
Sudah sejak lama sebenarnya Enzo juga merasa begitu penasaran dengan peristiwa 15 tahun itu. Tapi dia tidak pernah berani mengorek keterangan tentang peristiwa itu karena takut jika itu memperparah kondisi Alvero yang tidak bisa besentuhan dengan wanita dan mengalami insomnia berat.
Dan tentu saja, sampai saat ini, Enzo hanya tahu bahwa Deanda tidak menimbulkan efek alergi kepada Alvero. Sedang kemampuan Deanda untuk menyembuhkan Alvero saat terkena serangan alergi, dan bagaimana keberadaan Deanda di sisi Alvero bisa menghilangkan mimpi buruk Alvero, Enzo belum mengetahuinya sama sekali.
"Ah, memang sejak peristiwa itu, papa sengaja tidak pernah membahasnya di depanmu nak. Karena Papa tahu, peristiwa itu membawa dampak yang luar biasa padamu. Mungkin kamu tidak ingat bahwa setelah kejadian itu bahkan kamu sempat mogok bicara selama 1 bulan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirmu. Kamu hanya sibuk bermain sendiri di pojokan ruangan tanpa mau bertemu dengan siapapun, apalagi berbicara. Kamu membuatku begitu mengkhawatirkan keadaanmu." Mendengar penjelasan Vincent, tubuh Deanda sedikit tersentak karena kaget, tidak menyangka bahwa Alvero akan mengalami masa-masa sulit seperti itu setelah peristiwa penculikan waktu itu.
Tanpa sadar, tangan Deanda yang berada di bawah meja bergerak cepat meraih tangan Alvero dan menggenggamnya dengan erat, seolah ingin memberi kekuatan kepada laki-laki tercintanya itu, agar pembicaraan tentang peristiwa itu tidak lagi menyakitinya.
Menyadari adanya sentuhan dari tangan Deanda, Alvero sedikit melirik ke arah Deanda, memberi tanda kepada Deanda melalui gerakan bola matanya, bahwa dia akan baik-baik saja mendengar semua cerita itu. Dan justru dia semakin ingin mendengar detail tentang peristiwa itu setelah mengetahui Deanda yang sudah menyelamatkannya.
Saat ini aku sudah memilikimu sweety. Itu lebih dari cukup bagiku. Tidak adalagi yang perlu aku takutkan dan aku khawatirkan. Karena aku tahu, selama ada kamu di sisiku, aku akan selalu baik-baik saja. Kamu adalah sumber kekuatan, inspirasi dan cintaku. Kamu adalah segalanya bagiku.
Alvero berkata dalam hati sambil melemparkan senyum ke arah Deanda.
__ADS_1
"Aku sudah tidak ingat lagi tentang itu Pa. Mungkin karena saat itu aku masih terlalu muda dan kondisiku masih begitu ketakutan, emosiku sebagai seorang anak mungkin masih labil. Tapi sekarang aku ingin mendengar cerita tentang kejadian hari itu. Sudah waktunya aku mendengar tentang kejadian hari itu dengan detail dan tidak lagi berada dalam bayang-bayang ketakutan karena periwtiwa itu." Mendengar perkataan Alvero, Vincent langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hari dimana kamu diculik, kami menemukan petunjuk lokasi terakhirmu yang ternyata berada di kota Renhill. Pada waktu itu, baik Alexis maupun Marcello yang sebenarnya sudah keluar dari tim pasukan ekslusif kerajaan tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam proses pencarianmu. Namun, lagi-lagi karena keegoisan papa. Saat itu papa meminta Alexis dan Marcello untuk kembali mengenakan atribut pasukan eksklusif kerajaan untuk membantu menemukanmu. Saat itu papa meminta hanya sampai mereka menemukanmu, karena papa tahu, tidak ada yang sebaik Alexis dalam menyelesaikan kasus di dalam anggota pasukan eksklusif kerajaan." Vincent menarik nafas panjang sebelum meneruskan kata-katanya.
Ingatan tentang sosok Alexis selalu saja membuat Vincent teringat bagaimana setianya sahabatnya itu terhadap keluarga Adalvino. Dan ingatan tentang Alexis jujur saja membuat Vincent merindukan sosok pengawal sekaligus sahabatnya itu.
"Saat itu papa memaksa Alexis dan Marcello melakukan itu, karena saat dalam keadaan panik setelah kamu menghilang, papa mendengar kabar bahwa Alexis dan Marcello sedang berkunjung ke rumah saudaranya yang ada di Renhill. Jadi papa memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta kepada mereka berdua agar membantuku menemukanmu." Vincent kembali menyambung perkataannya.
"Setelah peristiwa itu, Alexis bersikeras untuk kembali melepaskan atribut pengawal ekslusif kerajaan kembali. Sampai di hari pemberontakan yang menyebabkan kematian Alexis karena bertarung dengan pimpinan pemberontak. Memang Deanda dan kamu tidak pernah lagi bertemu setelah peristiwa itu, karena Alexis sudah tidak bekerja di istana. Setelah kejadian penculikan itu aku sengaja memperketat penjagaan terhadapmu. Juga membatasi orang-orang yang bertemu denganmu agar kamu tetap aman." Mendengar perkataan Vincent membuat Alvero menganggukkan kepalanya perlahan.
Walaupun di masa sebelumnya Alvero sempat salah paham dengan apa yang dilakukan oleh Vincent, tapi setelah mereka melakukan rekonsiliasi beberapa waktu lalu, Alvero bisa merasakan bagaimana Vincent melakukan semua hal itu untuk melindunginya.
Karena ketatnya penjagaan dan aturan dari Vincent terhadap kondisi di sekeliling Alvero itu juga yang menyebabkan Alvero boleh dikata tidak memiliki teman dekat selain para anggota keluarga kerajaan yang tinggal dalam istana bersamanya. Itupun hanya Enzo yang pada akhirnya bisa mendekati Alvero dan menjadi saudara sekaligus sahabatnya.
__ADS_1
Sebagai seorang putra mahkota kala itu, Alvero tahu bahwa dia tidak pandai bergaul dan bersosialisasi dnegan orang lain. Hal itu membuat Alvero bersikeras untuk dapat melanjutkan pendidikan sarjananya di luar negeri, agar dia bisa memperluas hubungan sosialnya. Saat itu pilihan Alvero jatuh pada negara Italia.
Dan keputusan Alvero untuk belajar di Italia merupakan keputusan yang tepat, karena di sana dia bisa bertemu dengan Ornado Xanderson yang akhirnya menjadi sahabat karibnya. Sahabat yang selalu ada bersamanya dalam suka dan duka.
Bahkan sampai detik ini, jika seseorang menanyakan kepadanya siapa teman terdekatnya, tanpa ragu Alvero akan menyebutkan nama Ornado Xanderson. Selama mereka sama-sama kuliah di Italia, Ornado dan Alvero bahkan sudah seperti saudara kembar yang sulit untuk dipisahkan. Dimana ada Alvero di sana pasti juga ada Ornado. Di samping itu, Enzo pun menjadi orang yang cukup dekat dengan Ornado walaupun tidak sedekat hubungan antara Alvero dan Ornado.
"Ah, seharusnya sedari awal aku menanyakan langsung kepada Papa tentang penyelamatku hari itu. Aku terlalu bodoh sehingga tidak terpikirkan untuk langsung menanyakan hal itu kepada papa." Alvero berkata sambil matanya memandang ke arah Deanda dengan tatapan penuh cintanya, membuat Vincent dan Enzo langsung tersenyum.
“Andai saja aku mengetahui tentang kebenaran ini sejak awal, mungkin aku tidak perlu menunggu sampai usiaku hampir mencapai 27 tahun. Aku akan dengan segera menemuimu dan membawamu ke hadapan papa Vincent untuk segera melamarmu, tanpa harus membuatku harus terkenea banyak gossip karena seringnya berganti-ganti pasangan.” Alvero berkata sambil tangannya yang sedang menggenggam tangan Deanda dia naikkan ke atas meja, dan tanpa diduga oleh Deanda, Alvero mengecup pipi Deanda tanpa ragu di depan Vincent dan Enzo yang langsung membeliakkan matanya, sedang Deanda sendiri, wajahnya langsung memerah dan menundukkan wajahnya karena malu.
__ADS_1