
“Apa info dari seorang baron Amos Edarian bisa dipercaya?” Mendengar pertanyaan dari Alvero dengan pandangan mata terlihat jelas tidak percaya, membuat Alexis sedikit menahan nafasnya.
“Memang kita harus membuktikannya sendiri Yang Mulia. Tidak bisa serta merta kita percaya dengan apa yang dikatakan oleh baron Amos kepada kita. Bisa jadi itu adalah sebuah jebakan untuk kita.” Alexis menjawab pertanyaan Alvero sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apa yang sudah dikatakan oleh baron Amos?” Alvero kembali bertanya sambil melirik ke arah Larena yang duduk di samping Vincent.
Rasanya bahagia sekali melihat kedua orang tuanya duduk berdampingan seperti itu. Bagi Alvero pemandangan itu seperti mimpi yang begitu indah baginya. Tidak pernah dia membayangkan hal itu akan terjadi setelah sekian lama Larena pergi jauh dari Gracetian dengan segala penderitaan, trauma, luka baik secara fisik maupun mental yang dibawanya pergi bersamanya saat itu.
Alvero kembali teringat bagaimana dia langsung menghentikan tindakannya yang memberi perintah kepada Ernest untuk memblokir semua tempat yang akan digunakan oleh Eliana untuk melakukan jumpa pers.
Awalnya, Alvero tidak ingin jumpa pers itu dilakukan karena takut jika peristiwa itu akan membuat Larena semakin menghindari untuk bertemu dengannya dan Vincent.
Akan tetapi panggilan telepon dari Deanda kepada Alvero yang mengatakan bahwa Larena sudah bertemu dengan Vincent dan menyelesaikan masalah mereka berdua. Dan juga Larena yang menyatakan kepada Deanda untuk bersedia tampil di depan umum agar bisa membantu Alvero, membuat detik itu juga Alvero membatalkan perintahnya kepada Ernest dan justru memberikan perintah baru untuk memastikan agar Eliana tetap mengadakan konferensi pers itu.
Alvero sendiri tidak menyangka bahwa bukan hanya kehadiran Larena, tapi kehadiran Vincent yang sudah pulih dari lumpuhnya dengan membawa hasil tes DNA dari Dion menyempurnakan hasil akhir rencana Alvero untuk mempermalukan dan memberi Eliana pelajaran.
__ADS_1
“Baron Amos mengatakan bahwa Eliana dan Rolland menggunakan bunker bekas percobaan yang gagal di pinggiran kota Tavisha yang sekarang sudah menjadi hutan untuk melakukan pelatihan terhadap para anggota kelompok pemberontak.” Alvero kembali mengernyitktan dahinya mendengar jawaban dari Alexis.
“Sepertinya kata-kata baron Amos bisa dipercaya tentang bunker Tavisha itu. Karena apa yang dikatakannya sama dengan apa yang dikatakan oleh Avitus. Selain hal itu, apalagi yang dikatakan oleh baron Amos?” Alvero bertanya sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya.
“Dia juga mengatakan bahwa selain bunker itu menjadi tempat pelatihan, di sana ada satu ruangan yang diam-diam digunakan oleh baron Amos untuk menyimpan semua bukti kejahatan dari Eliana yang dia punya. Termasuk perintah untuk mencelakai ibu suri Larena belasan tahun yang lalu, bukti transfer uang kepada para pembunuh, bukti percakapan berupa rekaman-rekaman tentang perintah itu dan bagaimana baroness Eliana sudah menjebak yang mulia Vincent malam itu. Dan juga bukti perintah pembakaran tempat kediaman ibu suri Larena Hilmar dan perintah untuk membunuh saya yang ditujukan kepada salah satu pemimpin pemberontak yang akhirnya berhasil saya kalahkan waktu itu. Menurut baron Amos, yang paling penting, di sana juga terdapat daftar nama-nama para pemimpin kelompok pemberontak.” Semua yang ada di tempat itu langsung membeliakkan matanya mendengar penjelasan dari Alexis.
"Dan juga, foto-foto bukti perselingkuhannya dengan Rolland, semua ada di sana." Kata-kata tambahan dari Alexis membuat Alvero tersenyum sinis, karena info yang disampaikan Alea sungguh akurat.
“Bukti sebanyak itu? Apa benar ada di bunker bekas itu?” Evan berkata dengan menarik nafas panjang.
Dengan semua bukti itu akan cukup untuk membuat Eliana dijatuhi hukuman mati. Baroness Eliana benar-benar seorang wanita yang mengerikan.
Melihat sosok cantik Deanda dengan kelembutan hatinya, dan mengingat semua kejahatan yang sudah dilakukan Eliana, Evan hampir tidak percaya bahwa di dunia ini ada dua wanita yang memiliki pribadi yang begitu jauh berbeda seperti langit dan bumi.
“Tapi, kenapa tidak ada angin tidak ada badai, tiba-tiba baron Amos menghubungi tuan Alexis dan menceritakan semua itu?” Alvero kembali mempertanyakan ketulusan niat dari Amos yang baginya masih begitu meragukan sekaligus mencurigakan.
__ADS_1
“Awalnya dia menghubungi Red, setelah itu Red menyerahkannya kepada saya. Dari pengakuan baron Amos, dia melakukan itu setelah melihat siaran langsung hari ini tentang jumpa pers yang diadakan oleh baroness Eliana. Baron Amos yang melihat kehadiran ibu suri Larena merasa dia sebagai saudara kandung baroness Eliana harus segera ikut menghentikan semuanya jika tidak ingin yang mulia Larena kembali terluka. Menurut baron Amos, peristiwa kebakaran di kediaman ibu suri Larena waktu itu membuatnya dihinggapi rasa bersalah setiap harinya. Selama ini dia berpikir bahwa yang mulia Larena sudah meninggal, jadi dia menyimpan bukti-bukti itu sebagai tameng untuk dirinya sendiri, berjaga-jaga jika suatu ketika Eliana menyerangnya.” Alexis segera menjawab pertanyaan dari Alvero.
“Apa itu artinya betul dia yang melakukan pembakaran itu?” Alvero langsung mengatakan sebuah pertanyaan lagi dengan sikap tidak tenang.
“Saya tidak bisa memastikan Yang Mulia. Menurut penjelasannya, bukan dia yang melakukan. Hanya saja, dia sudah tahu rencana pembakaran itu tanpa sengaja. Sehingga dia dengan diam-diam, tanpa sepengetahuan baroness Eliana, dia sengaja berusaha mengajak ibu suri Larena pergi malam itu dari kediamannya. Tapi waktu itu ibu suri Larena menolak dengan tegas ajakannya.” Vincent langsung melirik ke arah Larena yang terlihat menarik nafas panjang.
“Waktu itu benar baron Amos memaksaku untuk segera meninggalkan tempat kediamanku, dengan alasan akan ada sesuatu yang buruk jika aku tetap tinggal di sana malam itu. Dia mengatakan bahwa sejak saat itu, dia yang akan menggantikan yang mulia Vincent untuk menjaga dan melindungiku. Dan aku menolak dengan keras, sehingga dia mencoba menyeretku dengan paksa. Dan Tiana yang saat itu baru saja datang langsung menolongku. Jika tidak, malam itu baron Amos pasti sudah membawaku pergi, dan entah apa yang akan aku alami selanjutnya.” Mendengar penjelasan dari Larena, tanpa sadar tangan Vincent terkepal erat.
Sejak dulu Vincent tahu bagaimana perilaku Amos yang begitu tergila-gila dengan Larena. Walaupun Larena tidak pernah memberikan respon sedikitpun, tapi tetap saja ada rasa cemburu yang membakar dada Vincent mengingat bagaimana menyebalkannya sikap Amos terhadap Larena.
Melihat wajah Vincent yang sedikit memerah dan tanpa sadar baru saja mengeluarkan sebuah dengusan yang menunjukkan rasa sebalnya terhadap Amos, membuat Deanda yang tanpa sengaja melihat itu hanya bisa menahan senyum geli.
Ah, ternyata sifat pencemburu akut yang mulia Alvero diturunkan oleh papa Vincent. Setelah sekian lama, papa Vincent ternyata masih begitu mudah terbakar api cemburu. Benar-benar ayah dan anak yang kompak. Sifat mereka benar-benar mirip satu sama dengan yang lain.
Deanda berkata dalam hati sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari Vincent jika tidak ingin pada akhirnya dia tidak bisa menahan senyum gelinya melihat bagaimana mertuanya yang ternyata sama over protektif dn pencemburunya dengan anak laki-lakinya.
__ADS_1