BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SELALU MENDUKUNGMU


__ADS_3

"Terlalu banyak masalah yang terjadi. Bahkan kamu sebagai pengantinku, tidak bisa menikmati bulan madumu seperti yang seharusnya seperti pengantin baru pada umumnya." Selesai menghentikan kata-katanya, tangan kanan Alvero meraih tangan kanan Deanda, menggenggamnya dengan erat, lalu mengecupnya mesra dengan bibirnya.


"Menikah denganku membuatmu seperti masuk ke dalam kandang singa yang kelaparan. Tapi tenanglah, aku akan membuat keadaan segera membaik. Aku akan segera menyingkirkan para pemberontak dan pelaku kejahatan itu. Beri aku waktu agar aku bisa membuat segalanya..."


"Tenanglah, aku siap menghadapi apapun bersamamu. Aku akan selalu berada di pihakmu... Sekarang... kamu memiliki aku di sisimu. Jangan melakukan semuanya sendirian lagi. Kamu tidak akan pernah sendirian lagi." Deanda langsung memutus perkataan Alvero, dan dengan lembut Deanda membalas ciuman Alvero dengan mencium tangan Alvero yang masih menggenggam tangannya, lalu menempelkan tangan laki-laki itu di pipinya, merasakan kehangatan dari tangan Alvero yang membuatnya merasa damai walaupun Deanda tahu resiko besar yang akan dia hadapi sebagai istri dari raja Gracetian itu.


Tindakan Deanda itu sukses membuat dada Alvero berdebar keras karena rasa syukur dan bahagia yang tidak bisa lagi dia ungkapkan dengan kata-kata, membuatnya bergerak dengan cepat merengkuh tubuh Deanda dalam pelukannya dengan erat dan langsung menghujani Deanda dengan banyak kecupan di puncak kepala Deanda.


"Kamu adalah milikku yang paling berharga lebih dari apapun yang aku miliki. Bahkan aku bersedia melakukan apapun untuk membuatmu berada di sisiku selamanya...." Alvero berkata dengan tetap sibuk memberikan kecupan mesra kepada Deanda.


"Kamu sudah memilikiku untuk selamanya, tidak perlu lagi melakukan apapun untuk mengikatku." Deanda berkata sambil menyandarkan kepalanya ke dada Alvero sambil menyungingkan senyum di wajahnya, apalagi dengan menyandarkan kepalanya di dada Alvero, Deanda bisa mendengar detak jantung Alvero yang sedang berpacu karena kedekatan fisik mereka saat ini.


"Sebaiknya aku segera mandi jika tidak ingin terlambat mengikuti acara makan pagi bersama yang lain." Begitu mendengar perkataan Alvero yang Deanda tahu dikatakan oleh suaminya sambil laki-laki itu terlihat menelan ludahnya barusan karena berusaha menahan gairahnya, membuat Deanda langsung menjauhkan dirinya dari pelukan Alvero.


"Ah, ya, lebih baik begitu, aku akan menunggumu di sini." Deanda berkata sambil mendongakkan kepalanya ke arah wajah Alvero yang sudah berdiri di depannya.


"Baiklah. Eh..., jangan lupa hubungi Tuan Red, mungkin dia menemukan sesuatu selama beberapa hari ini kita tidak menghubunginya." Setelah menyelesaikan kata-katanya Alvero langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Dengan apa yang terjadi pagi ini Alvero tahu dia harus menyegarkan tubuh dan pikirannya dengan mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin sekaligus untuk meredam sesuatu yang karena hasratnya saat berada di dekat Deanda barusan, membuat sesuatu yang ada pada tubuhnya terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Satu hal penting yang harus dilakukan oleh Alvero sepanjang hari ini. Berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang dan tidak melakukan kegiatan yang membuat orang curiga dia sudah menemukan sesuatu, apalagi Alvero mendengar kabar, siang ini Eliana akan kembali ke istana.


Di bawah guyuran air dingin Alvero menahan nafasnya sambil menutup kedua matanya, dengan senyum tipis di bibirnya. Alvero tahu beberapa waktu ke depan apa yang sedang terjadi di sekitarnya akan menguras tenaga dan pikirannya, namun jika dia memikirkan bahwa saat ini dia telah memiliki Deanda di sisinya, membuat Alvero bisa bernafas dengan lega, menyadari kini dia memiliki seorang yang begitu dicintainya dan bersedia mendukungnya dengan sepenuh hati.


Tunggu saja sweety, kita berdua akan menjadikan negara Gracetian sebagai negara yang kuat, aman dan sejahtera. Jadi, tetaplah bersamaku, karena keberadaanmu selalu menguatkan aku.


Alvero berkata dalam hati sambil melebarkan senyum di bibirnya dengan pikirannya membayangkan sosok istrinya.


# # # # # # #


"Aku akan ikut bersama kalian. Sepertinya akan banyak orang yang ingin bergabung denganmu untuk berkuda hari ini, karena matahari tidak terlalu menyengat hari ini, suasana yang begitu mendukung untuk berkuda." Tira berkata kepada Alvero dan Deanda yang langsung tersenyum mendengar perkataan Tira.


"Daripada sibuk mengurusi bulan madu kami, lebih baik kamu menyibukkan dirimu dengan urusanmu sendiri." Alvero berkata ketus kepada Dion yang langsung meringis.


"Urusanku ada di dalam istana ini Kak. Tidak perlu mengajariku tentang apa yang ingin aku lakukan untuk mendapatkan keinginanku." Dion berkata sambil memandang ke arah Deanda yang berdiri di samping Alvero dan terlihat sedang tersenyum ke arah Tira yang tampak bercengkrama dengan para putri dan pangeran lain.


"Bagus kalau sekarang kamu memiliki impian daripada menjadi seseorang yang hanya bisa merepotkan orang lain." Alvero berkata sambil menarik lembut tangan Deanda mengajaknya untuk segera pergi ke tempat istal (kandang) kuda milik istana, agar tidak memberi kesempatan kepada Dion untuk menikmati pesona istrinya.


"Lebih baik kamu berangkat ke kantor sekarang kalau memang ingin melakukan sesuatu yang lebih berguna daripada mondar-mandir di istana tanpa melakukan sesuatu. Kamu sudah dewasa, jangan terus menerus bersikap kekanak-kanakan." Kali ini Alvero berkata dengan tulus, walaupun Dion merupakan adik tiri, namun bagaimanapun darah Adalvino tetap mengalir dalam tubuh Dion, yang artinya darah yang sama yang juga ada pada dirinya.

__ADS_1


Entah sejak kapan, kebaikan dan sikap perduli dari Deanda kepada orang lain mulai menular kepada Alvero yang biasanya tidak perduli dengan orang yang tidak dekat dengannya, apalagi Dion yang selama ini juga tidak pernah perduli bahkan cenderung selalu mencari cara untuk menjatuhkan ataupun menyakiti Alvero.


Sedang Dion sendiri jujur saja sampai detik ini tidak dapat menyembunyikan tatapan kagum, terpesonanya, bahkan tatapan cinta saat memilki kesempatan untuk melihat sosok Deanda di dekatnya. Sekeras apapun dia berusaha, bahkan mendengar seseorang menyebutkan nama Deanda, mampu membuat Dion kehilangan fokusnya dan matanya dengan cepat mencari sosok cantik itu di sekitarnya.


Rasanya masih sulit bagi Dion untuk melepaskan pesona Deanda dari pikirannya. Dan keinginan untuk memiliki Deanda masih saja begitu besar dalam diri Dion.


Dengan banyaknya wanita cantik yang ada di sekitar Dion selama ini, Dion sudah membuat hidupnya memiliki hubungan bebas dengan para wanita tersebut. Namun, sejak kehadiran Deanda yang begitu menarik perhatiannya, membuatnya tidak lagi tertarik dengan wanita lain, walaupun Dion sadar bahwa Deanda saat ini sudah menjadi istri dari Alvero yang merupakan raja Gracetian. Bahkan para artis cantik yang siap dan rela menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan salah satu pangeran Adalvino itu tidak lagi membuat Dion berpaling kepada mereka.


Hah! Sial! Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Deanda kepadaku? Bahkan dia tidak pernah bersikap ramah kepadaku. Tapi kenapa aku begitu perduli dan tertarik padanya? Aku benar-benar sudah gila karena Deanda, bahkan dalam angan-angan aku tidak ingin melepaskan pandangan mataku dari sosoknya.


Dion memaki dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak memikirkan dan menginginkan Deanda.


"Kami akan pergi dulu, kita bertemu di istal kuda." Alvero berkata kepada yang lain sambil menggandeng erat tangan Deanda dan mengajaknya untuk kembali ke kamar, mengganti pakaian mereka dengan pakaian berkuda yang sudah dipersiapkan oleh para pelayan di kamar Alvero.


Dion hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam dengan pandangan matanya masih menatap ke arah Alvero dan Deanda yang sudah berjalan meninggalkan ruang makan istana.


 


 

__ADS_1


__ADS_2