BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
HADIAH ISTIMEWA UNTUK DEANDA


__ADS_3

Astaga! Aku benar-benar bodoh telah berpikir bahwa mereka sudah selesai dengan urusannya dan bersiap bekerja kembali.


Ernest langsung berteriak dalam hati dengan tubuh yang tersentak kaget.


Ernest yang mengira kondisi sudah normal dan berniat melangkah ke arah kantor Alvero setelah dipikirnya tidak lagi ada suara kecupan bibir seperti tadi, langsung membalikkan tubuhnya kembali dengan wajah memerah karena melihat bagaimana Alvero ynag sedang menciumi leher Deanda dengan mesra di bawah kungkungan kedua lengannya.


Dan bukan hanya wajah yang memerah, pemandangan antara Alvero dan Deanda yang seharusnya tidak dilihatnya, spontan membuat dada Ernest berdebar dengan keras.


Yang mulia... anda benar-benar sudah menyiksaku tanpa sadar. Sepertinya aku harus segera menemukan belahan jiwaku dan menikah, jika tidak ingin terus tersiksa melihat kemesraan yang mulia dan permaisuri pamerkan, dan yang tidak pernah ada habisnya.


Ernest kembali mengeluh dalam hati sambil mengusap sebulir keringat dingin yang tiba-tiba muncul di keningnya.


"My Al, ini kita harus mulai bekerja sekarang." Deanda berusaha mengeluarkan kata-katanya dengan nada setenang mungkin agar Alvero tidak menyadari bahwa saat ini dadanya sedang berdegup kencang, dan hampir saja tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak membalas kemesraan Alvero.


"Siapa yang kamu takutkan? Aku adalah pemilik perusahaan ini." Alvero berkata sambil menjauhkan hidung dan bibirnya dari leher Deanda, namun tetap membiarkan tubuh Deanda dalam penjara kedua lengannya yang menekan pada tembok di belakang Deanda.


"Eh, kita harus bersikap profesional. Sebagai seorang pemimpin kita harus memberi contoh yang baik." Kata-kata Deanda sukses membuat Alvero menjauhkan tubuhnya dari Deanda, lalu menarik kedua lengannya kembali, membiaran tubuh Deanda lepas dari kungkungan kedua lengannya.


"Ok, setuju. Kalau begitu, kita akan mulai bekerja sekarang, setelah kita menyelesaikan pekerjaan kita, nanti baru kita lanjutkan lagi hal tadi. Kamu sendiri yang sudah berjanji ya. Dan aku… pasti menagihnya, bersama dengan bunganya…." Dengan sikap santai Alvero berkata dan membuka pintu kantornya, lalu menggerakkan tangannya, mempersilahkan Deanda untuk masuk lebih dahulu.

__ADS_1


"Ernest! Sedang apa kamu di sana? Sedang menunggu semut berbaris di dinding? Ayo masuk ke kantorku!" Sebelum Alvero masuk ke dalam kantornya, dengan suara nyaring, Alvero segera memanggil Ernest yang masih berdiri di tempatnya dengan posisi membalikkan tubuhnya, agar secepatnya menyusul ke kantor Alvero.


Ah,  yang mulia memanggilku sekarang. Apa keadaan sudah aman sekarang? Semoga saja....


Dengan sikap ragu dan hati-hati, Ernest membalikkan tubuhnya dan langsung menarik nafas lega begitu melihat sosok Alvero yang tidak lagi berada dalam posisi begitu dekat dan mesra dengan Deanda.


"Baik Yang Mulia!" Dengan cepat Ernest menjawab perintah Alvero dan berlari-lari kecil menuju pintu kantor Alvero.


Saat baru masuk ke kantor Alvero, yang dilihat Deanda adalah pemandangan mewah dari kantor yang didominasi oleh warna kayu itu.


Deanda sedikit menarik nafas panjang, tidak ada yang berubah dari penampakan kantor Alvero sejak terakhir kalinya Deanda mengunjungi Alvero. hanya saja ada satu penambahan perabot berupa meja kerja lebar, hampir dua pertiga dari besarnya meja kerja milik Alvero, dengan motif dan warna yang sama.


"Apa itu meja kerjaku?" Alvero langsung menganggukkan kepalanya begitu Deanda menanyakan tentang keberadaan meja tersebut.


Bagaimana bisa aku tidak menyukai meja kerja yang indah itu? Yang mulia ada-ada saja. Seumur hidupku bahkan baru bisa melihat perabotan indah dan mewah setelah mengenal yang mulia dan duke Evan.


Deanda berkata dalam hati sambil berjalan mendekat ke arah meja kerja yang sudah disiapkan untuknya itu.


Begitu sampai di dekat meja kerja itu, Deanda meletakkan tas kerjanya di atas meja, sekilas diamatinya bagian bawah dan samping meja itu, sampai akhirnya matanya terpaku menatap sebuah map tebal yang tergeletak di atas meja kerjanya yang baru.

__ADS_1


Dari jauh Alvero berdiam di tempatnya berdiri sambil mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Deanda. Sesekali senyum bahagia tersungging di wajah tampan Alvero. Rasanya dia begitu senang melihat Deanda yang terlihat bersemangat mengamati meja kerja barunya.


Eh, apa isi dari map itu? Apa yang mulia sudah menyiapkan jadwal kerjaku sebagai asisten pribadinya? Ok, berarti hari ini aku harus segera mulai belajar menjadi asisten yang mumpuni untuk yang mulia. Aku tidak boleh membuat yang mulia kecewa dengan hasil kerjaku.


Deanda berkata dalam hati sambvil berjalan mendekat ke arah map tebal itu berada. Dengan perlahan, Deanda meraih map tebal yang tergeletak di atas meja itu.


Begitu Deanda membuka map tebal itu, mata Deanda langsung terbeliak kaget. Mata Deanda membulat sempurna melihat di lembar pertama begitu map itu dibuka adalah foto-foto tentang kegiatan-kegiatan yang pernah diikutinya selama dia kuliah dulu, termasuk foto saat penerimaan mahasiswa baru. Juga terlihat beberapa foto kegiatan Deanda saat belajar di perpustakaan dan juga foto saat dia melakukan praktikum.


(Praktikum adalah subsistem dari perkuliahan yang merupakan kegiatan terstruktur dan terjadwal yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman yang nyata dalam rangka meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang teori atau agar mahasiswa menguasai keterampilan tertentu yang berkaitan dengan mata kuliah yang bersangkutan. Praktikum bisa juga diartikan sebagai kegiatan belajar yang berbentuk pengamatan terhadap percobaan atau pengujian di laboratorium yang diikuti dengan analisis dan penyimpulan terhadap hasil pengamatan tersebut).


Foto-foto ini, bagaimana bisa ada di sini? Darimana....


Deanda berkata dalam hati sambil mengelus-elus foto-fotonya yang disusun rapi dan ditempelkan pada sebuah kertas tebal, dengan dihias di bagian pinggirnya, membuat tampilan foto-foto itu seolah-olah dibingkai. Di sekeliling bingkai itu tertulis banyak kata-kata motivasi yang sungguh membuat Deanda merasa terharu.


Salah satunya adalah kata-kata yang menyebutkan: wanita tercintaku yang hebat. Selain itu kata-kata: tetaplah berjuang, karena perjuanganmu tidak akan pernah sia-sia, membuat dada Deanda berdesir keras. Sebelum Deanda membuka lembar kertas berikutnya, Deanda menegakkan kembali tubuh dan kepalanya, dipandanginya sosok Alvero yang langsung tersenyum ke arahnya sambil mengangkat kedua bahunya.


Setelah itu Alvero menggerakkan jari telunjuk tangannya ke depan, kemudian memberikan kode kepada agar membuka lembaran berikutnya. Dengan gerakan ragu Deanda menggerakkan tangannya untuk membuka lembaran lain di belakang lembaran kertas berisi foto-fotonya.


Kali ini Deanda tidak bisa menahan airmata harunya begitu melihat apa yang ada di depannya. Ijazahnya yang selama ini begitu ingin ditebusnya tampak berada di sana, terbungkus rapi dalam plastik tebal.

__ADS_1


Hingga saat ini, baginya mendapatkan ijazah itu masih sekedar dalam angan-angannya saja. Tapi saat ini, ijazah itu sudah terpampang di hadapannya, bukan lagi sekedar mimpi.


Jantung Deanda berdetak dengan begitu keras memikirkan siapa yang sudah memberinya sesuatu yang begitu berharga baginya. Bagi orang lain sebagai hadiah mungkin akan memilih perhiasan atau barang-barang mewah lainnya. Tapi apa yang terpampang di depannya saat ini, merupakan hadiah yang begitu istimewa baginya. Apalagi yang memberikan hadiah itu adalah laki-laki yang begitu dipuja dan dicintainya.


__ADS_2