda, perlahan -lahan Alvero mulai melepaskan bibirnya dari bibir Deanda dan Alvero mulai menjelajahi leher, telinga, dada dan hampir seluruh tubuh Deanda dengan bibirnya dan mulai mencari area-area sensitif yang dimiliki istrinya.


Alvero sengaja membiarkan bibir Deanda terlepas dari bibirnya agar Deanda bisa dengan bebas mengekspresikan suara desahan dan lenguhan dari bibirnya yang menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Alvero kepadanya sukses membawanya dalam puncak kenikmatan dan kebahagiaan sebagai seorang istri yang juga memberikan kenikmatan dan kebahagiaan untuk suami tercintanya.

__ADS_1


Dan setiap kali Deanda mengeluarkan suara desahan dari bibirnya membuat gairah Alvero semakin menggebu. Bagi Alvero suara itu terlihat begitu merdu dan juga  menunjukkan bagaimana dia sudah menjadi suami yang sempurna bagi istrinya. Seorang suami yang bisa membahagiakan dan memuaskan istrinya.


Melihat reaksi dari Deanda saat Alvero menyentuh bagian-bagian sensitif dari tubuh Deanda membuat Alvero menyungingkan senyum puas di bibirnya, merasa berhasil memberikan kenikmatan bagi Deanda. Dan dengan itu Alvero berusaha menanamkan dalam pikirannya, agar dapat mengingat dengan jelas bagian sensitif dari tubuh istrinya sehingga ke depannya dia bisa lebih mengerti dan membuat istrinya bahagia dan lebih menikmati kegiatan mereka yang satu itu.


"My Al...!" Pada akhirnya Deanda meneriakkan nama Alvero sambil memeluk erat tubuh Alvero saat Alvero melakukan penyatuan tubuh mereka malam itu, seolah berharap dengan melakukan itu tubuh mereka semakin menyatu, membuat dada Alvero seolah akan meledak karena merasa begitu bahagia melihat bagaimana Deanda menikmati penyatuan mereka malam ini sambil meneriakkan namanya.


Dan tanpa sadar dengan dipenuhi gairah, bahkan mereka melakukan penyatuan tubuh mereka lebih dari sekali sampai pada titik dimana mereka sama-sama merasa lelah dan tertidur dengan lelap dalam posisi saling berpelukan di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka, diiringi dengan bau pengharum ruangan yang semakin lama semakin memudar dan mulai menghilang.


# # # # # # #


Alvero sedikit memicingkan matanya sebelum pada akhirnya dia benar-benar membuka matanya, bangun dari tidurnya yang sejak dia menikah dengan Deanda, belum pernah sekalipun Alvero mengalami kesulitan tidur seperti biasanya. Walaupun mimpi buruk kadang tetap menghampirinya, namun, hal itu tidak lagi mengganggu tidurnya.


Bayi... ah... semoga kamu cepat mengandung penerus kerajaan. Aku sudah tidak sabar menggendong anak kita yang lahir dari rahimmu ini.


Alvero berkata dalam hati sambil salah satu tangannya mengelus lembut perut datar Deanda, yang tanpa sadar membuat Deanda menggerakkan tubuhnya karena merasa ada seseatu yang menyentuh tubuhnya.


Dan tidak menunggu lama, walaupun Alvero berusaha untuk diam, namun bibir Deanda terlihat menguap dan dengan perlahan membuka matanya yang langsung melihat pemandangan wajah tampan suaminya yang sedang menatapnya dengan senyum manis di wajahnya.

__ADS_1


"Good morning. Apa tidurmu nyenyak sweety?" Alvero bertanya sambil memberikan sebuah kecupan ringan di bibir Deanda yang tampak kering pagi ini.


"Morning too." Deanda menjawab singkat sapaan Alvero, karena mau tidak mau dia kembali teringat tentang malam panas yang sudah mereka lalui berdua.


Apa yang sudah terjadi tadi malam? Kenapa aku benar-benar dikuasai oleh hasrat dan gairah kepada yang mulia? Sesuatu yang begitu sulit untuk aku kendalikan.


Deanda berkata dalam hati dengan tetap terdiam tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya, bahkan dari lengan Alvero.


Dengan sedikit mengernyitkan dahinya, Deanda kembali mengingat kejadian tadi malam. Memang dia tidak dalam kondisi mabuk, sadar... bahkan sesadar-sadarnya, tapi dia merasa aneh bagaimana dia merasa tadi malam begitu menginginkan Alvero, sedangkan pikiran dan hatinya sedang dalam mood yang tidak bagus semalam. Dan bukan hanya itu saja, dengan sadar Deanda justru memancing Alvero agar melakukan hubungan intim itu. Deanda sadar dia yang memulai semuanya dengan sikap sedikit agresif, walaupun tidak separah ketika dia mabuk oleh alkohol, dimana dia sudah kehilangan kesadarannya.


Namun, kemarin malam.... Deanda ingat dalam kondisi sadar dia tidak dapat mengendalikan diri dari keinginannya untuk menyentuh dan mendapatkan sentuhan dari Alvero. Bahkan dia dengan sadar meminta Alvero melakukan penyatuan tubuh mereka lebih dari sekali, seperti seorang wanita yang begitu haus akan sentuhan laki-lakinya.


"Sweety... terimakasih untuk semalam. Aku yakin kamu pasti cukup lelah setelah tadi malam kita melakukannya lebih dari sekali. Kamu sudah melakukan yang terbaik." Alvero berkata lirih sambil menarik kepala Deanda ke dada bidangnya, memeluknya dengan erat.


"Aku sungguh mencintaimu sweety. Dan semakin hari sepertinya cinta itu semakin besar sehingga memenuhi setiap rongga hati dan juga otakku." Alvero berkata sambil mengecup puncak kepala Deanda berkali-kali tanpa henti, menunjukkan begitu besarnya cinta yang dia miliki untuk istrinya itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2