BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MAKAN PAGI ORNADO DI ISTANA


__ADS_3

Untuk beberapa putri, terutama yang belum memiliki pasangan, kehadiran Ornado dengan rambutnya yang hitam legam dan mata birunya, juga tubuhnya yang terlihat begitu atletis, disempurnakan dengan wajah tampannya yang merupakan blasteran Italia-Indonesia, cukup menyita perhatian para putri yang datang pagi itu di ruang makan istana.


Satu persatu dari mereka mencoba berebut untuk menunjukkan pesona mereka masing-masing dengan cara mereka sendiri-sendiri.


Mulai dari merapikan rambut, juga pakaian mereka, membasahi bibir mereka dengan lidahnya, menyempurnakan posisi duduk mereka dan berusaha memberikan senyuman paling ramah dan manis untuk Ornado.


Sayangnya, semua yang dilakukan oleh para putri Gracetian itu tidak membuat Ornado sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari layar handphone yang sedang dipegangnya, dengan wallpaper yang menampilkan foto-foto cantik istrinya.


Walaupun sebenarnya Ornado sendiri sudah selesai melakukan panggilan telepon dengan istrinya, sambil berjalan ke arah meja makan. Tapi laki-laki tampan itu masih terlihat asyik menikmati gambar-gambar istrinya di layar handphonenya.


Bahkan tanpa perduli, Ornado tampak memperlambat langkah-langkahnya begitu James mengirimnya sebuah foto yang menunjukkan Cladia sedang memimpin meeting di kantor perusahaan Bumi Asia miliknya.


Selalu saja tampil cantik dan manis, membuatku segera ingin pulang untuk bertemu dengannya. Mi manchi amore mio (Aku merindukanmu cintaku).


Ornado yang berjalan dengan salah satu tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya, berkata dalam hati dengan senyum di wajahnya dan tatapan matanya tetap fokus ke arah foto istrinya.

__ADS_1


Kalau saja Ornado tidak ingat dia sedang berada di depan orang banyak, rasanya ingin sekali bibirnya bergerak untuk bisa mencium foto istrinya yang di terlihat di layar handphone miliknya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan jika dia  selesai mengamati foto Cladia di layar handphonenya.


Gerakan Ornado yang membuat jarak antara dia dan Alvero terlihat menjauh, membuat Tira langsung tersenyum sambil mempercepat langkahnya untuk dapat mendekat ke arah kakak sepupunya itu.


"Kak Alvero, kapan kak Ornado datang? Kenapa tidak memberitahuku?" Tira yang berjalan menyusul langkah Alvero, berkata pelan ke arah Alvero yang langsung tersenyum, begitu juga Deanda yang yang menyungingkan senyumnya begitu mendengar bagaimana Tira terlihat bersemangat melihat kehadiran Ornado pagi ini.


"Sejak semalam, tapi setelah makan pagi bersama kita, dia akan segera kembali ke Indonesia. Kenapa? Apa kamu menyesal tidak bisa bertemu lebih awal dengannya? Jangan macam-macam, dia sudah menikah sekarang. Lagipula tidak akan ada gadis selain istrinya yang bisa membuatnya menolehkan matanya, apalagi mengharapkan dia memberikan tatapan ramah kepada gadis lain." Perkataan Alvero membuat Tira memberengut, sedang Deanda hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah para putri itu, termasuk Tira.


"Kak Alvero ada-ada saja. Aku cuma pengagum kak Ornado, kakak tahu sudah ada orang lain yang kusuka. Aku juga tahu kalau kak Ornado sudah menikah walaupun berita pernikahannya belum dipublikasikan." Alvero langsung tersenyum mendengar perkataan Tira.


"Ad." begitu Alvero sampai di dekat kursi miliknya di meja makan, dia langsung menoleh dan memanggil Ornado untuk mendekat ke arahnya.


Ornado yang awalnya masih terlihat serius mengamati layar handphonenya langsung mengangkat kepalanya dan berjalan mendekat ke arah Alvero yang baru saja memanggilnya.


"Ah, ya Yang Mulia. Terimakasih." Ornado menjawab panggilan dari Alvero sambil mengambil posisi duduk ke kursi di dekat Alvero, yang sebelumnya sudah mengarahkan tangannya ke kursi itu ketika Ornado mendekat ke arahnya, memberi tanda agar Ornado duduk di tempat yang sudah disiapkannya untuknya, posisi paling dekat dengan Alvero, di sebelah kiri, sedang Deanda duduk tepat di sebelah kanan Alvero.

__ADS_1


"Pagi ini tuan Ornado Xanderson akan ikut makan pagi bersama kita. Aku harap kita semua bisa menyambut kedatangannya dengan hangat. Jarang sekali orang sepenting dia bisa menghabiskan waktu bersama. Kita beruntung tuan Ornado mau mampir kesini dalam perjalanannya ke Indonesia. Dan semoga tuan Ornado menikmati suguhan menu dari istana ini." Begitu mendengar kata-kata Alvero yang menyambut dan memperkenalkannya kepada semua yang ada di ruang makan itu, mata Ornado langsung berkeliling menatap ke arah semua yang hadir sambil sebuah senyum tersungging di bibirnya dengan maksud menyapa mereka semua yang hadir di tempat itu, membuat para putri yang hadir dibuat semakin heboh karena melihat bagaimana sosok Ornado yang tampak semakin tampan dan menawan dengan senyum di bibirnya.


"Sudah, waktunya memulai makan pagi kita dengan tenang." Alvero langsung meredakan keributan di meja makan sambil tersenyum memandang ke arah Ornado yang tampak sedikit menahan nafasnya melihat reaksi para putri di tempat itu karena kehadirannya.


Melihat reaksi dari Ornado yang terlihat tidak nyaman, membuat Alvero tersenyum dan langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Ornado, agar bisa mengucapkan kata-katanya tanpa didengar oleh yang lain.


"Terimalah nasibmu sebagai laki-laki yang dilahirkan sempurna dengan wajah begitu tampan dan kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya." Alvero berbisik pelan sambil menepuk punggung Ornado yang hanya bisa meringis mendengar candaan Alvero kepadanya.


"Lain kali aku akan menolak dengan keras undangan makan pagimu di istana kalau harus mengalami hal seperti ini lagi. Kecuali aku membawa istriku ke sini, supaya aku bisa menunjukkan pada semua orang di sini bagaimana cantik dan mempesonanya istriku. Supaya mereka merasa minder." Ornado membalas kata-kata Alvero yang langsung tersenyum geli.


Pada akhirnya, Alvero langsung memulai acara makan pagi mereka agar para wanita yang ada di meja makan itu bisa berhenti sebentar dari kegiatan mereka membicarakan dan mengagumi sosok Ornado.


Apa maunya Ornado ada di sini? Bukan hanya menempatkan laki-laki itu di istana selatan, tapi sengaja mengundang laki-laki itu di meja makan istana. Dan sekarang dengan sengaja memberikan posisi duduk di tempat yang begitu terhormat. Apa yang ingin ditunjukkan Alvero dengan semua ini? Apa dia ingin mengumumkan kepada semua orang bahwa dia memiliki hubungan begitu dekat dengan pengusaha berpengaruh di dunia itu? Dan ingin mengancamku secara halus bahwa Ornado akan menjadi orang yang siap mendukungnya? Hah! Benar-benar akan menjadi masalah jika benar itu terjadi. Aku harus segera memikirkan suatu jalan agar aku tahu apa yang sedang direncanakan oleh mereka berdua.


Eliana berkata dalam hati sambil terus menebak-nebak maksud dari kehadiran Ornado yang tiba-tiba saja muncul di dalam istana kerajaan Gracetian. Dan bukan hanya sekedar datang, tapi menginap di istana selatan yang belum pernah sekalipun orang lain diijinkan oleh Alvero untuk menginap di sana sejak dia masih menjadi putra mahkota Gracetian.

__ADS_1


Tangan Eliana tanpa sadar mengepal dengan erat, menahan gejolak dalam hatinya, bukan hanya sekedar emosi, tapi dia harus mengakui kehadiran Ornado menimbulkan rasa takut di hatinya.


__ADS_2