
"My Al... kapan aku bisa mulai kembali bekerja kembali? Dan... mungkinkah... aku bisa kembali ke devisi R&D seperti sebelumnya?" Alvero yang mendengar pertanyaan dari Deanda yang mencoba mengalihkan pembicaraan, sengaja diam tanpa membalas pertanyaan Deanda.
"My Al... apa kamu sengaja tidak mau menjawab pertanyaanku dengan pura-pura tertidur?" Deanda berkata sambil menghentikan gerakan memijatnya, dan tangannya menyentuh dada Alvero, membuat Alvero menarik nafas panjang tanpa membuka kedua matanya yang masih terpejam.
Bagaimanapun, tanpa disadari oleh Deanda, sentuhan tangan Deanda di dadanya, justru membuat Alvero yang sudah mulai tenang, dadanya kembali bergejolak. Walaupun tentu saja bergejolak karena dua hal yang berbeda. Jika tadi dadanya berdebar keras karena emosi, saat ini dadanya berdebar keras karena sentuhan tangan Deanda di dadanya berhasil memancing hasrat Alvero yang pada dasarnya selalu menginginkan lebih jika berada di dekat sosok istrinya.
"Kenapa ingin segera kembali bekerja? Sudah bosan berduaan denganku?" Mendengar pertanyaan Alvero Deanda langsung mencubit pelan dada Alvero, membuat tubuh Alvero tersentak kaget, tidak menyangka tindakan cepat Deanda barusan, tanpa sepengetahuan Deanda justru membuat dadanya semakin berdebar keras.
"Sembarangan saja. Aku hanya ingin segera kembali bekerja sekaligus sekaligus mencari cara untuk bisa dengan segera membersihkan nama papa Alexis." Perkataan Deanda membuat Alvero menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Deanda yang masih berada di dadanya dengan erat, lalu mencium tangan Deanda itu dengan mesra.
"Percayalah aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa secepat mungkin untuk membersihkan nama papa Alexis. Dan pemintaanmu untuk kembali ke devisi R&D, aku tidak menginjinkannya. Sudah aku bilang, setelah kembali bekerja, kamu akan menjadi asisten pribadiku. Bekerja bersamaku langsung dan..."
"Aku tidak mau..." Deanda memotong perkataan Alvero yang berhasil membuat Alvero langsung menjauhkan tubuhnya dari sandaran kursi, lalu memiringkan tubuhnya untuk dapat memandang wajah Deanda yang baru saja menolak keinginannya untuk menjadi asisten pribadiku.
"Kenapa? Apa kamu akan merasa bosan berada di dekatku sepanjang hari?" Alvero berkata dengan tatapan mata yang menunjukkan pertanyaan besar di hatinya.
"Tidak... tidak mungkin aku bosan denganmu my Al. Kamu ini ada-ada saja." Deanda berkata sambil tersenyum, dengan jari-jari lentiknya mengusap lembut wajah tampan suami tercintanya.
"Aku merasa tidak layak untuk menjadi asistenmu. Kamu tahu, aku belum memiliki banyak pengalaman dalam bekerja. Belum lagi, aku juga orang yang sebenarnya bekerja tanpa ijazah. Kalau bukan karena kebaikanmu, tidak mungkin aku bisa bekerja di perusahaan Adalvino...."
"Siapa yang perduli dengan semua itu. Saat ini kamu adalah permaisuri Gracetian, istri sahku. Tidak ada yang akan berani menentang perintahmu!" Alvero berkata dengan sikap tidak perduli, menunjukkan dia tidak akan tinggal diam jika ada orang lain yang mempertanyakan keputusannya untuk menjadikan Deanda sebagai asisten pribadinya.
__ADS_1
"Aku..." Perkataan Deanda langsung terhenti begitu mendengar suara pintu mobil bagian pengemudi dibuka dari arah luar oleh Erich.
"Maaf Yang Mulia, urusan saya baru selesai dengan tuan Emilio." Erich berkata sambil mengambil posisi duduk di kursi pengemudi.
"Ah, kamu sudah kembali Erich? Apa semuanya berjalan dengan baik?" Alvero langsung menoleh ke arah Erich sambil menanyakan tentang hasil misi mereka malam ini.
"Ya Yang Mulia." Erich menjawab singkat pertanyaan Alvero.
"Bagaimana dengan hasil rekamannya? Apa kamu sudah berhasil merekam semuanya?"
"Ya Yang Mulia." Lagi-lagi Erich menjawab dengan singkat, sambil menyodorkan alat perekam yang baru saja diambilnya dari balik jaketnya ke arah Alvero.
"Ok, aku akan memberikannya kepada Enzo besok pagi." Alvero berkata sambil meraih alat perekam itu dari Erich.
"Kembali ke villa." Alvero langsung menjawab cepat pertanyaan Erich.
Rasanya hari ini menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Alvero, dan dia ingin segera kembali agar bisa menikmati sisa hari sebelum pagi bersama wanita tercintanya berdua.
# # # # # # #
"Morning sweety..." Begitu Deanda membuka matanya Alvero yang tubuhnya masih tertutup selimut yang sama dengan Deanda, langsung menggerakkan bibirnya dan mengecup lembut kening Deanda.
__ADS_1
Beberapa saat yang lalu Alvero yang sudah bangun terlebih dahulu dari Deanda sengaja membiarkan Deanda tetap menikmati tidur lelapnya. Sedang Alvero sendiri, begitu menikmati pemandangan cantik istrinya yang semakin hari semakin membuatnya semakin mencintai sosok wanita cantik itu.
"Pukul berapa sekarang my Al?" Deanda bertanya sambil menggeliatkan tubuhnya dari balik selimut.
"Masih pagi, pukul 9 pagi." Mendengar jawaban Alvero, tanpa sadar tubuh Deanda tersentak kaget, dan langsung mengambil posisi duduk sambil tangannya bergerak cepat meraih selimut agar tetap dapat menutupi tubuh polosnya pagi ini.
"Hah! Ternyata hari sudah siang." Deanda berkata dengan sikap gugup karena baru kali ini dia bangun kesiangan.
"Eits... kenapa denganmu? Kenapa terburu-buru. Istirahatlah kalau masih merasa lelah." Dengan cepat Alvero kembali menarik tubuh Deanda agar kembali berbaring, membuat Deanda langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Alvero.
"Tidak enak jika kita melewatkan sarapan pagi bersama yang lain." Mendengar perkataan Deanda, Alvero langsung mencubit pelan hidung Deanda.
"Siapa yang membuatmu merasa tidak enak? Kamu ini, kenapa seringkali lupa statusmu sekarang adalah permaisuri Gracetian. Tidak akan ada yang berani mempertanyakan kegiatan apa yang sedang kamu lakukan atau kenapa kamu tidak ikut dalam suatu acara." Alvero berkata sambil mengacak pelan rambut Deanda yang dia lihat dari wajahnya memang terlihat masih lelah dan mengantuk.
Setelah seharian mereka disibukkan dengan urusan kekasih Melva, hingga pukul dini hari baru kembali ke villa. Deanda masih harus meladeni keinginan Alvero untuk bercinta hingga pukul 4 dini hari, membuat Deanda tubuhnya benar-benar merasa lelah pagi ini. Sebenarnya bukan lelah yang dirasakan oleh Deanda, tapi rasa kantuk yang masih menguasai dirinya.
"Apa kamu masih mengantuk? Matamu masih terlihat sayu." Alvero bertanya sambil tersenyum, membuat Deanda menarik nafas dalam-dalam.
"Bagaimana aku tidak lelah coba? Setelah hampir setiap hari kamu menggempurku tanpa henti?" Mendengar protes Deanda, Alvero langsung tertawa kecil.
"Haist... kamu ini. Seharusnya kamu mengerti bahwa ini memang masa bulan madu kita. Apalagi kita sudah berjanji kepada papa untuk segera memberinya cucu. Kalau aku tidak rajin bekerja keras... bagaimana kita bisa mendapatkan hasil maksimal?" Mendengar perkataan Alvero, kedua mata Deanda langsung melotot kaget.
__ADS_1
"Astaga my Al, kamu ini benar-ben..." Belum lagi Deanda melanjutkan kata-katanya, Alvero langsung membungkam bibir Deanda dengan bibirnya, menciumnya dengan penuh gairah, namun tidak lama kemudian, Alvero dengan enggan memaksakan dirinya untuk menjauhi tubuh Deanda.
"Lebih baik tidak kita teruskan, atau aku akan meminta jatahku lagi pagi ini. Hah.... Lebih baik aku segera memberitahukan kepada pelayan untuk membawakan sarapanmu ke kamar. Hari ini beristirahatlah dengan baik, agar saat aku memintanya kembali, tubuhmu sudah siap kembali." Alvero berkata sambil tertawa karena melihat bagaimana Deanda melotot kembali ke arahnya karena kata-katanya barusan.