BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
AWAL PERTEMUAN YANG MENEGANGKAN


__ADS_3

"Aku tidak ingin bertindak gegabah. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan putriku jika sampai kita gagal menghabisi wanita itu. Selama wanita itu masih hidup dan memiliki kekuasaan, aku khawatir dia tetap akan merusak kebahagiaan putriku. Dan pasti bukan hanya putriku, tapi juga keluargamu. Karena itu secepatnya aku harus menyingkirkan wanita itu agar semua orang bisa kembali hidup dengan tenang dan bahagia. Dan negara Gracetia ini kembali aman dan sejahtera, lepas dari kejahatan." Laki-laki itu berkata dengan suara terdengar begitu berapi-api, menunjukkan amarah yang begitu besar di matanya.


"Aku sudah sekian lama mengamati pergerakan dari wanita kejam itu. Tindakan yang terlalu terburu-buru justru akan merugikan kita. Kita harus menyiapkan segala sesuatunya baru kita bisa menghancurkan wanita iblis itu. Kita tahu saat ini dia juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kerajaan dan istana." Laki-laki itu berkata dengan suara baritonnya.


"Sudah cukup aku kehilangan istriku dengan cara yang begitu mengerikan di depan mataku. Aku tidak ingin kehilangan lagi orang-orang yang aku sayangi dengan cara yang begitu menyedihkan seperti itu. Aku akan menyiapkan dengan baik para anggota pasukan khusus itu untuk bisa menghadapi serangan dari kelompok pemberontak milik wanita itu, yang sekarang dengan sengaja menyusupkan anggota kelompok mafia dari luar negeri ke dalam pasukannya." Alexis kembali menjelaskan kepada Alaya alasan kenapa dia tidak bisa secepatnya melakukan apa yang dikatakan oleh Alaya, walaupun hatinya sebenarnya merasa begitu ingin secepatnya melakukan hal itu.


# # # # # # #


"Yang Mulia...." Deanda berkata sambil memegang lengan Alvero dengan erat, membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah Deanda.


"Kenapa denganmu? Apa kamu sakit sweety?" Dengan cepat Alvero langsung mengulurkan tangannya, menempelkan punggung telapan tangannya ke kening Deanda yang terlihat gugup dan sedikit pucat.


"Ti... tidak... hanya saja, entah kenapa, hatiku tiba-tiba rasanya terasa tidak tenang, seperti ada sesuatu yang besar yang akan terjadi padaku." Deanda berkata sambil salah satu tangannya memegan dadanya yang tiba-tiba saja terasa berdebar-debar sejak dia memasuki pintu restoran itu.


"Hah... apa yang terjadi padamu hari ini sweety? Kenapa berpikiran seaneh itu?" Alvero berkata sambil menepuk-nepuk lembut tangan Deanda yang sedang memegang lengannya dengan erat, menunjukkan bahwa saat ini ada sesuatu yang sedang dirasakan Deanda yang membuatnya terlihat gelisah.

__ADS_1


"Tenanglah sweety, semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Aku ada di sini, jangan khawatir. Disamping aku, masih ada Ernest yang bahkan akan rela mengorbankan nyawanya untukmu." Alvero berkata dengan senyum menggoda ke arah Deanda yang akhirnya menyungingkan senyum di wajahnya, berusaha untuk mengusir kegalauan hatinya.


"Yang Mulia, silahkan...." Pimpinan yang sedang bertugas di restauran itu segera mengarahkan tangannya untuk mempersilahkan Alvero dan yang lain berjalan ke arah tempat dimana Alaya sudah memesan tempat untuk melakukan pertemuan dengan pamannya.


Begitu sampai di depan pintu ruang VIP restoran yang memiliki pemandangan laut kota Renhill, pimpinan dari restauran itu langsung mengetuk pintu ruangan Vip tersebut.


Alaya yang sedang melakukan pembicaraan serius dengan pamannya langsung menoleh dengan menyipitkan matanya begitu mendengar ada suara ketukan pintu dari ruang VIP yang disewanya.


"Apa kamu juga mengundang orang lain Alaya?" Dengan sikap waspada dan sigap, paman Alaya langsung duduk dengan posisi tegak.


"Buka saja pintunya. Di Gracetian ini, tidak ada seorangpun yang mengatahui dengan pasti tentang status aslimu. Selain itu, sudah belasan tahun sejak aku pergi meninggalkan negara ini. Pasti orang tidak akan lagi mengingat keberadaanku, bahkan wajahku pasti sudah dilupakan oleh orang-orang yang mungkin bisa mengenaliku. Tidak ada alasan bagi orang lain untuk mencari kita." Mendengar perkataan optimis dari pamannya, dengan langkah pasti Alaya berjalan mendekat ke arah pintu.


"Selamat siang nona, ada yang ingin berte..."


"Yang Mulia Alvero...." Dengan wajah terlihat sangat kaget, dengan nada suara sedikit tinggi, Alaya langsung memotong perkataan dari pimpinan restauran itu begitu melihat sosok Alvero yang berada tepat di depan pintu ruang VIP tempatnya berada.

__ADS_1


"Bolehkan aku masuk nona Alaya? Ada sesuatu yang penting, yang harus kita bicarakan." Tanpa menunggu jawaban dari Alaya, begitu selesai mengucapkan pertanyaannya, Alvero langsung masuk ke dalam ruangan itu, diikuti oleh Deanda dan Ernest.


Sedangkan paman Alaya sendiri, begitu mendengar suara Alaya yang terlihat begitu kaget, langsung bangkit dari duduknya dan membalikkan tubuhnya, menghadap langsung ke arah pintu masuk ruangan itu.


Begitu paman Alaya membalikkan tubuhnya ke arah pintu, Alvero langsung menatapnya dengan tatapan mata yang terlihat begitu tajam sekaligus menyelidik, mencoba menebak siapa gerangan pria separuh baya yang tampak masih begitu gagah dengan tubuh berototnya, di usianya yang tidak lagi muda itu.


Deanda yang ikut menyusul Alvero masuk ke dalam ruangan tampak tersentak kaget begitu melihat sosok paman Alaya. Mata Deanda membulat sempurna melihat sosok paman Alaya yang berdiri di hadapannya dengan jarak cukup dekat. Sedangkan paman Alaya sendiri tampak tidak kalah kagetnya melihat keberadaan Deanda yang tiba-tiba saja hadir di hadapannya.


"Aa..." Sebuah pekikan kecil disertai dengan tarikan nafas berat terdengar dari bibir Deanda sebelum tubuh permaisuri Gracetian itu tiba-tiba lemas dan jatuh pingsan.


Untung saja dengan sigap dan gerakan yang begitu cepat, lengan Alvero langsung meraih dan menopang tubuh istrinya yang pingsan, sebelum jatuh ke lantai.


 


 

__ADS_1


__ADS_2