
(Untuk para pembaca setia, akhirnya hari ini bisa up 3 eps. Maaf ya, karena kesibukan lama tidak membuat up 3 episode untuk memuaskan rasa penasaran para pembaca terhadap kisah Alvero dan Deanda. Semoga puas dengan up hari ini. Terimakasih untuk support setianya berupa vote, like, komen dan rate bintang 5. I love you all).
"A... apa... maksudmu nak? Sebuah liontin milik mamamu Larena? Bagaimana mungkin seseorang mengenakan kalung dengan liontin itu? Bisakah... kamu menunjukkan kepadaku liontin seperti apa yang... sudah kamu maksudkan?" Dengan suara terlihat begitu gugup Vincent mempertanyakan liontin yang dimaksud oleh Alvero.
Mendengar ucapan Alvero tentang kalung dan liontin milik Larena, ingatan Vincent kembali kepada di hari dimana dia bertemu dengan Larena untuk terakhir kalinya saat Larena mengatakan keinginannya untuk pergi meninggalkan istana, meninggalkan dirinya dan Alvero.
Masih begitu segar dalam ingatan Vincent bagaimana istrinya yang cantik saat itu berdiri dengan wajah terlihat begitu tenang saat mengucapkan keinginannya untuk pergi dan menyerahkan posisinya sebagai permaisuri kepada Eliana.
Tanpa airmata, tanpa adanya suara bergetar saat Larena mengucapkan keinginannya saat itu, membuat hati Vincent semakin hancur dan rasa bersalahnya semakin besar menghantam dadanya.
Jika beberapa orang saat itu mencela tindakan Larena yang dianggap sudah bersikap keras kepala dan begitu mudahnya memutuskan untuk menyerah, bagi Vincent itu adalah hal yang bisa dia mengerti karena Larena bukanlah wanita yang akan bisa dengan mudah melupakan sebuah pengkhianatan dan bukan wanita yang akan dengan rela berbagi suami dengan wanita lain.
Larena adalah wanita yang lembut dan anggun, tapi memiliki pendirian yang keras. Itu juga yang membuat Vincent jatuh hati padanya saat pertama kali bertemu Larena dalam acara perjamuan malam pernghargaan untuk para warga yang dianggap sudah barjasa, memberikan kontribusi besar untuk mengharumkan nama Gracetian dengan kemampuannya membuat barang-barang kerajinan homemade, yang selama ini sudah dijadikan cinderemata khas Gacetian bagi para wisatawan terutama wisatawan dari luar negara Gracetian.
Vincent tahu dengan sifat Larena, dia akan lebih memilih pergi daripada melihat ada wanita lain yang berada di dekat Vincent dan mengandung anaknya.
__ADS_1
Bagi Vincent, kesalahan fatalnya saat itu memang akan sulit dan tidak pantas mendapatkan maaf dari Larena dengan mudah. Tapi saat itu Vincent yang sebeanrnya tidak pernah tertarik sedikitpun dengan Eliana, tetap bersikeras untuk tidak melepaskan Larena, sehingga tidak pernah ada kata cerai dari bibir Vincent.
Untuk Vincent, satu-satunya wanita yang dia cintai hanyalah Larena Hilmar, terlepas dari kesalahan besar yang dia perbuat bersama Eliana karena pengaruh alkohol waktu itu.
Dengan langkah yang terlihat anggun dan tenang, Larena meninggalkan Vincent yang masih diam terpaku, diikuti oleh Alvero yang menangis sambil menarik-narik pergelangan tangan Larena, memohon agar Larena tidak meninggalkannya sendiri di istana.
Untuk beberapa saat Larena yang berusaha untuk membujuk Alvero, dan menyerahkan Alvero kepada nyonya Rose yang langsung menggendongnya, agar Larena bisa melanjutkan niatnya untuk pergi meninggalkan istana.
Setelah Larena pergi, Vincent baru menyadari saat melihat ke arah meja rias bahwa Larena meletakkan kalung pernikahan mereka di atas meja rias itu. Dan begitu Vincent membuka laci dimana dia tahu itu adalah tempat dimana Larena menyimpan kalung beserta liontin yang diberikannya saat melamar Larena, Vincent tahu bahwa Larena sudah menggantikan kalung penikahan mereka dengan kalung dengan liotin berbentuk oval dengan huruf A di tengahnya itu.
Vincent masih ingat dengan jelas bagaimana Larena mengatakan iya kepadanya sambil memeluk tubuhnya dengan erat, dan airmata bahagia dari Larena yang membasahi bahu Vincent saat itu.
Sebelumnya Vincent berharap kepergian dan kemarahan Larena hanya sebentar, dan beberapa hari ke depan dia bisa membawa Larena kembali ke istana. Tapi kalung pernikahan yang tergeletak di atas meja itu menunjukkan bahwa hati Larena sudah bulat untuk meninggalkannya dan Alvero, dan tidak ada keinginan untuk kembali ke istana.
Melihat kalung pernikahan yang tergeletak itu, tanpa bisa mengendalikan tubuhnya, Vincent terjatuh di lantai dengan posisi berlutut di lantai. Saat itu dengan erat Vincent menggenggam erat kalung hadiah pernikahannya untuk Larena itu sambil berteriak dan menangis dengan sekeras-kerasnya.
__ADS_1
"Pa...." Suara panggilan dari Alvero membuat Vincent tersadar dari lamunannya tentang masa lalunya saat Larena pergi meninggalkannya hari itu.
"Apa Papa baik-baik saja?" Alvero bertanya dengan suara terlihat cemas melihat bagaimana Vincent yang wajahnya terlihat begitu pucat dan tampak menyedihkan.
"Ah... aku baik-baik saja nak. Bisakah kamu tunjukkan seperti apa bentuk liontin yang kamu maksudkan tadi?" Setelah bisa menguasai dirinya kembali, Vincent berkata dengan suara yang dia usahakan agar setenang mungkin, agar dia tidak membuat Alvero dan Deanda khawatir.
Mendengar pertanyaan Vincent, dan Alvero melihat bagaimana wajah Vincent yang sudah lebih baik dari sebelumnya, Alvero mengambil kertas bergambar liontin hasil karya Jose yang sudah dibukanya, dan menunjukkannya kepada Vincent.
Mata Vincent langsung terbeliak sempurna begitu Vincent melihat ke arah gambar itu. Tanpa bisa mengendalikan dirinya, airmata Vincent langsung mengalir dengan tangannya terulur ke arah layar handphonenya, mengelus gambar liontin itu, seolah benda itu sedang benar-benar nyata secara fisik di depannya.
"Larena... Larena cintaku... Larena... maafkan aku...." Vincent berkata dengan suara yang terdengar bergetar dengan tangisnya yang meledak tanpa bisa dia tahan lagi.
Begitu kerasnya tangis Vincent, sehingga Alvero dan Deanda bisa melihat bagaimana tubuh Vincent yang duduk dengan posisi membungkuk diatas tempat tidur terlihat berguncang hebat. Melihat itu Alvero hanya bisa menarik nafas panjang sambil meletakkan kertas bergambar liontin itu ke atas meja di depannya.
__ADS_1