BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SEDIKIT INGATAN TENTANG SEORANG SAHABAT


__ADS_3

"Aku tidak mau kamu menukarkan apapun yang kamu miliki dengan aku. Apalagi posisimu sebagai raja. Karena bagi kami, rakyat Gracetian... tidak ada seorangpun yang lebih pantas darimu untuk menjadi seorang raja Gracetian. Aku mengatakan ini bukan karena kamu suamiku. Tapi kamu memang yang terbaik diantara semua orang yang berhak menduduki posisi raja Gracetian. Gracetian memerlukan sosok sepertimu untuk menjadi raja mereka." Mendengar perkataan Deanda, Alvero hanya terkikik geli, membuat mata Deanda melotot karena melihat tawa Alvero menunjukkan bahwa Alvero tidak menganggap serius perkataannya barusan, padahal dia mengucapkannya dengan tulus.


"Aku serius my Al. Kamu merupakan sosok yang paling mampu dan layak menjadi raja Gracetian. Karena alasan itu juga, pada awalnya aku mau menikah denganmu. Karena saat itu aku hanya berpikir bagaimana agar aku bisa membantumu untuk menyelamatkan statusmu sebagai putra mahkota dan menjadi raja untuk kami semua, walaupun  sebenarnya dari dasar hatiku yang palaing dalam sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu." Deanda berkata sambil matanya menatap Alvero dalam-dalam dengan wajah seriusnya.


Melihat pengakuan cinta dari Deanda itu Alvero langsung tersenyum sambil tangannya mengelus lembut rambut Deanda.


"Apapun alasanmu menikah denganku saat itu. Terimakasih kamu sudah bersedia berjalan ke arahku dan masuk ke dalam pelukanku. Yang pasti, untuk saat ini, aku tidak ingin menjadi seorang raja jika permaisuriku bukanlah Deanda Federer. Dulu aku memang sempat berpikir menikahimu, agar bisa menjadi seorang raja untuk bisa melakukan balas dendamku. Tapi sekarang, aku ingin menjadi seorang raja agar aku dapat melindungi istriku dengan baik dan membahagiakannya." Perkataan Alvero sukses membuat wajah Deanda memerah dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Ayo kita pergi ke dapur sekarang sweety. Jangan biarkan cacing di perutmu berubah menjadi naga dan memberontak sambil mengeluarkan semburan api dari mulutnya." Alvero berkata sambil tertawa kecil dan merengkuh bahu Deanda, lalu mengajaknya berjalan keluar dari kamar berjalan menuju dapur istana.


"Selamat malam Yang Mulia, Permaisuri." Beberapa pengawal yang sedang melakukan patroli keliling untuk memastikan keamanan istana, langsung menyapa dan membungkukkan tubuh mereka untuk memberikan penghormatan kepada Alvero dan Deanda ketika mereka saling berpapasan.


"Selamat malam. Selamat bertugas." Dengan ramah Deanda menjawab sapaan para pengawal yang menyapa mereka, sedang Alvero hanya sedikit menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan kata-kata, sebagai tanda menerima salam dan penghormatan mereka dan terus berjalan ke arah dapur istana, yang letaknya cukup jauh dari kamar mereka.

__ADS_1


Tiupan udara malam yang cukup dingin, membuat Deanda yang mengenakan nightie (nightgown) dan melapisinya dengan jubah tidur di bagian luarnya tampak merapatkan jubah tidur itu dan menahannya dengan kedua tangannya yang terlipat di depan perutnya, agar bisa menutupi tubuhnya dengan lebih baik lagi.


Melihat tindakan Deanda itu, dengan cepat Alvero tersenyum sambil lengannya terulur menarik tubuh Deanda agar lebih mendekat ke arahnya dan memeluknya untuk dapat menyalurkan kehangatan tubuhnya pada Deanda.


"Ah... Se... selamat malam Yang Mulia, Permaisuri." Lebih dari 10 orang pelayan yang sedang duduk bergerombol dan mengobrol, dengan sikap gugup langsung bangkit dari duduk mereka, memberikan salam penghormatan kepada Alvero dan Deanda yang sebelumnya tidak pernah pergi ke dapur berduaan, apalagi tengah malam seperti ini.


Deanda masih terhitung sering mengunjungi dapur saat memasak makanan khusus Alvero atau dirinya sendiri sedang ingin memasak untuk menyalurkan hobi dan kemampuannya memasak. Tapi Alvero, boleh dikata hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur istana.


Saat dia ingin memasak untuk dirinya sendiri, biasanya Alvero melakukan itu jika dia sedang berada di rumah kayu di tengah danau atau di penthousenya. Dan biasanya itu dia lakukan jika memang benar-benar sedang ingin menikmati waktu di dapur, untuk mengingat masa-masa kuliahnya dulu di Italia. Dimana Alvero hidup lebih mandiri dan senang dengan kegiatannya memasak tanpa diganggu apalagi dijadikan bahan gosip seperti kalau dia di istana.


(Mansion adalah rumah tinggal yang besa, seperti kastil. Kata itu sendiri berasal dari bahasa Prancis Kuno dari kata Latin mansio "dwelling", kata benda abstrak yang berasal dari kata kerja manere "to dwell").


Dan persahabatan mereka tetap berlanjut hingga sekarang. Mengingat sosok sahabatnya Ornado, Alvero sedikit menyungingkan senyum di wajahnya. Dua minggu lalu adalah hari pernikahan sahabatnya itu dengan gadis cantik yang berasal dari Indonesia.

__ADS_1


Ornado sudah memberinya info bahwa dia tidak mengundang Alvero karena pihak istrinya ingin pernikahan yang sederhana dan tidak diumumkan ke publik untuk sementara waktu, entah apa alasannya. Padahal bagi Alvero, mana ada wanita yang tidak merasa bangga bisa menikah dengan Ornado Xanderson. Kalau itu wanita lain, pasti wanita itu akan meminta sebuah pernikahan mewah dan pengumuman resmi tentang pernikahan mereka. Itu yang ada di pikiran Alvero saat ini.


Walaupun Ornado tidak mengundang Alvero saat menikah di Indonesia, Ornado berjanji untuk mengundang Alvero saat dia merayakan pesta pernikahan mereka di Italia nantinya, meskipun itu belum bisa dipastikan kapan.


Bagaimana kira-kira kabarmu sekarang Ad? Semoga pernikahanmu berjalan lancar dan kamu bahagia dengan pernikahanmu bersama gadis yang sudah begitu lama kamu impikan. Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan undangan pesta pernikahan kalian di Italia. Aku pastikan aku akan datang bersama Deanda. Saat ada waktu luang besok, aku akan coba menghubungi Ad dan mengobrol dengannya. Semoga dia dalam kondisi baik-baik saja dan pernikahannya tidak bermasalah. Setelah berpisah selama 15 tahun, kemungkinan besar orang akan berubah, dan mungkin, itu termasuk gadis impian Ornado.


Alvero berkata dalam hati sambil kembali fokus pada apa yang akan dilakukannya di dapur.


"Apa yang bisa kami bantu Yang Mulia? Pemaisuri?" Salah seorang dari mereka yang merupakan kepala pelayan yang bertugas malam itu maju ke depan, mendekat ke arah Alvero dan Deanda untuk menawarkan bantuan.


"Tidak ada, kalian pergilah sementara waktu dari dapur istana. Aku dan permaisuri akan menyiapkan makanan kami sendiri." Kepala pelayan itu terlihat sedikit kaget mendengar perintah dari Alvero, tapi dia segera menganggukkan kepalanya dengan tubuh masih membungkuk, tanpa berani mempertanyakan apalagi menentang perintah dari Alvero.


Setelah itu, kepala pelayan itu segera memberi kode kepada para pelayan lain agar mengikuti langkahnya untuk segera keluar dari dapur istana. Membiarkan Alvero dan Deanda hanya berdua di sana.

__ADS_1


 


 


__ADS_2