BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
DRAMA SUDAH DIMULAI


__ADS_3

"Kenapa kamu mengeluarkan uang sebanyak itu di depan kami? Apa kamu mau mentraktir kami?" Alvero berkata sambil mencebikkan bibirnya.


“Itu uang muka yang aku dapat dari wanita itu. Untuk tugasku berusaha menggoda Kakak dan menjadi wanita simpanan Kakak.” Alaya berkata sambil tertawa geli, membuat Alvero langsung mendengus sambil menggerakkan kepalanya ke samping.


"Wah... benar-benar wanita itu.... menganggap semua selalu bisa diselesaikan dengan uang." Alvero berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, namun setelah itu dia menyunggingkan sebuah senyum di wajahnya.


“Hah! Benar-benar! Kali ini dia betul-betul sedang menuju lubang jebakannya sendiri. Sepertinya dia sungguh memiliki harapan besar kepadamu dan begitu mempercayaimu.” Alvero berkata dengan nada suara terlihat puas sambil menatap ke arah Alaya.


“Iya Kak, sepertinya begitu. Lalu, akan kita apakan uang itu Kak?” Alaya berkata dengan mata memandang ke arah tumpukan uang itu.


“Itu kan uangmu? Tapi kalau kamu tidak keberatan, besok aku akan mengirimkan uang itu agar didonasikan ke panti asuhan.” Mendengar kata-kata Alvero, Alaya langsung tersenyum.


“Ide bagus. Aku juga tidak akan pernah berencana menggunakan sepeserpun uang dari nenek sihir itu. Aku yakin uang itu akan membawa sial untukku. Bukannya membuatku semakin terlihat cantik, justru menjijikkan.” Alvero langsung tertawa mendengar gerutuan Alaya.


“Tenang saja, sebagai adikku, aku akan memberikan lebih banyak dari yang bisa dia berikan. Lagian saat statusmu sudah dipublikasikan sebagai adik kandungku, kamu akan memiliki hak maupun semua fasilitas sebagai seorang putri Adalvino.” Alvero berkata sambil menepuk-nepuk pipi Alaya dengan rasa sayang.


# # # # # # #


“Selamat pagi Yang Mulia.” Mendengar sapaan Cleosa dan juga melihat salam penghormatan dari Cleosa, Alvero langsung menganggukkan kepalanya, lalu memberi tanda kepada Cleosa untuk mendekat ke arahnya.

__ADS_1


“Ya Yang Mulia?” Cleosa langsung berjalan mendekat ke arah Alvero, sekilas matanya melirik ke arah Erich yang berdiri tepat di belakang tubuh Alvero dengan pandangan mata menatap lurus ke depan seperti biasa, dengan raut wajah datar dan tanpa senyumnya.


Bagi orang lain mungkin Erich seperti sosok patung berjalan, yang selalu setia mengikuti dan melindungi Alvero, tapi bagi Cleosa, raut wajah dan penampilan Erich yang seperti itu selalu saja berhasil membuatnya terpukau dan terpesona. Bahkan menimbulkan debaran jantung yang tidak dapat dia kendalikan saat berada di dekat laki-laki tanpa ekspresi itu.


“Cleosa, tadi malam seorang rekan bisnisku menghubungiku dan mengatakan bahwa dia menitipkan sebuah surat penting di bagian front office. Kamu cek dengan baik, siapa yang sudah menerima surat itu. Erich, temani Cleosa untuk mencari surat itu. Setelah itu bawa surat itu ke atas mejaku. Aku akan ke kantorku lebih dahulu.” Erich sedikit mengernyitkan dahinya tanpa berani bertanya apalagi membantah, begitu mendengar perintah dari Alvero yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


Cleosa sendiri tampak kaget dan sikapnya tidak bisa menyembunyikan salah tingkah dan kegugupannya begitu mendengar perintah Alvero yang menyuruh Erich untuk pergi berdua dengannya mencari surat itu.


“Eh… Si… silahkan Tuan Erich.” Dengan nada suara terdengar sedikit bergetar, Cleosa mempersilahkan Erich untuk mengikutinya, pergi ke kantor front office untuk menjalankan perintah dari Alvero.


Tanpa menjawab perkataan Cleosa sepatah katapun, Erich langsung mengikuti arah dimana Cleosa memberikan tanda melalui tangannya.


# # # # # # #


Karena kehamilan Deanda yang membuat selera makannya sedikit berubah, begitu menyukai buah-buahan, dan beberapa buah kadang tidak selalu tersedia di dapur istana, Alvero ingin agar Avitus mengubah sistem dan jenis penerimaan bahan-bahan makanan yang masuk ke istana.


Alvero terlihat begitu konsen dengan handphone di tangannya, sehingga saat membuka pintu ruangan Avitus, tanpa sengaja menabrak Alaya yang baru saja berniat keluar dari ruangan Avitus sambil membawa tumpukan berkas-berkas dari Robert untuk Avitus.


Tumpukan map yang dipegang oleh Alaya langsung jatuh berserakan di lantai, dan tubuh Alaya yang terdorong ke belakang karena kaget pintu yang tiba-tiba terbuka dan hampir menghantam tubuhnya, membuat Alaya jatuh terduduk di lantai.

__ADS_1


"Eh, Yang Mulia! Nona!" Avitus buru-buru berlari mendekat ke arah Alvero dan Alaya begitu melihat kejadian itu.


Dengan gerakan cepat, Alvero langsung mendekat ke arah Alaya, dan langsung mengulurkan tangannya agar gadis itu bangun dari jatuh terduduknya. Begitu Alaya meraih tangan Alvero yang langsung menariknya ke atas, ketika sudah hampir berdiri, kaki Alaya sedikit terpeleset, membuatnya hampir terjatuh kembali. Untung saja dengan cepat lengan Alvero bergerak ke arah pinggang Alaya dan memeluknya agar tidak terjatuh kembali.


Alvero yang memeluk tubuh Alaya, menggerakkan tubuhnya sendiri agar bisa berdiri tegak kembali sambil menarik lengannya yang sedang melingkar di pinggang Alaya, membuat tindakannya seperti seorang pria yang sedang berusaha menyelamatkan seorang gadis dan membuat orang yang melihat pasti akan berpikir bahwa itu terlihat sungguh romantis dan mendebarkan hati.


"Kamu baik-baik saja Nona?" Alvero berkata sambil melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Alaya dengan sikap enggan.


"Ma... maaf Yang Mulia. Saya betul-betul tidak sengaja." Alaya berkata dengan wajah tertunduk dan sikap terlihat gugup dan sedikit ketakutan, membuat Avitus ikut merasa tidak tenang, takut jika kemarahan Alvero akan meledak seperti biasanya kalau ada seorang gadis tidak dikenal berani mengambil kesempatan mendekatinya tanpa alasan yang jelas, apalagi berani menyentuhnya.


"Maaf Yang Mulia, Nona ini tidak sengaja menabrak Yang Mulia." Mendengar kata-kata Avitus, Alvero langsung tersenyum sambil menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri, untuk menyatakan bahwa tidak masalah baginya.


"Ya, aku tahu. Tidak masalah Avitus. Yang penting Nona baik-baik saja. Kalau ada yang terluka, Nona bisa melaporkannya kepadaku, aku akan membantumu." Alvero berkata sambil memandang ke arah wajah Alaya yang terlihat memerah, lalu berjalan ke arah Avitus.


"Kalau begitu Nona bisa meninggalkan ruangan." Perkataan Avitus disambut sebuah anggukan kepala dari Alaya yang langsung memungut berkas-berkasnya yang jatuh.


"Kalau begitu saya permisi Yang Mulia, Tuan Avitus." Alaya berkata sambil memberikan salam penghormatan kepada Alvero dan membalikkan tubuhnya, berniat untuk segera keluar dari ruangan itu.


"Eh, tunggu sebentar, Nona...." Tangan Alaya sudah bergerak ke arah handle pintu, ketika dia mendengar suara Alvero, yang membuatnya langsung menghentikan niatnya untuk membuka pintu dan keluar dari ruangan Avitus.

__ADS_1


"Alaya Yang Mulia, namanya Nona Alaya." Avitus langsung menyebutkan nama Alaya begitu melihat Alvero terlihat berusaha menyebutkan nama Alaya dengan benar.


"O, ya. Nona Alaya, nama yang cantik. Arti dari kata Alaya sendiri adalah putri, yang berderajat luhur." Alvero berkata sambil tersenyum dan menyodorkan sesuatu ke arah Alaya, yang dengan gerakan ragu menerima apa yang baru saja diberikan Alvero kepadanya.


__ADS_2