BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
INTEROGASI TERHADAP AVITUS


__ADS_3

“Awalnya selama ini aku berpikir, sasaran utama Avitus adalah aku. Jikapun dia berniat meracuni makanan kita… awalnya aku berpikir pasti makananku yang akan diracun. Aku tidak menyangka teranyata wanita ular itu justru mengincarmu. Aku yakin ini ada hubungannya dengan Alaya. Pasti dia berharap menimpakan kesalahan itu kepadaku. Jika kamu benar-benar berhasil diracun, dia akan memanfaatkan alasan bahwa aku sengaja menyingkirkanmu karena keberadaan Alaya. Benar-benar wanita licik dan kejam. Kali ini, aku akan membuat senjata yang dibuat Eliana untuk menyerangku, agar menyerang dirinya sendiri.” Alvero berkata sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Beruntung Alea segera memberikan info akurat terkait niat Avitus meracunimu. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai ada sesuatu yang buruk menimpa kalian berdua." Alvero berkata sambil mengelus lembut wajah Deanda yang langsung tersenyum sambil memegang punggung telapak tangan Alvero yang ada di pipinya dengan perasaan yang melupa penuh oleh rasa cinta.


"Jangan berkata seperti itu my Al. Aku tahu kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untukku. Hanya aku saja yang merasa kaget karena sebagai rakyat biasa selama ini tidak pernah mengerti bahwa ternyata kehidupan di istana tidak senyaman yang bisa dilihat dari luar. Dan itu... kadang terasa sungguh mengerikan." Alvero langsung menggerakkan kepalanya dan mencium lembut perut Deanda, seolah sedang mencium sosok bayi dalam perut Deanda.


“Sabarlah sebentar lagi sweety. Setelah wanita ular itu menyingkir dari istana, aku berharap kita semua bisa hidup dengan tenang.” Alvero berkata dengan hidungnya yang mancung masih mencium perut Deanda.


"Aku tidak tahu, bagaimana orang dengan mudah berpikir untuk meracuni dan menghilangkan nyawa seseorang tanpa beban seperti tuan Avitus yang sudah puluhan tahun menjadi orang kepercayaan dalam keluarga Adalvino. Kira-kira apa yang membuat dia begitu mudah untuk berkhianat.” Deanda begumam pelan sambil menatap ke arah Alvero.


"Aku akan menjelaskan nanti setelah menemui duke Evan untuk memberikan plakat raja padanya. Duke Evan memerlukan plakat itu sebagai tanda bahwa dia sedang mewakili raja Gracetian dalam bertindak. Tanpa plakat itu, jika duke Evan berani mengobrak abrik istana, dia akan dicap sebagai pengkhianat." Alvero berkata sambil mendekat ke arah salah satu sudut kamarnya, dimana terdapat brankas miliknya.


Alvero segera membuka brankas itu menggunakan sidik jari milinya dan segera mengambil plakat raja miliknya.

__ADS_1


"Beristirahatlah sebentar di sini sweety. Kurang dari 5 menit, Alea akan datang kemari membawakan makan siangmu. Makanlah lebih dahulu, nanti aku menyusul. Jangan sampai baby kita kelaparan. Kamu juga harus menjaga dirimu dengan baik sweety. Aku tidak mau kejadian hari ini membuatmu berpikir terlalu banyak. Aku akan menemui duke Evan. Setelah memberikan plakat ini, aku akan segera kembali padamu." Alvero berkata sambil sengan lembut mengecup kening Deanda sekilas sebelum akhirnya keluar untuk kembali menemui Evan.


# # # # # #


"Bagaimana kondisi Avitus?" Begitu bertemu dengan Erich di ruangan bawah tanah tempat mereka menahan Avitus, Alvero yang datang bersama Ernest, segera berkata dengan nada terdengar begitu serius.


"Sampai sekarang dia masih tetap bungkam Yang Mulia." Erich berkata sambil berjalan mendekat ke arah Alvero yang baru saja datang ke tempat yang biasa digunakan untuk melakukan interogasi  para tawanan, pengkhianat atau orang-oang yang sudah berani melalukan sesuatu yang dianggap Alvero maupun raja-raja sebelumnya menentang perintah mereka sebagai raja.


Suasana di tempat itu terlihat begitu suram, dengan penerangan yang terlihat sangat minim. Disana terdapat ruangan-ruangan berukuran tidak terlalu luas. Jumlah ruangan yang berjajar itu tidak lebih dari 10 ruangan, dengan di setiap sudut dalam ruangan itu terdapat lemari berisi berbagai macam senjata dan alat yang biasa digunakan untuk menghajar dan menyiksa tawanan agar mau mengaku.


"O, begitukah?" Alvero berkata dengan nada suara terdengar sinis dan dengan langkah tegap berjalan ke arah salah satu ruangan dimana Avitus sedang duduk dalam posisi terikat di atas sebuah kursi besi, dimana kursi itu dihubungkan dengan aliran listrik, yang siap dinyalakan kapanpun untuk menyiksanya.


(Sengatan listrik memang sering digunakan dalam penyiksaan. Dikutip dari medineplus, kontak langsung dengan arus listrik bisa memicu kerusakan kulit maupun organ dalam. Tubuh manusia menghantarkan listrik dengan baik, karena itu bisa berdampak fatal jika arusnya sangat besar. Beberapa dampak sengatan listrik yang bisa terjadi: gagal jantung, kerusakan otot, saraf, dan jaringan yang teraliri listrik, luka bakar karena kontak langsung dengan permukaan kulit, cedera karena jatuh setelah tersengat listrik.

__ADS_1


Realclearscience menejlaskan lebih rinci kemungkinan efek sengatan listrik pada tubuh manusia berdasarnya besarnya arus yang dialirkan. 1 mA (milliampere) hanya memicu sensasi merinding, tetapi tetap berbahaya pada kondisi tertentu. 5 mA, sedikit sesasi terkejut. Tidak benar-benar sakit, tapi mengganggu. 6-16mA mengakibatkan kejutan yang menyakitkan, mulai menyebabkan hilangnya kendali otot. 17-99 mA menimbulkan nyeri ekstrim, gagal nafas, kontraksi otot yang hebat. Kematian mungkin bisa terjadi. 100-2000 mA menyebabkan Vibrilasi Fentrikel (VF) atau denyut jantung yang sangat cepat dan tak terkendali. Kontraksi otot dan kerusakan saraf mulai terjadi. Kematian sangat mungkin terjadi pada tahap ini. Di atas 2000 mA akan terjadi gagal jantung, kerusakan organ dalam, dan luka bakar serius. Kematian semakin dimungkinkan pada tahap ini).


Dengan gerakan sedikit kasar, Alvero menarik kursi yang ada tepat di depan Avitus, dan langsung mengambil posisi duduk disana sambil menyilangkan kakinya, dengan matanya menatap tajam ke arah Avitus yang tampak di beberapa bagian tubuhnya terlihat luka gores bekas sabetan cambuk, termasuk di wajahnya.


Selain itu ada beberapa lebam yang menimbulkan warna biru, terlihat pada beberapa bagian tubuh Avitus akibat pukulan ataupun hantaman benda tumpul.


Di samping kana kiri Avitus, tampak dua orang orang pengawal yang berdiri dengan sikap sigap dan di sudut lain tampak pengawal yang lain juga berjaga.


Mereka semua langsung memberikan salam penghormatan kepada Alvero begitu melihat kehadiran Alvero di sana.


Setelah menerima salam penghormatan mereka, Alvero segera menggerakkan tangannyannya, memberi tanda kepada para pengawal lain, kecuali Erich dan Ernest untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Karena Alvero ingin berbicara secara pribadi dengan Avitus.


Begitu semua pengawal, selain Erich  dan Ernest meninggalkan ruangan itu, Alvero memandang dengan sinis ke arah Avitus selama beberapa saat, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, membuat Avitus merasa semakin terpojok.

__ADS_1


"Apa sampai sekarang kamu masih mau bersikeras bahwa tidak ada yang menyuruhmu Avitus?" Alvero bertanya kepada Avitus dengan suara terdengar dingin, dan tatapan matanya menatap tajam ke arah Avitus yang membungkukkan tubuhnya dengan mata menatap lurus ke lantai di bawahnya, yang menunjukkan adanya beberapa bercak darah milik Avitus sendiri.


__ADS_2