BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
RENCANA PERTEMUAN DI HOTEL ENZO


__ADS_3

"Apa Yang Mulia jadi ikut denganku ke hotel untuk mempersiapkan pesta ulang tahunku besok lusa?" Enzo yang berdiri di dekat Alvero yang masih duduk di kursinya sengaja dengan keras mengucapkan pertanyaannya kepada Alvero agar yang lain bisa mendengar bahwa mereka akan pergi bersama untuk mengatur acara ulang tahun Enzo.


Dan Enzo sengaja melakukan itu agar Eliana yang baru saja berencana meninggalkan ruang makan istana itu bisa mendengarnya dengan jelas. Sejak Enzo melihat kehadiran Eliana di ruang makan istana, dengan jelas Enzo bisa melihat bahwa Eliana begitu mengamati semua gerak-gerik Alvero di meja makan, seolah sedang mencari dan berusaha menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk baginya kalau-kalau Alvero melakukan sesuatu yang mencurigakan untuk menyingkirkannya.


Enzo sadar Eliana bukanlah orang yang bodoh, dan dia pasti tahu Alvero yang begitu tidak menyukainya akan melakukan segala cara untuk segera menyingkirkannya dari istana, sehingga sejak Alvero menikah dan menjadi raja, Eliana begitu mengamati setiap apa yang dilakukan oleh Alvero, apalagi jika itu mencurigakan, Eliana pasti akan bertindak cepat.


"Tentu saja, beri aku dan permaisuri waktu 15 menit untuk bersiap pergi ke hotelmu." Alvero menjawab pertanyaan Enzo dengan cepat.


"Ok, semua urusanku sudah selesai di istana. Kalau begitu aku akan lebih dahulu berangkat ke sana." Enzo berkata sambil menepuk pelan bahu Alvero sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruang makan istana.


Dan begitu Enzo berpapasan dengan Dion, Enzo sengaja memperlambat langkah-langkahnya, berdiri berdampingan dengan Dion.


"Apa tidak ada wanita lain yang membuatmu tertarik? Kagum padanya? Boleh. Sayang padanya? Harus, karena dia adalah kakak iparmu. Ingin memilikinya? Itu pikiran gila! Bagaimanapun ingatlah bahwa dia adalah kakak iparmu yang tidak mungkin akan bisa kamu dapatkan. Kalau tidak mau jatuh lebih dalam lagi, hentikan tindakan konyolmu yang menginginkan sesuatu yang tidak mungkin kamu dapatkan." Mendengar perkataan Enzo, Dion menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah Enzo dengan tatapan sinis.


"Jangan terlalu ikut campur urusanku Kak Enzo, urus urusanmu sendiri. Kamu pangeran Adalvino yang memiliki posisi paling lemah dan tidak pernah mau ikut campur urusan kerajaan. Kenapa sekarang berusaha ikut campur urusanku?" Enzo langsung tersenyum sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya mendengar perkataan dari Dion.

__ADS_1


"Tapi ingat, aku tetaplah seorang Adalvino. Selama ini aku tidak mau ikut campur urusan kerajaan bukan berarti aku tidak bisa dan tidak mampu. Kalau ada yang mulai bertingkah di dalam istana, aku tidak akan ragu kembali ke dalam istana sebagai pangeran Adalvino dan membersihkan pembuat masalah itu. Aku tidak suka keributan dan aku tidak sehebat Alvero, tapi kalau aku memutuskan untuk ikut campur, bahkan aku bisa bertindak lebih kejam dari Alvero. Toh kita tidak memiliki hubungan darah langsung." Enzo berkata dengan nada mengancam walaupun dia mengucapkannya dengan senyum di wajahnya, membuat Dion merasa begitu diremehkan.


Dion baru saja berniat membalas perkataan Enzo ketika Deanda dan Alvero berjalan melewati dia dan Enzo. Kehadiran sosok Deanda tanpa sadar membuat baik pikiran maupun pandangan Dion teralihkan dari Enzo, beralih ke arah Deanda. Namun Dion langsung menarik nafas panjang begitu melihat tangan Alvero langsung menarik pinggang Deanda begitu melewati Dion, bahkan dengan mesra Alvero sengaja mendekatkan wajahnya ke telinga Deanda sambil tangannya yang sedang memeluk pinggang Deanda mengelus dengan mesra pinggul istrinya.


"Lebih baik kamu menjadi anak baik sebelum tindakanmu membangunkan singa yang sedang tertidur lelap." Enzo menepuk bahu Dion sebelum melangkah pergi meninggalkan Dion dengan gemeretak giginya, menahan marah, kecewa, sakit hati juga cemburu yang begitu hebat menerpa dirinya saat ini.


Dion menghembuskan dengan kasar nafasnya dari sela-sela giginya, mengingat bagaimana Deanda yang menunjukkan senyum manis saat Alvero berbisik ke telinganya. Entah apa yang sudah dibisikkan Alvero ke telinga Deanda, namun Dion bisa melihat Deanda terlihat begitu bahagia, membuat hati Dion semakin geram.


Kenapa bukan aku yang berada di sisimu? Semakin kalian menghalangiku, semakin besar keinginanku untuk mendapatkan dan merebut Deanda dari Alvero!


"Pangeran Dion, kemana kita akan pergi malam ini?" Begitu Dion sudah duduk di kursi penumpang dan asistennya siap di kursi pengemudi, dia langsung bertanya sambil menolehkan kepalanya ke belakang, menunggu perintah selanjutnya dari Dion.


"Kita pergi ke tempat sasana latihan beladiri milik istana, di sana pelatihku sudah menungguku." Mendengar perintah dari Dion, asisten Dion langsung mengangguk dan mulai menginjak gas mobil yang dikendarainya, meninggalkan halaman istana.


Tunggulah Deanda, aku akan menjadi lebih kuat, lebih hebat, lebih mencintaimu dari Alvero agar aku bisa meraih tanganmu.

__ADS_1


Dion berkata dalam hati sambil memejamkan matanya, membayangkan sosok cantik Deanda berjalan ke arahnya dengan mengulurkan tangan ke arahnya.


# # # # # # #


Begitu Alvero sampai di dalam kamarnya dan menutup pintunya, Alvero langsung berjalan ke arah salah satu ruangan di kamarnya, dimana di sana terletak kursi dan meja yang biasanya dibuat Alvero untuk menulis atau membaca buku. Deanda yang awalnya berjalan di samping Alvero hanya bisa berjalan mengikuti Alvero yang langsung berdiri di belakang kursi yang ada di balik meja itu.


Dengan gerakan pelan, Alvero menempelkan telapak tangannya pada dinding dan menggerak-gerakkan telapak tangannya di dinding yang ada di belakang kursi itu dan tanpa diduga oleh Deanda, tiba-tiba saja dinding itu masuk ke dalam dan bergeser, sehinga menunjukkan adanya sebuah brankas besi di balik dinding itu. Begitu brankas itu terlihat, Alvero langsung menempelkan telapak tangannya untuk identifikasi sidik jari tangannya sebagai akses untuk membuka brankas itu.


(Brankas adalah lemari atau kotak besi tahan api yang biasa dipergunakan untuk melindungi barang-barang berharga dari bahaya kebakaran dan pencurian/pembongkaran (seperti uang, surat-surat berharga ataupun perhiasan). Kata brankas berasal dari bahasa Belanda, kata branden yang artinya membakar dan kast artinya lemari, jadi lemari tahan kebakaran. Sedangkan dalam bahasa Indonesia Lemari besi, yaitu lemari yang terbuat dari besi. Berdasarkan ketahanannya brankas di bagi menjadi 3 jenis: 1. Steel Safes (brankas yang terbuat dari plat besi/baja saja). Brankas seperti ini tidak tahan api dan biasanya hanya di pergunakan untuk penyimpanan uang yang relatif sedikit untuk kebutuhan operasional usaha sekala kecil. 2. Fire Safes (brankas yang sudah di lengkapi dengan fiture tahan api). Brankas jenis ini terlihat dari ketebalan body brankas dan bila di ketuk terasa ada isi dari body brankas terdebut. 3. Fire and Burglar Safes (Brankas yang masuk klasifikasi Tahan Api dan Tahan Dobrak). Brankas jenis ini sangat di rekomendasikan untuk digunakan karena sudah memiliki keamanan yang relatif tinggi. Biasanya sudah di lengkapi fitur relocking (penguncian otomatis yang di design khusus). Dari fisik brankas terlihat berdinding tebal, bahan plat juga lebih tebal dari jenis Brankas Tahan Api).


Begitu brankas itu terbuka, Alvero mengambil sebuah amplop dan dengan cepat memasukkan amplop itu ke balik pakaiannya, lalu menutup kembali brankas itu.


"Sweety... Aku dan Ernest akan menemui Enzo dan Erich di hotel milik Enzo. Kami... akan membicarakan tentang dokumen yang sudah berhasil kami kumpulkan tentang papa Alexis. Aku tidak akan lama, kamu bisa beristirahat di sini. Aku akan segera kembali." Deanda menatap ke arah Alvero dalam-dalam sebelum menanggapi perkataan Alvero.


"Kenapa aku tidak boleh ikut? Apa ada sesuatu yang sedang berusaha kalian sembunyikan dariku kebenaran tentang papa Alexis?" Deanda bertanya dengan matanya menatap lurus ke arah Alvero yang tangannya langsung bergerak meraih tangan Deanda, menggenggam tangan itu dan mengelusnya pelan dengan menggunakan ibu jari tangannya.

__ADS_1


Alvero sedikit menahan nafasnya, rasanya berat sekali mengatakan kepada Deanda bahwa Erich sudah berhasil mengumpulkan beberapa informasi tentang Alexis Federer, dan salah satu informasi menyatakan bahwa alasan dari pencabutan gelar knight Alexis disebabkan karena Alexis sudah melecehkan Eliana.


__ADS_2