BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENGALAHKAN SI LAJANG ENZO


__ADS_3

Deanda sendiri hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah kedua laki-laki keturunan Adalvino itu. Yang satu begitu posesif, yang satu begitu sulit untuk berpindah ke lain hati walaupun gadis yang disukainya menyukai pria lain, begitu sulit melepaskan diri dari rasa cintanya kepada gadis yang bahkan tidak mencintainya.


Tapi apa mau dikata. Bagaimanapun mereka berdua memiliki satu kesamaan yang menunjukkan mereka memilki darah yang sama sebagai Adalvino. Sama-sama keras kepala dan tidak perduli apa kata orang jika itu berhubungan dengan wanita yang dicintainya walaupun dengan cara yang berbeda. Rela melakukan apa saja untuk wanita yang dicintainya walaupun kadang terlihat konyol, kekanak-kanakan, bahkan arogan karena kadang mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan mereka untuk melakukan itu.


Deanda berkata dalam hati sambil memegang telapak tangan Alvero yang berada di depan wajahnya, untuk kemudian menariknya menjauh dari wajahnya, membuat Enzo langsung tertawa tergelak melihat bagaimana penurutnya Alvero kepada istrinya, membiarkan Deanda menyingkirkan tangannya yang tadi digunakannya untuk mencegah Enzo memandang ke arah Deanda.


"Aku mana berani melawanmu Yang Mulia? Lagipula permaisurimu itu... dari caranya menatapmu saja aku tahu dia begitu mengagumimu. Aku jamin walaupun saat ini akulah yang menjadi raja Gracetian, permaisurimu cantikmu itu pasti tetap akan memilihmu sebagai suaminya. Bukan hal mudah untuk menggoyahkan hatinya darimu. Benar kan permaisuri?" Enzo berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, sedang Alvero langsung tersenyum dengan wajah malu-malu sambil melirik ke arah Deanda.


"Hah, kamu selalu pintar jika berkaitan dengan merangkai kata-kata indah. Memang kamu pantas disebut casanova dari Gracetian. Ayolah, kita selesaikan dengan cepat pertandingan catur ini." Alvero berkata sambil tangannya memberi tanda kepada Enzo untuk segera melanjutkan permainan catur mereka.


"Kenapa harus terburu-buru menyelesaikannya? Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bermain catur di tempat ini. Apa setelah ini ada hal penting yang harus kalian lakukan?" Mendengar pertanyaan Enzo, membuat Alvero tersedak oleh ludahnya sendiri.


"Makan malam. Memang apalagi yang akan kami lakukan?" Dengan buru-buru Alvero menjawab pertanyaan Enzo tanpa berani menatap ke arah Enzo, takut jika Enzo menggodanya habis-habisan jika melihat sikapnya yang tiba-tiba gugup karena pertanyaan Enzo sebelumnya yang membuat dadanya bergetar, karena pertanyaan Enzo berhasil membuatnya teringat kembali dengan jelas tentang apa yang sudah dia lakukan bersama Deanda di rumah kayu tadi pagi. Dan itu adalah sesuatu yang masih ingin dilakukannya malam ini bersama wanita tercintanya itu setelah acara makan malam selesai.

__ADS_1


"Kapan kalian akan kembali ke perusahaan?" Pertanyaan dari Enzo berikutnya disertai gerakan tangan Enzo di atas papan catur, menggerakkan salah satu bidak caturnya berusaha menyerang bidak Alvero yang baru saja melakukan interpose, tanpa sengaja justru membuat pertahanan Enzo sedikit goyah.


"Minggu depan kami akan kembali ke perusahaan. Dan aku harap selama seminggu kami meninggalkan perusahaan, Dion tidak membuat masalah lagi seperti dulu saat dia bekerja di anak cabang perusahaan Adalvino." Alvero berkata sambil mengamati posisi bidak catur milik Enzo yang baru saja digerakkannya.


Melihat apa yang sudah dilakukan Enzo terhadap bidak caturnya, Deanda menyungingkan sebuah senyum kecil diikuti oleh Alvero yang langsung menggerakkan bidak ratu miliknya untuk melakukan double attack seperti yang tadi diajarkan oleh Deanda. Apa yang dilakukan oleh Alvero sukses membuat Enzo terbeliak kaget, berkali-kali mata Enzo melihat antara papan catur yang ada di depannya dengan wajah Alvero secara bergantian lebih dari 5 kali berturut-turut sambil bibirnya berdecak.


"Wah... Alvero... kali ini kamu benar-benar membuatku tidak percaya kamu bisa menang dariku tanpa berbuat curang jika saja aku tidak melihat dan memperhatikanmu sedari tadi." Enzo berkata dengan bibir manyun karena merasa menyesal sudah meremehkan Alvero dan permasurinya dalam bermain catur.


"Tapi Yang Mulia, sebenarnya pujianku tadi layaknya aku berikan kepada permaisuri Deanda, bukan kamu. Dia adalah otak yang membantumu bertanding catur hari ini." Enzo berkata sambil kembali menggerakkan bidak caturnya yang dia tahu tidak akan bisa banyak membantu, dua atau tiga gerakan lagi dari Alvero, tepatnya Deanda akan membuatnya mendapatkan skakmat jika Alvero dan Deanda tidak melakukan kesalahan gerak bidak.


Sedang Alvero, begitu melihat wajah tertekan Enzo yang selama bertahun-tahun tidak ada seorangpun yang pernah berhasil mengalahkannya dalam bermain catur langsung tersenyum geli sekaligus bangga dan bahagia.


"Hah... Pangeran Enzo sudah kehilangan kepercayaan dirinya dalam permainan catur sehingga mulai berpikir aku akan bermain curang? Padahal kamu tahu tidak pernah sekalipun aku bermain curang denganmu." Enzo hanya meringis mendengar perkataan Alvero.

__ADS_1


"Tidak, aku tarik ucapanku, walaupun bermain curang kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Kali ini kamu menang karena Deanda. Jadi aku anggap hari ini aku bermain catur dengan Deanda, bukan denganmu." Enzo berkata dengan nada santai sambil melihat ke arah Alvero yang dengan percaya diri melakukan legal trap.


(Legal trap adalah menggerakkan bidak catur, dilakukan dengan mengorbankan bidak ratu untuk dapat melakukan skakmat bidak raja lawan dengan bidak lain).


"Apa bedanya aku dan Deanda, kami adalah suami istri, artinya kami sudah menjadi satu kesatuan, tidak ada lagi Alvero atau Deanda, tapi kami berdua." Alvero berkata dengan nada terdengar begitu bangga.


"O ya, sudah berapa kali kalian melakukan hal seperti "itu"? Sepertinya sudah puluhan kali sehingga dengan bangganya kamu berkata seperti itu untuk memamerkannya kepadaku? Dasar raja tidak berperasaan. Harusnya kamu memiliki sedikit simpati kepadaku yang masih lajang ini." Enzo menggoda Alvero dan Deanda yang langsung membeliakkan matanya dengan wajah memerah.


Apa-apaan ini? Tidak yang mulia ataupun pangeran Enzo. Kalian berdua memiliki hobi yang sama... suka sekali menggoda orang lain.


Deanda berkata dalam hati sambil menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah malunya.


"Kalau kamu sudah mengerti, kalau begitu tidak ada alasan bagiku untuk menjelaskan kepadamu lagi. Ayo, kita makan malam, karena setelah itu ada yang hal penting yang harus kami lakukan, hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang lajang sepertimu tentunya." Alvero berkata sambil dengan sengaja menggerakkan salah satu bidak milik Enzo, sehingga posisi bidak raja milik Enzo dalam posisi mendapatkan skak mat dari bidak hitam milik Alvero.

__ADS_1


"Ah, itu sepertinya lebih baik. Kita makan malam sekarang. Kalian juga butuh asupan gizi untuk kegiatan kalian selanjutnya." Enzo berkata sambil bangkit dari duduknya dan langsung mendekat ke arah Alvero, memeluk bahunya untuk kemudian menarik kepala Alvero ke arahnya sehingga dia bisa berbisik ke arah Alvero dengan pelan agar tidak didengar oleh yang lain.


"Jangan terlalu bersemangat, jika tidak ingin besok kamu mengalami kesulitan untuk berjalan." Enzo berbisik pelan, setelah itu dengan cepat bergerak menjauhi Alvero agar tidak memberi Alvero kesempatan untuk memukulnya.


__ADS_2