
Melihat Deanda menyodorkan saputangan milik Alvero ke arahnya, Ernest hanya memandanginya sekilas tanpa berani mengambilnya, sehingga dengan gerakan cepat Deanda meraih tangan Ernest, dan meletakkan sapu tangan itu di telapak tangannya. Tindakan Deanda sukses membuat Alvero terbeliak kaget, begitu juga Ernest yang bahkan sampai tubuhnya terhuyung ke samping melihat perbuatan Deanda kepadanya. Ernest berusaha menghindari sentuhan tangan Deanda sehingga menggerakkan tubuhnya ke samping, sedangkan tenaganya belum pulih, sehingga hampir saja Ernest terjatuh jika saja tangannya tidak segera memegang pagar pembatas buritan dengan erat.
Matilah aku! Perbuatan permaisuri Deanda justru akan membuat yang mulia Alvero memberiku hukuman lebih berat. Jangankan menyentuh tangan permaisuri Deanda, terlalu lama menatap permaisuri saja sudah pasti akan membuat wajah yang mulia Alvero yang begitu posesif terhadap permaisuri terlihat emosi. Saat ini aku hanya bisa berharap yang mulia mengampuniku atau aku akan akan pulang tinggal nama saja karena kejadian hari ini.
Ernest berkata dalam hati dengan matanya menatap ragu ke arah Alvero yang tampak menghela nafasnya. Kalau saja kejadian ini terjadi pada saat kondisi Ernest baik-baik saja, Alvero tidak segan-segan pasti akan menghajar Ernest habis-habisan karena berani menyentuh tangan Deanda, walaupun Alvero tahu itu bukan keinginan dari Ernest. Tapi baginya melihat ada laki-laki yang bersentuhan dengan Deanda membuat Alvero merasa dadanya hampir meledak karena emosi.
Haist… pantas saja nyonya Rose mengingatkanku dengan keras masalah Alaya. Bagaimana mungkin dengan tega aku menyakiti perasaan Deanda karena masalah Alaya. Sedangkan aku melihat Deanda memberikan perhatian kepada Ernest yang sedang mabuk saja, sudah hampir membuatku kehilangan kendali untuk tidak menghajar Ernest.
Alvero berkata dalam hati sambil melirik ke arah Deanda, merasa lega dia tidak jadi melaksanakan rencananya terhadap Alaya karena peringatan dari nyonya Rose.
“Pakailah Ernest, bersihkan bibirmu dengan saputangan itu.” Akhirnya Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda yang wajahnya masih menunjukkan sikap khawatir terhadap kondisi Ernest.
Setelah Deanda melihat Ernest mulai membersihkan bibirnya dengan saputangan yang diberikannya, dengan cepat Deanda melakukan panggilan kepada Abella.
__ADS_1
“Abella, tolong kirimkan sebotol air mineral kepadaku. Aku sedang berada di buritan kapal. Tolong secepatnya ya.” Begitu Abella mengangkat panggilan teleponnya, Deanda langsung meminta tolong agar dia mengambilkan sebotol air mineral untuk Ernest yang terlihat lemas.
Abella yang dalam hitungan menit sudah datang sambil membawa sebotol air mineral di tangannya, langsung mendekat ke arah Deanda.
“Berikan kepada Ernest.” Mendengar perkataan Deanda, Abella segera menyodorkan air mineral tersebut setelah membuka tutupnya.
Setelah Ernest meneguk air mineral itu dengan tubuh sedikit terhuyung, Ernest berusaha mendekati salah satu kursi kosong yang ada di dek kapal itu. Melihat kondisi Ernest, dengan sigap Alvero meraih lengan Ernest dan membantunya berjalan mendekat ke arah kursi itu.
“Terimakasih… Yang Mulia.” Ernest berkata dengan suara lemah dan pelan dengan posisi duduk di kursi, sedang Alvero, Deanda dan Abella berdiri mengelilinginya.
(Teknik pernafasan dalam secara alami akan menenangkan kondisi seseorang dari gejala mabuk perjalanan. Caranya dengan menutup mulut dan ambil nafas dalam-dalam melalui hidung. Isi paru-paru dalam empat hitungan. Kemudian tahan nafas selama tujuh hitungan. Setelah itu, hembuskan nafas keluar melalui mulut selama delapan hitungan. Ulangi Teknik pernafasan ini sebanyak tiga kali. Sedangkan acupressure bisa dilakukan dengan meletakkan 3 jari tangan di bawah lipatan pergelangan tangan. Letakkan ibu jari tepat di bawah ketiga jari tersebut, di tengah-tengahnya, tepat di antara dua otot tandon besar. Dengan ibu jari, berikan tekanan pada tempat tersebut dan tahan selama beberapa waktu. Lakukan hal seperti itu berulang-ulang sampai merasa tenang. Ini adalah titik acupressure untuk mual dan bagi Sebagian orang, car aini terbukati ampuh untuk mengurangi gejala yang berhubungan dengan mabuk perjalanan).
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Ernest berusaha berkonsentrasi saat Deanda mengajarkannya bagaimana melakukan teknik pernafasan dalam. Dan begitu merasakan bahwa rasa mual dari dalam perutnya sudah berkurang walaupun belum hilang sama sekali, Ernest langsung menyunggingkan sebuah senyum tipis, perasaannya langsung terasa membaik begitu merasakan tubuhnya sudah mulai bisa mengatasi mabuk lautnya. Pemandangan di depannya membuat Deanda tersenyum lega, melihat kondisi Ernest yang sudah mulai membaik.
__ADS_1
“Ok Ernest, biarkan aku membantumu dengan acupressure supaya kondisimu bisa segera kembali normal. Berikan tanganmu padaku. Aku akan membuatmu jauh lebih baik lagi.” Mendengar perintah dari Deanda untuk Ernest, Alvero langsung melotot dan berjalan mendekat ke arah Ernest, dan dengan cepat Alvero meraih tangan Ernest dan memegangnya dengan erat, agar tangan Deanda tidak bersentuhan lagi dengan tangan Ernest.
“Biar aku yang melakukannya untuk Ernest!” Alvero langsung berkata dengan nada memerintah.
“Yang Mulia Alvero…” Dengan suara ragu Ernest menyebutkan nama Alvero, karena bagaimanapun dia merasa canggung, bagaimana mungkin dia membiarkan seorang raja Gracetian melakukan hal seperti itu untuknya, walaupun jika saja Deanda sebagai permaisuri melakukannya, dia juga akan menolak mentah-mentah karena merasa itu adalah tindakan yang tidak sopan baginya.
“Apa Yang Mulia yakin mau melakukannya? Apa Yang Mulia memang mengerti teknik acupressure dengan baik?” Deanda berkata dengan nada terdengar meragukan apa yang akan dilakukan oleh Alvero, membuat bibir Alvero mengeluarkan suara decihan.
“Haist, jangan lupa prinsipku sweety, tidak ada yang tidak bisa dipelajari di dalam dunia ini selama kita mau belajar. Tenang saja Ernest, aku yang akan membantumu agar cepat pulih. Aku juga tidak mau mengajakmu ke tempat ini dengan sia-sia. Kamu bertugas mengawal kami berdua. Bagaimana bisa kamu melakukan tugas dan kewajibanmu dengan baik dengan wajah seperti mayat hidup karena mabuk laut.” Alvero berkata sambil memandang ke arah Ernest dengan tatapan tajam, berharap Ernest mengerti dia sengaja melakukan itu agar bukan Deanda yang melakukannya, dan tidak coba-coba untuk menolaknya.
“Tidak apa-apa permaisuri, saya yakin yang mulia akan belajar dengan cepat untuk itu.” Dengan berusaha menekan nada ragu dalam perkataannya, Ernest langsung berusaha untuk meyakinkan Deanda agar membiarkan Alvero melakukan itu untuknya
Setelah Alvero yakin Ernest mengerti apa kemauannya, mata hazel Alvero melirik ke arah Deanda yang sedang menatap tangan Alvero yang sedang memegang tangan Ernest.
__ADS_1
Lagipula siapa yang akan rela membiarkan tanganmu disentuh oleh laki-laki lain. Coba saja melakukan itu dan aku akan langsung menjebloskan laki-laki itu ke penjara atau menyiksanya tanpa ampun.
Alvero berkata dalam hati sambil berdesis pelan, membuat Abella yang sempat mengamati apa yang dilakukan oleh Alvero menahan senyum gelinya, melihat bagaimana raja Gracetian itu begitu over protektif terhadap Deanda. Sedang Deanda sendiri, yang sedang berkonsentrasi terhadap kondisi Ernest tidak menyadari kalau pemilik mata hazel itu menunjukkan kilatan cemburu di matanya.