BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MARI KITA BERPACARAN


__ADS_3

Dua kali Deanda sudah melakukan kesalahan saat menilai Alvero. Yang pertama tentang kemampuannya memasak, yang kedua, kesalahan yang cukup fatal, berpikir bahwa Alvero tidak memiliki kemampuan beladiri sehingga saat itu dengan mudahnya dia menerima tantangan Alvero untuk bertanding dan berharap dia bisa mengalahkan dengan mudah putra mahkota Gracetian saat itu. Tapi ternyata Deanda harus dengan rela mengakui bahwa suaminya memang memiliki kemampuan beladiri di atas kemampuannya. Di samping itu dengan berjalannya waktu, dengan banyaknya peristiwa yang sudah terjadi diantara mereka berdua, Deanda tahu Alvero bukanlah seorang putra mahkota manja yang hanya bisa mengandalkan para pengawal untuk melindunginya.


Mengingat tentang kenangannya di masa lalu bersama Alvero yang akhirnya membawanya sampai kepada hari ini, dimana sekarang dia merupakan istri Alvero, membuat tanpa sadar Deanda kembali menyungingkan senyum geli di wajahnya, menyadari kebodohannya di masa lalu. Namun di sisi lain, karena kebodohannya dia merasa begitu beruntung bisa menjadi wanita yang akhirnya dipilih oleh Alvero sebagai pelabuhan hatinya.


"Hei! Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu? Kamu sedang teringat sesuatu yang lucu?" Deanda sedikit tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Alvero yang sedari tadi memperhatikan semua tindak tanduk istrinya selama di dapur.


"Ah, tidak ada, hanya teringat sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu." Alvero hanya tersenyum mendengar Deanda berusaha berkelit untuk tidak menceritakan apa yang baru saja dipikirkannya.


"Tentang apa? Siapa? Kekasihmu di masa lalu?" Alvero bertanya sambil tangan kirinya mencomot sepotong cookies kenari yang ada di toples yang berjajar rapi di sampingnya, berisi berbagai macam cookies.


"Ist.... mantan kekasih darimana? Bahkan sampai hari ini aku bahkan belum pernah memiliki kekasih. Yang ada justru tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya berpacaran dan memiliki kekasih tiba-tiba saja justru aku memiliki seorang suami." Deanda berkata sambil mencibirkan bibirnya yang langsung membuat Alvero tergelak.


Perkataan Deanda membuat Alvero akhirnya ikut teringat tentang berbagai kejadian yang sudah dia lalui bersama Deanda. Bagaimana pertemuan mereka terjadi saat itu, tindakan Ernest di alun-alun kota Tavisha yang sengaja diperintahkan oleh Alvero, agar Deanda terjebak dengan idenya untuk menikahi gadis itu agar posisinya sebagai putra mahkota dapat diapertahankan, sampai bagaimana setiap tindakan dan sikap Deanda yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta dengan gadis cantik yang akhirnya bisa dia paksa untuk menikah dengannya itu.


"Ah, tidak ada bedanya bagiku. Justru aku suka kita langsung menikah. Bisa bebas melakukan apapun berdua." Alvero berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat wajah Deanda kembali memerah.

__ADS_1


"Kamu tahu sweety... jika banyak orang berkata orang selalu bersikap manis ketika merekan masih berpacaran dan berubah menjadi lebih dingin setelah menikah. Aku ingin sampai kita tua, pernikahan kita justru seperti orang yang sedang berpacaran. Aku mau kita selalu saling merindukan, saling mencintai, saling memanjakan. Jangan sampai hubungan kita menjadi dingin seperti kata orang." Alvero berkata sambil meraih cangkir berisi teh hangat yang baru saja disodorkan oleh Deanda ke arahnya.


“Aku ingin pernikahan kita selalu mesra dan manis, seperti saat orang lain berpacaran. Bagiku, pernikahan kita harus selalu hangat, jangan seperti banyak yang terjadi di dunia ini. Setelah menikah cinta antara dua orang kekasih menjadi pudar. Harusnya setelah menikah pun, mereka harus tetap seperti orang berpacaran. Kamu setujukan dengan pendapatku?” Selesai mengucapkan kata-katanya, Alvero meminum teh hangat buatan istrinya sambil tersenyum.


Mendengar perkataan Alvero, Deanda hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pernyataan Alvero barusan.


“Mari kita membuat pernikahan kita seperti dua orang yang sedang berpacaran.” Alvero kembali berkata sambil menatap mesra ke arah Deanda.


Tidak banyak hal yang diinginkan oleh Deanda tentang masa depan pernikahan mereka. Dia hanya ingin agar Alvero selalu setia dan mencintainya. Juga selalu ada saling percaya diantara mereka berdua. Bagi Deanda hal itu sudah lebih dari cukup, karena dia sadar sosok sesempurna Alvero, bisa dipastikan akan mendapatkan lebih banyak godaan baik yang berhubungan dengan pekerjaan ataupun wanita. Masalah pasti akan datang menghampirinya. Apalagi di masa lalu, Vincent yang dulunya dikenal begitu mencintai Larena Hilmar pun pernah jatuh dalam masalah wanita.


Selanjutnya pembicaraan mereka berkutat di masa lalu Alvero, saat raja muda itu masih menjadi putra mahkota dan menghabiskan waktunya di Italia untuk kuliah, juga bagaimana dia menjalin persahabatan dengan Ornado Xanderson hingga sekarang. Persahabatan yang sangat dekat, bahkan kedekatan Ornado Xanderson bagi Alvero, boleh dikata tidak jauh berbeda dengan kedekatan Alvero dengan Enzo.


Deanda baru saja berniat menumpahkan spaghetti yang dibuatnya ke atas dua piring yang sudah dia siapkan, namun sentuhan tangan Alvero di pergelangan tangannya membuat Deanda menghentikan gerakannya.


"Tuang jadi satu di piring itu. Kita makan berdua di piring itu." Alvero berkata sambil memajukan bibirnya seperti berniat memberikan ciuman jarak jauh kepada Deanda, membuat Deanda tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tindakan konyol suaminya.

__ADS_1


"Haruskah?" Deanda bertanya singkat dengan senyum menggoda ke arah Alvero.


"Bahkan kita sudah berbagi banyak hal dan kamu masih menanyakan hal sekecil ini? Kita sudah berbagi tempat tidur, berbagi selimut, berbagi ciuman, bahkan sudah berbagi..."


"Sudah, hentikan. Sesuai permintaanmu." Dengan cepat Deanda memotong perkataan Alvero yang dirasanya sudah menjurus kembali ke arah pembicaraan yang lebih intim, yang mau tidak mau sampai saat ini bahkan masih membuat wajahnya memerah dan dadanya bergejolak saat mengingat bagaimana lembut dan mesranya perlakuan Alvero kepadanya saat di tempat tidur.


"Aku hanya takut kamu merasa tidak terbiasa dengan cara makan seperti ini. Biasanya kamu selalu terlihat rapi dan mematuhi semua tata cara makan di istana." Mendengar perkataan Deanda, Alvero langsung tertawa.


"Apa salahnya sekali-sekali kita tidak melakukan sesuatu tata cara baku yang berlaku di istana? Toh itu bukan sebuah dosa. Adakalanya aku juga ingin hidup normal seperti orang biasa pada umumnya. Dan itu hanya bisa aku lakukan saat hanya berdua denganmu atau saat aku menjadi Alvi." Alvero berkata sambil menatap ke arah tangan Deanda yang akhirnya meletakkan hasil masakannya dalam satu piring sesuai permintaan Alvero sebelumnya, membuat senyum puas tersungging di bibir Alvero.


"Mmmmm... baunya enak... pasti lezat seperti biasanya. Kamu memang yang terbaik dalam hal memasak sweety." Alvero berkata sambil meraih garpu dan mulai memutar-mutar garpu itu diantara spaghetti yang ada di piringnya.


Mendengar pujian dari Alvero terhadap masakannya bahkan sebelum Alvero mencicipinya, membuat Deanda hanya bisa tersenyum geli. Setelah meletakkan wadah bekasnya memasak ke dalam wastafel, Deanda langsung mengambil posisi duduk tepat di hadapan Alvero, bersiap untuk ikut makan bersama suaminya dari satu piring yang sama.


Begitu Alvero selesai memutar-mutar garpunya sampai penuh dengan spaghetti, tangan Alvero yang memegang garpu itu langsung terulur ke arah mulut Deanda yang menatap Alvero dengan sikap ragu-ragu, namun pada akhirnya Deanda menerima suapan dari Alvero, membuat Alavero tersenyum senang dan kembali memutar-mutar garpu itu. Dan untuk yang kedua kalinya Alvero mengarahkan garpu itu ke mulutnya sendiri.

__ADS_1


Deanda baru saja menggerakkan tangan kanannya ke samping untuk meraih garpu lain untuknya, namun dengan cepat tangan Alvero meraih tangan kanan Deanda dan menggenggamnya dengan erat, di samping piring berisi spaghetti itu sambil mengelus-elusnya lembut dengan ibu jari tangan kirinya yang sedang menggenggam tangan Deanda.


Dan tanpa mengatakan apapun Alvero kembali menyodorkan garpu yang telah kembali terlilit oleh spaghetti sekali lagi ke arah mulut Deanda yang hanya bisa menerima suapan dari suaminya dan menghentikan niatnya untuk mengambil garpu lain karena melihat tindakan Alvero menunjukkan siang ini Alvero bukan sekedar ingin makan dalam satu piring dengan Deanda, bahkan lebih dari itu, Alvero ingin siang ini dia yang melayani dan memanjakan Deanda dengan menyuapkan makan siang mereka kepada Deanda.


__ADS_2