BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KENCAN ALVERO DAN ALAYA (1)


__ADS_3

"Kamu terlalu takut. Orang sesibuk Ornado. Apalagi sudah lama sekali sejak Alvero meninggalkan Italia. Jarak kadang membuat hubungan menjadi hambar. Kita juga tidak mendengar bahwa bisnis keluarga Adalvino berhubungan dengan bisnis Grup Xanderson. Mungkin kemarin hanya suatu kebetulan Ornado mampir ke Gracetian. Toh hanya sebentar saja. Kamu tahu belasan tahun kita sudah menyiapkan pasukan kita dengan matang di tempat tersembunyi. Kali ini kita sudah siap sepenuhnya untuk merebut Gracetian dari tangan keluarga Adalvino, tidak seperti waktu itu." Eliana langsung melotot tajam dan memandang ke arah Rolland yang dengan acuh tak acuh melempar puntung rokok dari tangannya ke arah lantai apartemen, dan menginjak-injak puntung rokok itu dengan sepatu yang dikenakan oleh kaki kanannya.


"Kamu selalu memandang remeh musuh-musuh kita! Karena itu belasan tahun lalu kita gagal menerobos istana! Saat ini kita sedang berkejaran dengan waktu. Jika Ornado sudah mulai ikut campur dalam urusan kerajaan dan membantu Alvero, aku khawatir kita akan menjadi bulan-bulanan dua laki-laki itu." Eliana berkata sambil menggigit bibir bawahnya.


Mau tidak mau Eliana harus mengakui bahwa setelah peristiwa ancaman dari kelompok mafia yang mengirimnya kembali para pembunuh yang dia sewa dalam keadaan menyedihkan dan sekaligus memalukan, Eliana tahu bahwa Ornado adalah sosok yang tidak bisa dipandang remeh olehnya.


"Jangan terlalu takut. Kita juga sudah berusaha keras menyiapkan segala sesuatunya selama belasan tahun ini. Dan saat ini ada pengantara antara kita dengan para mafia di sana. Dia adalah mata-mata yang handal. Kita bisa pastikan jika ada info pergerakan dari Ornado, kita akan lebih tahu lebih dahulu dibandingkan dengan siapapun, termasuk Alvero atau bahkan Ornado sendiri, yang sebenarnya hanya seorang pengusaha biasa. Kamu saja yang terlalu membesar-besarkan kehebatan Ornado." Rolland kembali berkata dengan sikap tetap terlihat begitu santai, dan terkesan tidak perduli.


"Lagi-lagi kamu meremehkan musuhmu! Kamu tahu dengan uang dan kekuasaannya Ornado bisa bertindak seperti seorang raja! Bahkan mungkin lebih dari seorang raja!" Eliana mulai berkata dengan nada tinggi.


"Aku tidak mengerti kenapa kamu begitu takut padanya. Kalau aku jadi kamu, waktu itu aku akan tetap mengirimkan para pembunuh untuk mengirim Alvero ke kubur bersama mamanya. Toh itu hanya sebuah ancaman, memangnya Ornado bisa melakukan apa terhadap kamu sebagai permaisuri Gracetian? Jika memang dia berani, dia harus memikirkan resiko rusaknya hubungan diplomatik antara Italia dan Gracetian. Bahkan dia bukanlah seorang presiden. Kenapa harus merasa begitu tidak percaya diri menghadapinya?" Dengan tetap dalam nada suara terdengar meremehkan, Rolland berkata sambil menarik tubuh Eliana agar mendekat ke arahnya dan duduk di atas pangkuannya.

__ADS_1


Eliana hanya bisa terdiam sambil menahan nafasnya mendengar bagaimana Rolland bersikap begitu santai, sedang perasaannya selalu merasa tidak tenang jika teringat akan sosok Ornado. Walaupun Eliana tidak mengenal dengan baik siapa sebenarnya Ornado, dia selalu merasa bahwa laki-laki berperawakan sempurna itu bukanlah sekedar pengusaha biasa seperti yang dengan mudah digambarkan oleh Rolland barusan.


Ada sesuatu dalam diri Ornado yang selalu berhasil membuat Eliana merasa tertekan dan terintimidasai. Bahkan sejak bertemu Ornado di istana, Eliana merasa dia memiliki firasat buruk, bahwa kali ini dia tetap tidak akan berhasil menggulingkan keluarga Adalvino dan menyingkirkannya dari istana Gracetian karena adanya dukungan dari Ornado.


Tanpa perduli dengan wajah cemas yang ditunjukkan oleh Eliana, tangan Rolland mulai bergerak meraba kulit paha Eliana, disusul dengan bibirnya yang terlihat begitu rakus langsung merangkum bibir Eliana, mengulum dan menyesapnya dalam-dalam.... Dan Rolland langsung memulai aksinya, seperti yang biasa mereka lakukan di apartemen pribadi Eliana yang merupakan tempat pertemuan pribadi mereka berdua, saat ingin saling mencumbu dan melepaskan hasrat mereka berdua, tanpa diketahui oleh orang lain, termasuk Desya dan Dion.


# # # # # # #


(Ikan fugu atau ikan buntal dikenal sebagai anggota keluarga ikan yang mematikan, satu tetes racun dari ikan buntal (puffer fish) dapat menyebabkan kematian dini. Karena itu, penyajiannya harus dilakukan oleh koki yang bersertifikasi. Saat ini, ada kurang dari 50 restoran di seluruh dunia yang berwenang untuk menyajikan ikan buntal. Harganya bervariasi dari US$ 12 (sekitar Rp 169.000) hingga US$ 200 (sekitar Rp 2,8 juta) per piring saji, di mana terdiri dari serangkaian irisan tipis yang kaya rasa. Di Jepang, koki yang diperbolehkan untuk mengolah ikan fugu harus memiliki sertifikat khusus, yang biasanya perlu waktu 4 tahun untuk mendapatkan sertifikat itu. Ada beberapa tahapan tes atau ujian yang harus mereka lalui untuk mendapatkan sertifikat khusus untuk dapat mengolah ikan fugu itu).


Alvero yang melihat bagaimana sukanya dan wajah bahagia Alaya dengan menu makanan yang sengaja dia pilihkan langsung tersenyum, merasa puas bisa menyenangkan adiknya.

__ADS_1


Dengan gerakan pelan, Alvero mengulurkan tangannya, mengelus lembut rambut di bagian samping kepala Alaya, lalu menepuk-nepuk pipi Alaya sebelum akhirnya Alvero menarik tangannya kembali, menjauh dari wajah Alaya.


Mendapatkan perlakuan sayang dari kakaknya, Alaya langsung tertawa senang sambil menikmati suguhan makan malam yang sudah diaturkan oleh Alvero di sebuah restoran mewah di pinggiran kota Tavisha.


Sebuah restoran yang bukan hanya menyuguhkan berbagai masakan mewah dan unik, namun juga memiliki view yang begitu indah. Baik interior ataupun pengaturan taman, ataupun tempat parkir di restoran itu, membuat siapapun akan merasa nyaman sekaligus terkesan.


Selain makanan enak, juga pemandangan yang memanjakan mata, keberadaan Alvero sebagai kakaknya, sungguh membuat Alaya merasa begitu bahagia. Karena suasana malam ini membuat Alaya semakin berharap dan yakin, tidak lama lagi dia akan mendapatkan kembali keluarganya yang utuh.


Apalagi kemarin dia sudah menjemput Larena yang akhirnya benar-benar mau menginjakkan kakinya kembali ke Gracetian. Begitu Larena datang ke bandara international milik kota Tavisha, Alaya langsung mengajak mamanya untuk beristirahat ke apartemennya.


Dan dengan sengaja, tanpa disadari oleh Larena, rute yang diambil oleh Alaya dalam perjalanan dari bandara ke arah apartemennya sengaja dia pilihkan rute yang melewati istana kerajaan Gracetian.

__ADS_1


Walaupun saat Larena melewati istana kerajaan tidak menolehkan wajahnya ke arah sana untuk melihat tempat dimana semua kenangan tentang Vincent, Alvero, bahkan kehadiran Alaya dalam rahimnya waktu itu tercipta, tapi Alaya bisa melihat bahwa dari sudut matanya, Larena terlihat jelas sedang melirik ke istana megah itu, meskipun Larena tidak akan bisa melihatnya dengan jelas karena jarak antara jalan raya dan bangunan istana terlalu jauh.


__ADS_2