
“Kenapa gadis secantik kamu berada sendirian? Di dalam bar yang begitu ramai orang ini?” Emilio bertanya sambil memutar-mutarkan jari telunjuknya ke bibir gelas berisi wine miliknya dengan sikap terlihat jelas bahwa saat ini dia sedang bermaksud untuk mendekati dan menggoda Monica.
“Sebenarnya aku ada janji dengan salah seorang teman baikku, hanya saja dia bilang bahwa dia akan terlambat karena ada sesuatu yang penting yang harus dikerjakannya. Karena itu, sampai saat ini aku harus sendirian karena menunggunya. Bisa jadi dia tidak jadi datang, tapi sayang jika aku harus cepat-celat pulang saat sudah terlanjur datang di tempat ini.” Emilio langsung tersenyum senang mendengar penjelasan dari Monica, justru dia mengharapkan agar teman Monica tidak perlu datang malam ini agar dia bisa menikmati malam panjang berdua bersama Monica, yang dari pandangan Emilio terlihat sebagai sosok gadis cantik dan seksi, yang sayang jika harus lepas dari tangannya mala mini.
Melihat sosok Monica, pikiran Emilio sudah kesana-kemari membayangkan hal yang tidak-tidak, yang mungkin bisa dia lakukan bersama Monica malam ini.
“Jika kamu memiliki waktu luang, kenapa tidak kita rencanakan untuk melakukan kegiatan berdua yang akan saling menguntungkan diantara kita?” Mendengar tawaran dari Emilio yang Monica tahu ke arah mana pembicaraan Emilio kepadanya, Monica langsung mencebikkan bibirnya.
“Tuan Emilio, aku bukan gadis bodoh. Walaupun aku jarang datang ke kota ini, dan baru sekali ini aku mengunjungi bar ini. Aku tahu Tuan adalah kekasih dari countess Melva, putri tunggal dari earl Robin. Mana mungkin aku berani macam-macam dengan Tuan, apalagi sampai menghabiskan waktu berdua di malam yang dingin ini. Yang tidak akan cukup untuk saling menghangatkan tubuh kita, jika hanya dengan bergandengan tangan.” Monica berkata sambil mengedipkan sebelah matanya dan dengan sengaja menjulurkan lidahnya untuk membasahi bibirnya yang memakai lipstick merah terang.
Tindakan Monica sukses membuat Emilio menelan ludahnya dengan susah payah.
“Memiliki kekasih bukan berarti aku harus terikat dengannya dalam segala hal. Dia belum lagi menjadi istriku, jadi tidak berhak mengatur hidupku.” Emilio berkata dengan nada santai, membuat Monica menaikkan salah satu ujung bibirnya mendengar kata-kata Emilio.
“Ah, dasar laki-laki tidak tahu diuntung. Tega-teganya meninggalkan seorang wanita cantik sendirian di sini.” Emilio melanjutkan kata-katanya lagi, kali ini sengaja dia mengatakan sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan tentang Melva, sosok gadis cantik yang untuk saat ini tidak ingin dibicarakannya, karena sebelum menikah, tidak pernah sekalipun Melva mau mengabulkan keinginannya untuk tidur bersamanya layaknya suami istri.
__ADS_1
Dan penolakan Melva seringkali membuat Emilio frustasi, sekaligus membuat Emilio begitu marah dan jengkel. Di satu sisi dia ingin meninggalkan Melva karena gadis itu tidak pernah mau diajak tidur bersama sebelum menikah. Namun, di sisi lain, Emilio tidak ingin kehilangan sumber keuangan yang menopang kebutuhan hidupnya selama ini. Membuatnya dapat menikmati hidup mewah tanpa harus bekerja keras.
Lagipula, Emilio ingin segera menikahi Melva agar dia bisa mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Sayangnya, hingga saat ini hubungan mereka masih terganjal oleh restu dari earl Robin, ayah Melva yang selalu menentang hubungan mereka sejak awal.
Mendengar kata-kata Emilio, Monica langsung tertawa kecil, membuat mata Emilio semakin terpana melihat betapa cantiknya Monica saat tertawa menunjukkan barisan gigi putihnya yang berjajar rapi. Apalagi dengan sikap manja Monica yang sepertinya memberinya angin segar, membuat Emilio semakin berhasrat untuk merayunya.
Sedari awal Monica tidak terlihat menunjukkan sikap penolakan terhadap kehadiran Emilio didekatnya, semakin membuat Emilio sulit untuk tidak terpancing dalam pikiran mesumnya yang semakin menjadi karena posisi duduk dari Monica yang sepertinya sengaja memperlihatkan paha putih mulusnya kepada Emilio.
“Ah, yang benar saja Tuan Emilio. Kalau temanku tidak terlambat, justru kita tidak akan bisa bertemu dan mengobrol seperti ini. Bahkan mungkin tidak bisa melakukan sesuatu yang lain.” Emilio langsung tertawa dengan bibir menyeringai mendengar perkataan Monica barusan.
“Hah! Sesuatu yang lain? Apakah yang sedang kamu pikirkan sama dengan yang sedang aku pikirkan?” Monica menaikkan salah satu alisnya sambil tersenyum genit mendengar pertanyaan dari Emilio.
Ditambah dengan kondisi Emilio yang sebelumnya sudah mengkonsumsi minuman beralkohol, membuat Emilio semakin sulit untuk menghindar dari nafsunya.
Emilio turun dari kursi bar yang tinggi dan mendekat ke arah Monica, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Monica.
__ADS_1
“Jangankan hanya segelas koktail. Aku bersedia memberikan jauh lebih banyak dari kantongku untuk mala mini jika kamu mau.” Emilio berbisik dengan nafas mulai terdengar tidak beraturan karena hasratnya yang sudah begitu begejolak.
“Lalu, tunggu apalagi?” Emilio berkata sambil memberikan lembaran uang kertas di hadapan bartender yang masih berdiri di depan mereka berdua.
Emilio memberikan lembaran uang kertas itu tanpa menatap ke arah wajah bartender itu karena mata Emilio sedang fokus menatap Monica, dengan pandangan mulai menjelajah tubuh Monica, mencoba membayangkan keindahan apa yang ada di balik balutan pakaian seksi itu.
Sedang bartender itu sendiri tampak tidak terlalu perduli dengan apa yang terjadi antara Emilio dan gadis yang ada di depannya. Yang begitu membuat bartender itu perduli adalah lembaran uang yang disodorkan oleh Emilio jauh lebih banyak dari yang seharusnya dibayarkan untuk segelas koktail negroni milik Monica.
Dan itu artinya sisa dari pembayaran koktail itu akan menjadi miliknya sebagai tip dari Emilio sebagai bartender yang sudah minuman melayani mereka malam ini. Menyadari itu membuat senyum senang tersungging di bibir bartender itu.
“Tapi Tuan, bolehkan untuk pertemuan pertama kita kali ini, aku yang memilih tempatnya?” Dengan suara menggoda, Monica yang sudah berdiri di samping Emilio berbisik dengan suara bercampur desahan, membuat tanpa berpikir panjang Emilio langsung menganggukkan kepalanya.
“Aku ingin kita menikmati malam panjang ini di ruang VIP bar ini. Aku tidak mau ada orang yang mengenaliku saat aku masuk ke hotel bersama pria asing, apalagi Tuan dikenal sebagai kekasih countess Melva. Aku tidak ingin mempertaruhkan nyawaku karena berani bermain-main dengan calon suami seorang countess.” Monica kembali membisikkan permintaannya dengan suara terdengar manja dan menggoda.
Mendengar permintaan dari Monica, walaupun terdengar tidak seperti biasanya, Emilio kembali menganggukkan kepalanya. Memang ruang VIP dari bar ini merupakan sebuah tempat yang sangat nyaman, dilengkapi sdengan sofa berbentuk huruf U yang selain lebar juga empuk. Dengan fasilitas kamar mandi dalam yang cukup mewah. Namun, jika dibandingkan dengan fasilitas hotel, tentu saja lebih terasa lebih nyaman jika itu hotel.
__ADS_1