BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PANTAI RENHILL


__ADS_3

Karena kini antara Deanda dan Marcello memiliki status soasial yang berbeda, sehingga Marcello harus memberikan salam penghormatan jika harus bertemu atau berpisah dari Deanda, apalagi jika itu di depan orang lain. Untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada struktur kepemimpinan di Gracetian yang menganut sistem monarki absolut.


"Di lain kesempatan, kami akan berkunjung kembali ke sini." Alvero berkata sambil memberikan kode kepada Erich yang langsung menganggukkan kepalanya dan berlari menjauh untuk menyiapkan mobil bagi Alvero dan Deanda.


"Kalau begitu kami permisi Uncle. Jaga kesehatan Uncle selama di tempat ini." Deanda berkata sambil memeluk Marcello sekilas, sedang Marcello langsung membalas pelukan itu sambil menepuk-nepuk pelan punggung Deanda.


"Jaga dirimu baik-baik Permaisuri." marcello menjawab perkataan Deanda dengan senyum di wajahnya.


Melihat sosok Deanda yang sejak sepeninggalan Alexis sudah mengalami banyak penderitaan bersama dengan ibu dan kakak tirinya. Membuat Marcello begitu bahagia bisa melihat bagaimana kehidupan Deanda sekarang bersama Alvero yang terlihat begitu saling mencintai dan mendukung satu dengan yang lain.


"Yang Mulia, sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Yang Mulia kepadaku? Kenapa harus menunggu sampai kita tiba di pantai, baru Yang Mulia mau memberitahukannya padaku?" Deanda yang duduk di samping Alvero, di dalam mobil yang dikendarai Erich bertanya kepada Alvero dengan wajah telihat begitu penasaran karena rasa ingin tahu yang begitu besar di hatinya.


"Sweety, hari ini kenapa kamu terlihat tidak sabaran sekali ya. Apa perlu aku menagih janjimu untuk mengabulkan apapun permintaan dari pemenang pertandingan ketangkasan tadi?" Mendengar pertanyaan Alvero dengan wajahnya yang jelas-jelas sedang mengejeknya, akhirnya Deanda hanya bisa terdiam sambil mengernyitkan dahinya, mencoba menebak-nebak sendiri apa yang sebenarnya akan dikatakan oleh Alvero kepadanya.


"Istt.... menggemaskan sekali melihat wajah penasaranmu hari ini sweety..." Alvero berktata sambil merapikan rambut Deanda yang keluar dari ikatan tambutnya, sehingga membuat rambut Deanda tampak sedikit berantakan.


Setelah Alvero merapikan rambut Deanda dengan mengarahkannya ke belakang dan menahannya di belakang telinga Deanda, Alvero langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Deanda dan berbisik pelan.


"Sayangnya, aku tidak akan menggunakan hadiah permintaanku hari ini. Aku akan menunggu saat yang benar-benar tepat untuk memakai satu permintaan berhargaku itu." Alvero berkata sambil menjepit sekilas telinga Deanda dengan kedua bibirnya, membuat tubuh Deanda tersentak kaget dan langsung melirik ke arah Erich, berharap laki-laki itu tidak melihat apa yang sudah dilakukan oleh Alvero kepadanya.

__ADS_1


Untung saja mata Erich terlihat sedang menatap lurus ke depan, berkonsentrasi ke arah jalan dimana jalan sudah mulai terlihat naik turun dan berkelok-kelok karena mereka sudah semakin dekat dengan daerah pantai.


Jujur saja, keberadaan Erich dan Ernest bagi Deanda memberikan efek yang begitu berbeda. Bagi Deanda, sikap ramah dan perhatian Ernest sejak awal pertemuan mereka membuat Deanda merasa nyaman, seperti sedang bersama dengan kakaknya sendiri. Bahkan, kadang tanpa perduli adanya Ernest di sekitar mereka berdua, Deanda tidak segan-segan membalas perlakuan mesra Alvero padanya, karena Deanda tidak lagi menganggap keberadaan Ernest sebagai orang asing.


Namun, keberadaan Erich yang seringkali berwajah dingin dan datar tanpa ekspresi sejak awal mereka bertemu, kadang membuat Deanda merasa sedikit canggung. Apalagi sebelumnya Deanda pernah berpikir bahwa Erich adalah pasangan gay dari Alvero, membuat Deanda tanpa sadar begitu menjaga jarak dengan Erich.


Walaupun pada akhirnya Deanda tahu baik Alvero maupun Erich adalah laki-laki normal dan menyukai wanita, bukannya sesama pria. Namun, karena Erich sendiri selalu bersikap dingin dan jarang tersenyum, tidak banyak bicara, membuat Deanda merasa tidak bisa dekat dengan Erich.


Meskipun Deanda tahu, Erich adalah pengawal pribadi Alvero yang begitu setia, bahkan bersedia melakukan apapun perintah dari Alvero, meskipun mungkin itu perintah untuk mengorbankan nyawanya sekalipun.


Aku berharap hubunganku dengan Erich bisa sedekat hubunganku dengan Ernest, meskipun sepertinya perlu usaha yang begitu keras untuk itu.


"Jangan memikirkan hal lain saat sedang bersamaku. Itu permintaanku sebagai pemenang pertandingan hari ini." Alvero berbisik pelan sambil menggerakkan tangannya ke depan, memencet tombol yang ada di depannya sehingga sebuah dinding pembatas berupa kaca film berwarna gelap segera muncul diantara bagian penumpang dan pengemudi mobil yang sedang mereka tumpangi.


Sekilas Erich melirik ke belakang melalui kaca spion, dimana dia sudah tidak bisa melihat lagi sosok Alvero dan Deanda karena kaca tebal berwarna gelap yang memisahkan Alvero dan Deanda dengannya.


"Yang Mulia..." Deanda berkata lirih sambil berusaha sedikit menjauh dari Alvero yang justru langsung meraih tengkuknya, menahannya agar Deanda tidak bisa menjauh darinya dan menghindari ciuman yang dilakukan oleh Alvero bertubi-tubi di lehernya.


"Akhirnya aku meminta hadiahku hari ini. Aku sudah menyampaikan permintaanku hari ini sebagai pemenang pertandingan. Dan sesuai perjanjian, pihak yang kalah tidak boleh menolak permintaan itu." Alvero berkata lirih dengan hidung dan bibirnya yang menempel di leher Deanda, bergerak ke sana kemari memberikan usapan, ciuman dan kecupan menggunakan hidung dan bibirnya.

__ADS_1


Membuat Deanda harus menahan nafasnya akibat tindakan Alvero, agar bibirnya tidak mengeluarkan suara sedikitpun untuk menanggapi perbuatan Alvero padanya.


Suara lembut dan mesra dari Alvero, hembusan nafas Alvero dari hidung mancungnya, atau dari bibirnya saat membisikkan kata-katanya, benar-benar membuat Deanda diam terpaku dengan dada bergetar hebat dan pikirannya yang melayang karena rasa bahagia sekaligus gugup bercampur aduk menjadi satu saat ini.


Keberadaan Alvero, kata-kata, sikap lembut dan mesranya, selalu berhasil membuat jantung Deanda berdetak dengan jauh lebih kencang dan menimbulkan sensasi geli di perut dan dadanya, seolah ada sesuatu yang bergerak dan beterbangan di sana. Membuatnya tersadar bahwa dia begitu mencintai suaminya itu, dan tidak bisa lagi jauh dari sosok laki-laki itu.


# # # # # # #


Suara deburan ombak dan angin pantai yang mulai terasa dingin sore itu langsung menyapa tubuh Alvero dan Deanda yang baru saja keluar dari mobil.


"Kenapa mengajakku ke tempat ini?" Deanda berkata sambil meraih tangan Alvero, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Sudah aku katakana, aku ingin menceritakan sesuatu padamu di tempat ini." Alvero berkata pelan sambil membalas genggaman tangan Deanda dengan hangat.


"Ceritakan padaku sekarang. Eh, tapi my Al... apa kamu sering datang ke pantai ini?" Deanda berkata sambil menarik tangan Alvero, mengajaknya berjalan menyusuri pantai sambil sesekali menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati udara di sekitar pantai.


Mencium bau laut yang walaupun terasa sedikit amis di hidung Deanda, tapi membuat hati Deanda, yang memang menyukai suasana laut, merasa tenang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2