BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENGAMATI PERGERAKAN ELIANA


__ADS_3

Begitu Alvero dan Deanda menyelesaikan mandi mereka yang cukup lama, Alvero yang berdiri di samping Deanda sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dengan matanya mengawasi Deanda merapikan rambut di depan kaca mendesah pelan. Dan desahan Alvero membuat Deanda langsung menoleh ke arah suaminya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa mendesah seperti itu?" Mendengar pertanyaan Deanda yang sedang menggerakkan tangannya untuk mengikat bagian atas rambutnya dan membiarkan sebagian rambutnya yang lain tergerai, Alvero menjauhkan punggungnya dari dinding ruang walk in closet tersebut, berjalan mendekat kea rah Deanda.


"Tidak... hanya merasa sedikit menyesal, kenapa takdir mempertemukan kita terlalu lama. Jika saja kita bertemu tiga atau empat tahun lalu, mungkin kita sudah memiliki satu atau dua anak." Deanda langsung tertawa geli mendengar perkataan Alvero.


"Ada-ada saja. Tiga atau empat tahun lalu aku masih menyelesaikan kuliahku, mana mungkin kita menikah secepat itu?" Deanda menjawab keluhan Alvero sambil meletakkan kembali sisir ke atas meja.


"Memang siapa yang bisa menolak keinginan dari putra mahkota Gracetian? Walaupun kita bertemu saat kamu masih berusia 18 tahun, aku pastikan, aku akan tetap mengajakmu menikah. Apalagi kalau aku tahu ternyata bisa menikah denganmu adalah hadiah terbaik dari surga untukku." Begitu Alvero menyelesaikan kata-katanya, dengan cepat Alvero menarik pergelangan tangan Deanda, mengajaknya keluar dari walk in closet, berjalan menuju sofa ruang tamu yang ada di kamar presidential suit room itu.


Mata Deanda sedikit terbeliak melihat sajian masakan mewah yang sudah siap mereka santap pagi itu. Hampir semua jenis daging, ikan dan seafood ada di sana.


"Eh, kenapa makan pagi kita hari ini terlihat begitu mewah? Seperti sajian dalam sebuah pesta besar kerajaan saja?" Deanda bertanya dengan mata menatap heran sekaligus lapar ke arah makanan-makanan itu.


"Setelah kegiatan yang menghabiskan banyak energi, sudah seharusnya kita mengkonsumsi banyak protein untuk memulihkan tenaga kita." Jawaban Alvero yang terdengar santai namun dengan sengaja diucapkannya untuk membuat Deanda teringat malam panas mereka berhasil menjadikan wajah Deanda seperti lobster rebus yang saat ini juga disajikan di meja itu.


"Tidak perlu sebanyak itu juga makanan yang kita butuhkan." Sambil menanggapi perkataan Alvero, Deanda mengambil posisi duduk di sofa, bersiap untuk menikmati makan pagi berdua bersama suaminya.


Tepat setelah Deanda mengakhiri perkataannya, Alvero dengan jelas mendengar suara gemuruh dari arah perut Deanda yang membuatnya langsung tertawa geli, dan membuat Deanda tersenyum dengan wajah malu. Pasrah dengan apa yang terjadi, karena pagi ini dia benar-benar merasa begitu lapar.

__ADS_1


"Tuh kan, perutmu saja sudah mengeluarkan protes begitu keras, minta asupan gizi lebih pagi ini. Nikmati saja sepuasnya semua sajian pagi ini. Jika masih kurang, kita bisa meminta pihak hotel untuk kembali membuatnya." Alvero berkata dengan tangannya sibuk memindahkan beberapa jenis masakan yang ada di depannya ke dalam piringnya, meninggalkan mata Deanda yang terbeliak karena kata-kata Alvero.


Ada-ada saja perkataan yang mulia. Sebanyak ini, mana mungkin kita berdua sanggup untuk menghabiskannya.


Deanda berkata dalam hati sambil tangannya menyusul Alvero untuk mulai memindahkan makanan dari piring saji ke piringnya.


"Makanlah yang banyak. Bukan hanya aku, kamu juga memerlukan makan banyak protein untuk memulihkan tenagamu, agar tidak perlu memakan waktu lama, untuk kita mengulang apa yang sudah kita lalukan semalam." Mendengar perkataan Alvero, sukses membuat mata Deanda terbeliak kaget, sedang Alvero yang melihat reaksi dari Deanda hanya tersenyum manis sambil mengerakkan kedua bahunya dengan wajah menggodanya.


# # # # # # #


"Selamat pagi Yang Mulia, Permaisuri." Begitu melihat sosok Alvero dan Deanda keluar dari kamar mereka, Ernest langsung mengucapkan selamat pagi dengan memberikan salam penghormatan kepada Alvero dan Deanda.


"Mobil sudah siap. Apakah kita pergi sekarang, atau ada sesuatu yang harus diselesaikan sebelum kita pergi Yang Mulia?" Mendengar pertanyaan Ernest, Alvero melirik ke arah pintu kamar Enzo.


"Iya Yang Mulia, sekitar 1 jam yang lalu pangeran Enzo meninggalkan kamarnya. Tadi sempat menyapa saya dan menanyakan apakah Yang Mulia sudah keluar dari kamar Yang Mulia." Ernest menjawab pertanyaan Alvero dengan cepat.


Istt... dasar Enzo, apa kamu mau mencari info tentang berhasil atau tidaknya rencanamu semalam? Hari ini aku pastikan kamu tidak akan bisa lagi tertawa setelah aku membalasmu.


Alvero berkata dalam hati sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat sekarang. Atur agar tidak ada pengawal yang mengikuti kita. Aku tidak mau kedatanganku terlihat mencolok." Alvero berkata sambil berjalan meninggalkan pintu kamar hotelnya, diikuti oleh Deada yang berjalan di sampingnya kanananya, Ernest di samping kiri selangkah di belakang Alvero.


"Baik Yang Mulia." Ernest berkata sambil menyalakan earpiece di telinganya.


Begitu Alvero dan Deanda masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke rumah Marcello, Ernest segera bersiap di posisi pengemudi, dan mulai menginjak gas dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Ernest, apa ada pergerakan yang mencurigakan dari istana?" Alvero berkata pelan sambil sedikit menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti perjalanan mereka.


"Ada sesuatu yang mencurigakan Yang Mulia, hanya saja sebelumnya saya ingin memberitahukan info bahwa kemarin malam tiba-tiba ibu suri Eliana berangkat kembali ke kota Renhill, namun saya dengar pagi ini dia sudah kembali ke istana. Menurut info dari Erich, kemarin malam duke Evan melarang ibu suri Eliana menemui yang mulia Vincent." Mendengar penjelasan dari Ernest, Alvero mengernyitkan dahinya.


"Apa Erich mengatakan alasan dari duke Evan melarang Eliana menemui papa?" Pertanyaan Alvero membuat Ernest langsung menganggukkan kepalanya.


"Menurut Erich, dokter dari Italia yang meminta agar yang mulia Vincent menjalani proses karantina untuk beberapa waktu ini agar dokter bisa memeriksa darah yang mulia Vincent tanpa campur tangan orang lain. Kemarin malam sebelum ibu suri Eliana datang kesana, duke Evan menemukan rekaman mencurigakan pada saat kunjungan terakhir ibu suri ke rumah sakit menjenguk yang mulia Vincent sebelum dipindahkan ke villa. Beberapa waktu lalu sebelum yang mulia Vincent dipindahkan ke villa keluarga pangeran Enzo... saat ibu suri mengunjungi kamar tempat yang mulia Vincent dirawat, menurut pengamatan duke Evan, ibu suri Eliana sempat memberikan teh hangat kepada yang mulia Vincent." Ernest menghentikan perkataannya sebentar sambil menarik nafas panjang sebelum melanjutkan bicaranya.


"Dan dari laporan dokter yang menangani, yang mulia Vincent malam itu tidurnya terlalu lelap. Seperti orang yang diberi obat tidur. Karena itu dokter curiga ibu suri Eliana akan memberikan yang lain, maka beliau meminta ijin kepada duke Evan untuk melakukan karantina. Bekas teh yang diminum oleh yang mulia Vincent menghilang karena sebelum pergi ibu suri terlihat membawa gelas bekas teh itu ke kamar mandi. Kecurigaan dari duke Evan, ibu suri sengaja membuang sisa teh dan membersihkan bekas yang tertinggal pada gelas." Baik Deanda maupun Alvero sedikit tersentak mendengar perkataan Ernest.


"Benar-benar wanita ular yang licik....!" Alvero menggeram dengan wajah kesal.


"Untung saja duke Evan bergerak cepat. Beritahukan kepada duke Evan, untuk sementara ini dia harus memperketat penjagaan di villa keluarga pangeran Enzo. Pastikan tidak ada penyusup diantara para penjaga itu." Alvero berkata sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia. Sementara info dari Alea mengatakan bahwa ada beberapa pelayan baru yang kemarin tiba-tiba menggantikan para pelayan lama. Dan beberapa diantaranya adalah pelayan yang bertugas melayani permaisuri." Mendengar perkataan Ernest, Alvero langsung menahan nafasnya.


"Aku akan menghubungi nyonya Rose, untuk memilih sendiri pelayan yang harus melayani permaisuri. Sekarang kita harus segera ke rumah uncle Marcello untuk bertemu Red di sana." Ernest langsung mengangguk begitu mendengar perkataan Alvero, dan mulai menambah kecepatan mobil yang dikendarainya.


__ADS_2