
Permainan apalagi ini? Bagaimana mungkin Alexis tiba-tiba saja muncul di tempat ini? Setelah Larena? Dan sekarang Alexis? Sial! Lebih baik aku segera memikirkan cara untuk secepatnya bisa menyelinap keluar sebelum semuanya terlambat. Aku harus pergi secepat mungkin.
Rolland berkata dalam hati sambil matanya melirik ke arah sebelah kanannya, dimana ada pintu yang menembus ke arah ruangan lain yang biasanya dipakai sebagai ruang pribadinya saat berada di bunker.
Sedang di sisi lain dengan langkah percaya diri Alvero berjalan diantara Alexis dan Red yang awalnya berada di depannya.
Yang pertama dicari oleh Alvero tentu saja sosok Rolland. Sehingga begitu Rolland yang dengan cepat memanfaatkan keributan para pasukan Alvero yang sedang menggiring pasukannya untuk dibawa keluar dari bunker, mata Alvero bisa melihatnya dengan jelas bagaimana Rolland yang sedang berusaha melarikan diri dengan diam-diam.
"Jangan lari Rolland!" Sambil berteriak, Alvero berlari ke arah belakang menerobos kumpulan orang banyak dan mengejar Rolland, diikuti oleh Erich, Marcello, Ernest dan beberapa anggota dari pasukan khusus yang langsung menyusul Alvero dengan cepat.
Mendengar teriakan Alvero, Rolland langsung mempercepat gerakannya. Sebuah tembakan yang diberikan Alvero, tepat mengenai kaki Rolland. Akan tetapi hal itu tidak menghentikan tindakan Rolland untuk terus berusaha agar bisa melarikan diri, yang ternyata diikuti oleh tiga anak buahnya yang lain, yang juga berusaha untuk melarikan diri.
"Berhenti! Atau aku akan menembakmu!" Alvero kembali memberikan peringatan kepada Rolland yang terus berlari sambil berusaha berlindung di beberapa benda seperti meja, kursi maupun tembok.
Alaya yang bermaksud ikut mengejar Rolland di belakang Erich dan Ernest, langsung dicegah oleh Alexis.
"Uncle...." Alaya bermaksud menyatakan protes kepada Alexis karena berusaha mengejar Rolland bersama Alvero, tapi begitu kepala Alexis menggeleng dan matanya memberikan kode kepada Alaya agar menoleh ke samping, Alaya langsung menghentikan gerakannya.
Begitu Alaya menoleh ke samping, dan dilihatnya Deanda beserta Alea datang menyusul mereka, mata Alaya langsung terbeliak karena kaget.
Alaya kembali menoleh ke arah terakhir Alvero berada, tapi sosok kakak laki-lakinya itu ternyata sudah menghilang di balik pintu yang dipergunakan oleh Rolland untuk melarikan diri.
__ADS_1
"Kak Deanda!" Begitu tidak menemukan sosok Alvero lagi, Alaya segera mendekat ke arah Deanda dan mengamati sosok Deanda dari atas ke bawah, memastikan bahwa Deanda dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah itu dengan cepat Alaya meraih tangan Deanda agar sedikit menjauh dari kelompok orang-orang Rolland yang sedang digiring oleh pasukan gabungan milik Alvero dan Ornado dari Italia.
Mereka tampak berjalan dengan kepala tertunduk lesu dengan kedua tangan terangkat di atas kepala.
"Kenapa menyusul ke tempat ini? Bukankah kak Alvero sudah melarang kakak untuk datang ke tempat ini? Dan kamu Alea! Kenapa membiarkan permaisuri meninggalkan istana?" Alaya berkata dengan nada tinggi kepada Alea, menunjukkan dia begitu mengkhawatirkan Deanda.
Wah, ini masih kemarahan putri Alea, aku tidak bisa membayangkan bagaimana cara menghadapi kemarahan yang mulia Alvero setelah tahu Deanda nekat menyusulnya ke bunker.
Alea berkata dalam hati sambil menelan ludahnya karena melihat bagaimana mata Alaya yang saat ini sedang melotot ke arahnya dengan wajah marah.
"Eh, begini Putri Ala...."
"Tapi Kak...."
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Dimana kakakmu? Ada satu hal penting yang harus aku sampaikan padanya sekarang." Deanda segera mengalihkan pembicaraan mereka berdua, agar Alaya tidak marah lagi.
"Kak Alvero sedang mengejar Rolland yang berusaha melarikan diri bersama beberapa orang. Kenapa tidak meminta orang lain menyampaikan pesan dari Kakak, sehingga Kak Deanda tidak harus datang sendiri ke tempat ini. Wah... bisa-bisa kak Alvero menghukum semua orang yang ada di istana karena sudah ceroboh, membiarkan Kak Deanda keluar dari istana dan menyusulnya kesini." Alaya berkata dengan wajah masih terlihat begitu tidak terima.
"Aku tidak ingin pesanku tidak tersampaikan dengan baik. Dalam kondisi seperti ini, tidak semua orang bisa kita percaya. Benarkan?" Deanda menanggapi perkataan Alaya sambil meringis, karena sebenarnya alasan terbesarnya menyusul ke tempat ini lebih karena mengkhawatirkan Alvero, daripada alasan yang lain.
__ADS_1
"Memang sepenting apa pesan itu sehingga Kak Deanda begitu nekat untuk datang ke tempat berbahaya seperti ini dalam kondisi hamil? " Alaya langsung bertanya sambil memandang ke arah Deanda matanya tampak menatap ke arah proses evakuasi kelompok pemberontak itu.
Alexis sendiri begitu melihat Deanda sudah didampingi oleh Alaya dan Alea, tampak langsung bergerak ke tempat yang ditunjukkan oleh baron Amos tentang semua bukti-bukti yang dia sembunyikan di salah satu ruangan yang ada di dalam bunker tersebut.
Semua bukti-bukti yang menunjukkan kejahatan-kejahatan Eliana di masa lalu, termasuk rencananya dalam peristiwa kebakaran di tempat kediaman Larena Hilmar yang hampir merenggut nyawanya waktu itu.
"Ibu suri Eliana, berhasil melarikan diri dari rumah sakit tempatnya dirawat." Mata Alaya langsung membulat sempurna mendengar perkataan Deanda.
Pikiran Alaya langsung melayang ke mamanya yang sedang bersama dengan Vincent di apartemennya, karena Larena merasa masih belum nyaman untuk kembali masuk ke istana.
"Apa ada indikasi kemana perginya wanita itu Kak?" Deanda langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Alaya.
"Karena itu aku cukup khawatir. Dan ingin segera memberitahukan kepada kakakmu tentang kondisi ini." Deanda berkata sambil memandang ke arah para anggota pasukan khusus yang langsung memberikan salam penghormatan kepadanya begitu melewatinya.
Sedang para anggota pasukan dari Italia langsung menganggukkan kepala mereka dengan sedikit membungkukkan tubuh mereka untuk menunjukkan rasa hormat mereka kepada Deanda, yang sebelum awal keberangkatan mereka ke Gracetian, Afro Xanderson, memberikan pengarahan dan pengetahuan singkat tentang kerajaan Gracetain, termasuk tokoh-tokoh penting dari kerajaan itu.
"Ah, aku berharap wanita itu tidak mengincar mama kembali." Alaya berkata sambil menarik nafas panjang, merasa sedikit khawatir karena apartemen yang ditempatinya sekarang bukan apartemen mewah dengan penjagaan yang ketat.
Sudah beberapa kali sejak Alvero mengetahui tentang status Alaya sebagai adik kandungnya selalu memintanya untuk pindah ke apartemen yang sudah dipersiapkannya, atau ke istana, tapi Alaya masih meminta waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan status barunya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah memerintahkan puluhan pengawal untuk berjaga di sekitar apartemen tempatmu tinggal. Perkiraanku, Eliana pasti sedang mencari tempat yang aman karena kesehatannya belum pulih betul, daripada dia memikirkan untuk menyerang mama Larena." Perkataan Deanda langsung membuat Alaya tersenyum dengan wajah terlihat begitu lega.
__ADS_1