
“Putri Desya… apa ada yang ingin kamu katakan untuk membela dirimu? Mungkin kamu ingin menyangkal dan membuktikan bahwa bukti atau saksi yang menyatakan bahwa kamu adalah otak dari kasus ini adalah sebuah kesalahan? Dan kamu memiliki bukti kuat lainnya untuk membersihkan namamu dari tuduhan ini?” Mendengar pertanyaan Alvero, Desya tetap diam tanpa berani menanggapinya, apalagi mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Alvero.
Tangan Alvero yang ada di bawah meja langsung menggenggam erat tangan Deanda yang dari awal memilih untuk diam, mempercayakan semuanya kepada Alvero. Setelah menunggu lebih dari 2 menit tanpa adanya jawaban dari Desya, Alvero yang baru saja melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya langsung menarik nafas panjang.
“Sudah cukup waktu yang aku berikan kepada putri Desya dan sepertinya dia memutuskan untuk tidak menggunakan kesempatan yang sudah aku berikan untuk melakukan pembelaan pada dirinya sendiri. Paling tidak itu sebuah poin positif dimana putri Desya mengakui kesalahannya dan tidak membenarkan diri atas kesalahan yang sudah dia lakukan.” Alvero berkata sambil melirik ke arah Eliana yang rahangnya tampak terkatup rapat, menahan gemeretak giginya karena kemarahan dalam dadanya, sedang Dion terlihat diam dengan wajah tidak perduli terhadap apa yang terjadi, justru matanya sibuk mencuri pandang ke arah Deanda, berusaha mengamati untuk memastikan bahwa wanita yang dicintainya itu baik-baik saja.
Ah, untung saja sepertinya kondisimu baik-baik saja Deanda. Kakakku Desya memang sudah keterlaluan dengan berusaha membuatmu mengalami kecelakaan bersama white angel. Kali ini aku akan membiarkan dia merasakan hukuman dari kak Alvero, supaya lain kali dia tidak mencari masalah lagi dengan Deanda.
Dion berkata dalam hati sambil melirik ke arah Desya yang tampak sedikit pucat, karena saat ini Vincent juga sudah lengser dari jabatannya sebagai raja Gracetian, sehingga tidak akan bisa membantunya lagi. Dion bisa memastikan, jika Vincent masih dalam posisinya sebagai raja Gracetian, Eliana pasti akan membuat Vincent turun tangan untuk menghalangi Alvero memberikan hukuman berat padanya.
Walaupun Dion adalah saudara satu ibu dengan Desya, bagi Dion, perbuatan Desya yang hendak mencelakakan Deanda yang begitu dicintainya merupakan sebuah perbuatan yang baginya tidak termaafkan. Karena itu, Dion memilih untuk diam dan hanya menunggu keputusan apa yang akan diberikan oleh Alvero kepada kakak tirinya itu. Rasa cinta yang baru pertama kali ini dirasakan Dion kepada seorang wanita membuatnya tidak lagi perduli dengan yang lain, bahkan merasa marah dan ingin ikut serta dalam menghukum Desya karena apa yang sudah dilakukan Desya kepada white angel untuk membuat Deanda dalam bahaya.
“Aku akan mengumumkan hukuman putri Desya atas tindakan berani sekaligus kurang ajarnya karena berniat untuk melukai permaisuri Deanda.” Alvero berkata sambil matanya menatap satu persatu ke arah para anggota keluarga kerajaan yang hadir di tempat itu sebelum melanjutkan bicaranya.
__ADS_1
Dari apa yang dilihat oleh Alvero, Alvero langsung memilah-milah mereka dalam tiga bagian. Orang yang tampak mendukungnya, terlihat dari cara mereka memandangnnya dengan tatapan percaya dan tenang. Bagian kedua adalah para pendukung Eliana yang menunjukkan wajah gelisah dan tidak tenang, bahkan ada yang menampakkan wajah protesnya namun tetap saja tidak berani berbicara kalau tidak ingin dihabisi oleh Alvero. Kelompok yang ketiga adalah orang-orang yang tidak terlalu perduli dengan apa yang terjadi, asal kehidupan mereka aman dan nyaman di istana, siapapun yang memegang tampuk kekuasaaan tertinggi, itulah yang akan mereka dukung dengan sepenuh hati.
“Mulai hari ini, maksimal besok, putri Desya harus keluar dari istana, meninggalkan istana. Putri Desya tidak akan lagi diperkenankan untuk tinggal dalam istana. Putri Desya diperbolehkan untuk memasuki istana jika ingin berkunjung, dan itu sebatas statusnya sebagai seorang tamu. Tidak diijinkan melangkahkan kakinya melebihi batas yang sudah ditetapkan sebagai tamu kerajaan, tidak lebih dari itu. Selain itu, karena putri Desya sudah dianggap bukan lagi bagian dari istana, semua biaya hidup dan keperluan putri Desya tidak akan lagi menjadi tanggung jawab dan beban kerajaan maupun perusahaan Adalvino. Jikapun kita yang ada di tempat ini ingin membantu kehidupan putri Desya, itu murni karena keinginan pribadi dan hubungan persaudaraan, sehingga siapapun itu diperbolehkan melakukan itu dengan dana pribadi mereka sendiri tanpa melibatkan keuangan kerajaan atau perusahaan Adalvino.” Alvero mengatakan keputusannya dengan suara tegas, membuat beberapa orang tersentak kaget.
Sebagian orang merasa hukuman itu terlalu ringan karena seharusnya hukumannya setara dengan hukuman untuk para pemberontak. Namun di sisi lain para pendukung Eliana merasa hukuman itu terlalu berat, karena mereka tahu tentang Desya yang terbiasa hidup dengan gaya hidupnya yang mewah dan tidak pernah membiarkan tangannya lelah apalagi kotor untuk bekerja. Semua urusannya selalu dikerjakan oleh para pelayan, bahkan sejak saat dia bersekolah dulu, setiap ada pekerjaan rumah maupun tugas, pastilah orang lain yang mengerjakan untuknya.
Wajah Desya semakin memucat mendengar hukuman yang disebutkan oleh Alvero kepadanya, sedang Eliana langsung bangkit dari duduknya begitu mendengar keputusan Alvero.
“Yang Mulia. Hukuman itu sungguh tidak adil buat putri Desya!” Dengan nada berusaha dia ucapkan serendah mungkin agar tetap menunjukkan sikap hormat di depan para anggota keluarga kerajaan yang lain, Eliana berkata kepada Alvero yang langsung menatapnya dengan tatapan tajam.
“Yang Mulia Alvero! Aku yakin yang mulia Vincent akan mengutuk keras atas keputusan Yang Mulia untuk mengusir saudara Yang Mulia dari istana.” Karena emosinya, tanpa sadar Eliana mengucapkan kata-katanya kepada Alvero dengan nada sedikit tinggi.
“Apa ibu suri sekarang sedang berusaha memberitahukan kepadaku bahwa seharusnya yang memberikan keputusan dan duduk di tempt ini adalah yang mulia Vincent? Apa Anda telah lupa status baru Anda sebagai ibu suri? Bahwa Anda bukanlah lagi permaisuri Graceatian sejak aku menjadi raja Gracetian?” Mendengar kata-kata Alvero, mata Eliana melotot dengan warna memerah.
__ADS_1
“Yang mulia Vincent pasti akan kecewa dengan sikap Anda yang sewenang-wenang Yang Mulia.” Eliana berkata dengan tangannya terkepal sangat erat, sehingga tanpa sadar ujung kukunya melukai telapak tangannya sehingga menimbulkan rasa perih, namun rasa sakit di dadanya jauh lebih perih dari luka di telapak tangannya saat ini.
“O, ya? Kalau begitu sekarang juga aku akan menghubunginya, mungkin ibu suri bisa memohon pengampunan padanya untuk putri Desya sekarang.” Dengan santai Alvero mengeluarkan handphonenya, meletakkannya di atas meja, melakukan panggilan kepada Vincent dan mengatur panggilan tersebut menggunakan pengeras suara.
“Hallo nak.” Begitu panggilan itu tersambung, suara Vincent terdengar menyapa Alvero dengan nada hangat, membuat Eliana menarik nafas panjang dengan kepala sedikit mendongak karena menahan rasa tidak sukanya.
“Selamat sore yang mulia Vincent, ibu suri ingin berbicara dengan Anda saat ini. Apakah Anda tidak keberatan melakukan pembicaraan dengannya di ruang pertemuan keluarga istana ini?” alvero berkata sambil melirik ke arah Eliana yang sudah bersiap untuk mendekat ke arah handphone Alvero yang tergeletak di atas meja.
“Baiklah, berikan handphonenya kepadanya.” Mendengar jawaban dari Vincent, Alvero langsung mendekatkan handphonenya ke arah Eliana, sedang Desya begitu mendengar jawaban dari Vincent, langsung mendongakkan kepalanya, seolah menemukan harapan baru bahwa dia akan mendapatkan keringanan hukuman jika Vincent mengabulkan permintaan dari Eliana.
__ADS_1